BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. PROFIL
Info Banyuwangi

Rasuki seniman instalasi bambu asal Banyuwangi

Saat membuat bangunan bambu, dia selalu mencari ide kreatif yang lebih punya nilai seni dan tradisional.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 31 Oktober 2016 10:14
Rasuki dan instalasi bambu hasil karyanya

Merdeka.com, Banyuwangi - Rasuki (52) warga asal Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi memang bukan lulusan arsitektur dari perguruan tinggi manapun. Namun pria ini adalah sosok di balik keindahan konstruksi bangunan berbahan bambu seperti balai bengong, gazebo, musola, sampai rumah panggung di wisata Pantai Bangsring Under Water, Pantai Grand Watu Dodol dan Pantai Cemara Banyuwangi.

Sejak tahun 1985, Rasuki sudah bergelut dengan bambu. Saat itu dia sudah blusukan mencari bambu di hutan-hutan. “Namun saat itu masih dijual lonjoran (baru ditebang) ke pasar saja.  Masih belum dijual dalam bentuk kerajianan,” jelasnya.

Baru pada tahun 1992, Rasuki mulai menekuni kerajinan dari bahan bambu untuk meningkatkan nilai jual. Mulai dari membuat gubuk, kursi, perabotan dapur. Ide kreatif Rasuki dalam desain arsitektur bangunan bambu, yang dia pelajari secara otodidak ternyata menjadi perhatian publik.
 

Atap menggunakan bambu yang sudah dianyam
© 2016 merdeka.com/Mohammad Ulil Albab

Hasilnya sejak tahun 2007, ia sering diminta untuk mempercantik arsitektur rumah pribadi, restoran sampai destinasi wisata. “Sebelum buat untuk wisata di Banyuwangi, saya sudah buat bangunan bambu untuk restoran-restoran di Medewi, Bali sama di Batam dan kemudian di Johor Baru, Malaysia, buat untuk rumah pribadi,” ujarnya kepada Merdeka Banyuwangi.

Saat ditemui, Rasuki sedang sibuk membuat bangunan bambu seperti musola dan rumah penangkaran penyu di Pulau Santen, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi. Untuk membuat satu buah musola berukuran kurang lebih 3x5 hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 hari. “Saya punya 10 karyawan, cuma yang saya ajak ke sini dua orang saja. Cepat buatnya, lebih banyak saya kerjakan sendiri. Musola itu kurang dari sepuluh hari sudah jadi seperti itu,” jelasnya.

Ciri khas bangunan bambu karya Rasuki, yakni menggunakan pengikat dari Ijuk (bagian lapisan pohon aren). Sedangkan atapnya menggunakan daun alang-alang, bambu, daun kelapa dan ijuk sendiri. Menurutnya model bangunan bambu seperti itu sudah menjadi ciri khas konstruksi rumah masyarakat Banyuwangi tempo dulu. “Daerah Alas Bulu, Selo Giri sampai sekarang ada yang masih pakai alang-alang. Kalau atap dari bambu sendiri terakhir lihat tahun 1980an,” ujarnya.

Saat membuat bangunan bambu, dia selalu mencari ide kreatif yang lebih punya nilai seni dan tradisional. Pertimbangan keamanan dan kekuatan bangunan juga dia pelajari. Seperti bangunan bambu di pinggir pantai tidak boleh terlalu tinggi agar tidak banyak terhempas angin. Bagian kuda-kuda juga tidak boleh ditutup agar angin bisar masuk dan keluar.

Balai bengong beratapkan daun alang-alang
© 2016 merdeka.com/Mohammad Ulil Albab

“Ini pondasi bambunya dicor juga biar awet. Kemudian kalau pakai tali ijuk ini juga lebih kuat, seratnya kuat ini,” ujarnya sambil menjelaskan bagian bangunan.

Bila ingin memesan, Rasuki mematok harga di kisaran Rp 2,5-3,5 juta untuk bangunan bambu balai bengong dengan ukuran 3x3 meter. Sedangkan untuk gazebo dengan ukuran 2x2 dipatok harga antara  Rp 1,5–2 juta. “itu tergantung nilai kerumitannya juga. Kalau idenya dari saya agak mahal. Tapi misalkan bawa sendiri desain gambar bangunannya, bisa lebih murah,” katanya.

Selama ini, Rasuki mengaku belajar mandiri secara otodidak. Menurutnya rasa suka dan rasa ingin tahu yang tinggi untuk belajar dalam pekerjaan menjadi kunci dirinya semakin berkembang. “Saya tidak pernah belajar kepada siapapun. Soalnya dari dulu kerjanya hanya di bambu, tidak ada lagi,” kata dia.

(ff/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI