BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. PROFIL
Info Banyuwangi

Suhartono, pematung Banyuwangi yang bikin monumen Kesaktian Pancasila

Saat itu, kata Suhartono ada 10 orang seniman yang mengerjakan proyekan pembangunan monumen Kesaktian Pancasila.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 13 Desember 2016 14:47
Suhartono berdiri di sebelah patung penari gandrung buatannya yang terbuat dari bahan polyster resin

Merdeka.com, Banyuwangi - Suhartono salah satu seniman pematung yang membuat monumen Kesaktian Pancasila merupakan orang kelahiran Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Saat ini dia tinggal di Jakarta Selatan dan tetap produktif membuat patung.

Pria kelahiran 1943 ini menekuni seni patung sejak menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Republik Indonesia, Yogyakarta, yang sekarang sudah menjadi kampus Institut Seni Indonesia. Saat mahasiswa di tahun 1960-an, Suhartono sudah mendapat kesempatan dari Presiden Soekarno untuk membuat karya diorama museum nasional di Tugu Monas, Jakarta selama tiga bulan di tahun 1965.

"Zaman Bung Karno dulu ikut, satu tim 10 orang untuk monumen nasional membuat karya diorama yang ada di Monas tahun 1965. Saya waktu itu diundang Bung Karno bikin diorama selama tiga bulan dan menghasilkan beberapa dan disetujui," ujar Suhartono saat mengikuti pameran seni lukis, foto dan patung di Gedung Wanita Paramhita Kencana, Banyuwangi pekan lalu.
 
Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 meletus, Suhartono kemudian kembali diundang untuk membuat monumen Kesaktian Pancasila. Sekaligus melanjutkan diorama yang ada di Monas. Namun kali ini berlangsung selama satu tahun.

"Kemudian tahun 1966 mulai dilaksanakan lagi, itu setahun penuh. Pada saat tahun 65 membuat paket untuk monumen pancasila sakti. Kalau malam membuat monumen, siangnya mengerjakan diorama di Monas," ujar pria berusia 73 tahun itu.

Selama menerima proyek monumen Lubang Buaya, Suhartono akhirnya cuti dari kuliah selama setahun. Dia haru lulus dari Akademi Seni Rupa pada 1968. Saat itu, kata Suhartono ada 10 orang seniman yang mengerjakan. "10 orang itu ada pelukis, seniman grafis, pematung. Pematungnya saat itu ada empat orang, saya lalu Mujiman KS, Heriyana Iskandar, Sukenda, dosen Saptoko. Pelukisnya itu, Pramono, Mateus, Sandjoyo," kenangnya.

Saat pulang ke kampung halamannya tahun 1973 Suhartono memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Selama ini, dia sudah menghasilkan patung-patung yang menjadi penanda kesadaran sejarah. Seperti monumen Soeharto di tempat kelahirannya di Kemusuk, Yogyakarta, merupakan hasil karyanya. "Buat monumen  Soeharto di tempat kelahiran tahun 2001," kata Suhartono.

Tidak hanya itu, dia juga telah membuat patung Lembuswana di Kalimantan Timur, yang berada di tengah pulau setinggi 13 meter. Walau tak muda lagi, Suhartono tetap aktif membuat karya seni patung, salah satunya menyelesaikan Patung Profesor Joko Sutono setinggi 2,5 meter. "Nanti akan dipasang di Perguruan Tinggi Hukum Militer di Jakarta," ujarnya.

(ff/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI