BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. PROFIL
profil

Tessy Kabul, marinir yang terdampar di panggung ludruk

Pada 1961, Kabul resmi sebagai anggota KKO Angkatan Laut, kalau sekarang namanya marinir dan ikut dalam operasi pembebasan Irian Barat.

Oleh: Mohammad Taufik 11 Maret 2016 16:33
Tessy Kabul

Merdeka.com, Banyuwangi - Para penikmat panggung Sri Mulat mengenalnya sebagai Tessy. Padahal nama sebenarnya pria kemayu kelahiran Banyuwangi, 31 Desember 1947, ini Kabul Basuki. Sementara Tessy cuma nama panggung yang berasal dari nama putri sulungnya sendiri, Tessy Wahyuni Riwayati Hartatik.

Kisah hidup Tessy memang berliku. Tahun 1960, remaja Kabul Basuki merantau, tanpa memberi tau pada Ibunya dengan niatan bergabung dengan militer. Pada 1961, Kabul resmi sebagai anggota KKO Angkatan Laut, kalau sekarang namanya marinir dan ikut dalam operasi pembebasan Irian Barat pada 1961-1963.

Selepas berdinas di Irian Barat pada 1963, Kabul memilih keluar dari tentara karena ibunya tidak menghendaki ia jadi tentara. Ibunya trauma kehilangan Ayahnya karena perang. Selepas itu Kabul memilih bergabung dengan seni panggung hiburan rakyat (ludruk) di Surabaya. Karir di dunia ludruk lalu menyeretnya hingga panggung hiburan Srimulat Surabaya pada 1979.

Saat bergabung bersama Srimulat itulah Kabul mulai tampil sebagai wanita dengan nama Tessy. Gaya ini dimulainya ketika berperan sebagai hansip dengan gaya gemulai. Sejak itu, ia terus berperan sebagai banci. Ciri khasnya dandanan menor dengan akik besar melingkar di jari-jarinya.

Waktu itu, Tessy sering memplesetkan sendiri namanya menjadi Tessy Ratnasari, Tessy Kaunang, Tessy Lupita Jones, Tessy van lontong dan sebagainya. Menjadi tokoh banci juga atas inisiatif sendiri. Dia seakan tidak peduli meskipun penampilannya dicibir. Yang penting bagi dia, peran itu membawa suatu keberkahan bagi keluarga.

Keaktifannya di dunia hiburan mulai menurun ketika ia mendapat teguran keras dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada 2008 lalu. KPI beralasan, peran yang diperagakan itu merusak moral generasi anak bangsa. Namun ia tetap membela diri dengan menyatakan penampilan itu merupakan ciri khasnya sebagai pelawak.

Pelawak Senior ini beranggapan, selama memainkan peran sebagai banci tidak pernah bermaksud agar masyarakat meniru gayanya. Justru Tessy berharap, perannya itu dapat menghibur masyarakat. Terutama agar publik tahu perannya telah menjadi sumber penghidupannya.

Tessy juga menyatakan tidak pernah menyesali penampilannya sebagai pelawak yang kebanci-bancian. Bahkan, ia balik menuding KPI telah melanggar hak seseorang untuk berkreasi dan berkarya.

"Saya berterima kasih sama KPI. Karena KPI telah membunuh karakter saya. Saya tidak boleh pakai - pakaian cewek. Itu saya merasa tidak masuk akal. Jadi Tessy akan menjadi Tessy bukan Tesso. Bukan yang lain," ujar Tessy seperti dilansir KapanLagi.com pada Kamis (12/07/2012).

Selain bermain ludruk, Tessy juga pernah bermain di beberapa film, yakni; bermain di film "Gepeng Mencari Untung" (1983), film "Setannya Kok Beneran?" (2008), film "The Maling Kuburans" dan XXL-Double Extra Large (2009), film "Susah Jaga Keperawanan di Jakarta" (2010) dan film "Penganten Pocong" (2012).

(mt/mt)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI