BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. SENI DAN BUDAYA
Seni dan Budaya

Cerita asal mula Desa Kemiren, cikal bakal Barong Osing

Lahirnya Barong Kemiren diawali keberadaan Desa Kemiren.

Oleh: Mochammad Andriansyah 5 April 2016 16:35

Merdeka.com, Banyuwangi - Barong Kemiren atau juga disebut Barong Using (Osing), merupakan kesenian kuno di Banyuwangi, Jawa Timur. Meski tergerus zaman, kesenian asli Suku Osing ini masih lestari.

Lahirnya Barong Kemiren diawali keberadaan Desa Kemiren. Konon, ada seorang begawan yang dikenal dengan sebutan Mbah Buyut Cili datang merantau ke Bumi Blambangan. Dia mencari lokasi yang cocok untuk menetap dan menemukan hutan ditumbuhi banyak pohon kemiri, duren dan aren.

Bersama Mbah Sapuah, ‎Buyut Cili mendirikan perkampungan. Karena makin banyak pengikut, lokasi itu diberi nama Kampung Kemiren, asal kata kemiri, duren dan aren. Desa Kemiren dihuni suku adat asli Banyuwangi; Suku Osing.

Setelah makin banyak pengikut, Buyut Cili hilang-muksa. Beberapa tahun kemudian, Desa Kemiren yang subur dengan hasil buah-buahan melimpah diserang bagebluk atau wabah penyakit yang sulit diobati.

Dalam kondisi panik, Mbah Sapuah, bekali-kali ditemui Buyut Cili melalui mimpi. Dalam mimipinya, Buyut Cili berdialog dengan Mbah Sapua. "Isun wes ngaleh panggonan. Engko onok loro petilasan, dadi panggonanku. Isun ngerti karep sirok. Pagebluk biso ilang. Sirok goleko kayu polek suwedak sentian (60 cm) loro, lebokno jero sumur. Bagebluk biso ilang kudu idher bumi pakek barong," pesan gaib Buyut Cili ke Mbah Sapua.

Dalam Bahas Indonesia, kira-kira begini artinya: ‎Aku sudah pindah tempat. Akan ada dua makam, yang akan jadi tempat baruku. Aku tahu maksud kamu. Penyakit bisa hilang. Kamu cari dua kayu polek sepanjang 60 cm, rendamlah dalam sumur. Bagebluk bisa hilang jika ada ruwat desa dengan barong.

Selanjutnya, Mbah Sapua melaksanakan pesan Buyut Cili, dan meminjam barong di daerah Dandang Miring, Banyuwangi. Hari kedua di Hari Raya Idul Fitri, ritual idher bumi mengusir penyakit digelar.

Acara ruwat desa selain menggelar seni pertunjukan barong, juga dilakukan ritual tumpeng sewu menyajikan makanan khas Tanah Osing; Pecel pitek (ayam). Makanan dari ayam kampung yang sudah dipanggang, dan diberi bumbu parutan kelapa super pedas.

Selanjutnya, ritual idher bumi digelar pada tanggal pertama, hari Senin atau Jumat di Bulan Haji (Idul Adha).

Setelah itu Buyut Cili kembali menemui Mbah Sapua melalui mimipi. Sapua diminta membuat barong dari kayu yang direndamnya dalam sumur. Maka dibuatlah dua barong, satu barong berwujud buruk rupa dan seram. Satu lagi berwujud harimau hijau.

‎Barong Kemiren kemudian diwariskan ke Mbah Tompo generasi kedua barong agar merawat dan melestarikan tradisi kesenian adat Kemiren tersebut.

Saat pendudukan Belanda, Tompo mengungsi kedaerah lain sambil membawa barong. Di tempat barunya, dia bertemu dua ahli pembuat topeng yang kemudian dimintanya membuat barong.

Saat itulah, lahir barong baru yang lebih bagus dari aslinya. Tompo kemudian kembali ke Kemiren membawa barong baru. Karena dianggap untuk sarana pemberontakan, Belanda menyita barong milik Tompo dan membawa ke markasnya.

Kejadian mistis terjadi di markas Belanda. Bumi bergoyang, seperti ada gempa tiap malam. Setelah diselidiki, ternyata gempa itu berasal dari barong. Belanda akhirnya meyerahkan kembali barong ke warga Kemiren dengan syarat hanya digunakan untuk berkesenian.

Sampai saat ini, Barong Kemiren masih dilestarikan oleh Suku Osing di Desa Kemiren. Oleh Tompo, barong diwariskan ke Syamsuri. Berlanjut ke Saleh dan Sapi'i hingga akhirnya dilestarikan oleh Sucipto hingga sekarang.

Kisah cikal-bakal Desa Kemiren dan Barong Osing ini diceritakan oleh generasi keenam Barong Kemiren, Sucipto saat ditemui merdeka.com di kediamannya, Jalan Perkebunaan Kalibendo Nomor 7, Desa Kemiren.

(mh/ma)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI