BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. SENI DAN BUDAYA
Seni dan Budaya

Malam kolaborasi musik dan puisi di Kampung Temenggungan Banyuwangi

Beberapa musisi lokal dan internasional berkolaborasi dalam musikalisasi puisi berjudul Tuan Malaikat, Ini Putri.

Oleh: Suci Rachmaningtyas 19 April 2016 17:07
Bambang Sugianto membacakan puisi berjudul Tuan Malaikat Ini Putri di Kampung Temenggungan

Merdeka.com, Banyuwangi - Kampung Wisata Temenggungan Banyuwangi kembali berkesenian. Acara ini menampilkan kolaborasi musik dan puisi. Pembacaan puisi dibawakan oleh Bambang Sugianto. Ia adalah seorang sutradara teater, aktor, dan pembaca puisi. Kesibukannya mengurus Bengkel Sastra Lintang sejenak ia tinggalkan untuk berkunjung ke kota Seribu Gandrung.

Di Temenggungan, ia bersama beberapa musisi lokal dan internasional berkolaborasi dalam musikalisasi puisi berjudul Tuan Malaikat, Ini Putri. Sebuah puisi karya sang istri, Lintang Sugianto, novelis Matahari di Atas Gili yang sempat menjadi best seller di Indonesia dan Malaysia.

Puisi tersebut menceritakan tentang kepedihan hidup seorang anak kecil bernama Putri yang kehilangan ibunya dalam peristiwa Tsunami Aceh. Dalam puisi delapan lembar tersebut, Bambang meluapkan seluruh emosi dalam dirinya.

Alunan mendayu suara suling paralon yang dimainkan Mbah Yon pun semakin menyayat hati pendengarnya. Sementara rebab yang dimainkan Lukas Paltanavicius, musisi asal Lithuania tak kalah menambah kepiluan suasana. Alat musik lain seperti ukulele dan gendang pun ikut serta membisukan sejenak kampung para seniman tersebut.

Bambang Sugianto
© 2016 merdeka.com/Suci Rachmaningtyas

Acara yang didukung oleh komunitas Hiduplah Indonesia Raya (Hidora) tersebut sukses merebut perhatian warga sekitar. Kolaborasi Musik dan Puisi tersebut juga diramaikan oleh Banyuwangi Putra Junior, sebuah grup gamelan anak di Temenggungan.

Dalam kesempatan seusai acara, Bambang Sugianto mengungkapkan kekagumannya perihal kampung Temenggungan, Banyuwangi. “Ini belum terpublish aja, seperti teman-teman di Jakarta, sebagian besar di Lintang. Saya mempunyai greget untuk ke sini. Apalagi istri saya spontanitasnya luar biasa, saya pengen tidur di sini bisa nggak, katanya. Langsung nyari tempat, akhirnya saya tidur di kampung ini,” ujarnya kepada Merdeka Banyuwangi, Senin malam (18/4).

Berikut penggalan puisi Tuan Malaikat, Ini Putri

Dan kotamu ini memang sepetak taman bagimu
Tetapi Aceh telah dibantu memilih bertugas
Tugas apalagi Tuan malaikat?
Ya tugas untuk membentuk barisan
Barisan? Barisan apa Tuan?
Tetapi malaikat segera membaca daftar
dan dengan gesitnya ia menyabit kembali
Yang terjadi ialah..
Jalan-jalan trotoar itu,
Masjid-masjid itu,
Lapangan itu,
Kota itu telah penuh anak-anak
Penuh orang tua
Penuh lelaki
Penuh perempuan
Semua penuh mayat

(ff/sr)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI