CEK FAKTA: Disinformasi Ilmuwan Singapura Prediksi Akhir Covid-19 di Indonesia

CEK FAKTA: Disinformasi Ilmuwan Singapura Prediksi Akhir Covid-19 di Indonesia
CEK-FAKTA | 23 Mei 2020 15:05 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Beredar informasi tentang prediksi Covid-19 di Indonesia. Informasi itu ditulis oleh kabardini.com berjudul "Kabar Gembira: Hasil Riset Singapura, Corona di Indonesia Berakhir 6 Juni" pada 18 Mei 2010 dan berisi Covid-19 di Indonesia diprediksi berakhir pada 6 Juni 2020.

Berikut isi beritanya:

"Universitas Teknologi dan Desain Singapura (SUTD) memprediksi penyebaran virus corona COVID-19 di Indonesia akan berakhir 6 Juni 2020. Saat itu, 97 persen kasus sudah selesai.

SUTD menggunakan data hingga 25 April 2020, untuk membuat prediksi tersebut. Penelitian ini menggunakan model SIR (susceptible-recover-recovered) yang diregresikan dengan data berbagai negara untuk memperkirakan kurva siklus hidup pandemi dan memperkirakan kapan pandemi tersebut akan berakhir di masing-masing negara.

Dalam situs SUTD yang dikutip beberapa pekan kmaren, data ini ini untuk tujuan pendidikan dan penelitian dan mungkin mengandung kesalahan. Data akan dimasukkan secara harian.

"Prediksi pada dasarnya tidak pasti. Pembaca harus mengambil prediksi apa pun dengan hati-hati. Terlalu optimisme berdasarkan perkiraan tanggal akhir berbahaya karena dapat melonggarkan disiplin dan kontrol kita dan menyebabkan perputaran virus dan infeksi, dan seharusnya dihindari," tulis SUTD dalam situsnya.

Seperti dilansir CNBC, dalam laporan tersebut diungkapkan 97% kasus akan berakhir pada 6 Juni 2020 dan 99% kasus akan berakhir di 23 Juni 2020.Sebelumnya, sejumlah ilmuwan dan peneliti memprediksi puncak virus corona di Indonesia akan terjadi pada bulan Juni dan Juli 2020 dengan jumlah korban yang terinfeksi mencapai 106 ribu kasus.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan tim pakar gugus tugas mengumpulkan informasi dan prediksi mengenai puncak virus corona di Indonesia dari ilmuwan dan institusi terpercaya.

Dari data tersebut, secara kumulatif puncak penyebaran virus corona di Indonesia pada awal Mei dan awal Juni 2020 dengan total pasien positif corona mencapai 95 ribu.

"Selama Juni dan Juli, kasus terkonfirmasi secara kumulatif akan mencapai 106 ribu kasus," ujar Wiku.

Wiku menambahkan ini semua masih bentuk prediksi dan seperti prediksi pada umumnya tidak memiliki angka yang pasti atau belum tentu benar."Kami memiliki cara kolektif mengacu pada peraturan yang ada dan memastikan prediksi adalah prediksi dan kasus sebenarnya lebih rendah dari prediksi," pungkasnya.

Sementara, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo menyatakan Presiden Jokowi memperkirakan bahwa masyarakat Indonesia sudah bisa kembali hidup normal pada Juli mendatang.

Presiden Joko Widodo dan Menkes Terawan.

"Presiden (Joko Widodo) meminta kita semua untuk bisa bekerja lebih keras lagi dan juga mengajak masyarakat agar lebih patuh, lebih disiplin, dan aparat bisa lebih tegas agar pada Juni kita mampu menurunkan kasus COVID di Indonesia, sehingga Juli diharapkan kita bisa mengawali hidup normal kembali," ujar Doni dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta beberapa pekan lalu

Doni menyampaikan hal tersebut usai rapat terbatas intern, bersama jajaran Menteri Kabinet Indonesia Maju, dan dipimpin Presiden Joko Widodo."

Penelusuran

Menurut penelusuran merdeka.com, informasi tersebut disinformasi. Dalam artikel detik.com berjudul "Prediksi Ilmuwan Singapura: Corona di Indonesia Berakhir Mulai Juni" pada 26 April 2020, dijelaskan bahwa prediksi bisa saja mengalami kesalahan. Apalagi data terus berubah dan berbeda.

Para ilmuwan di Universitas Teknologi dan Desain Singapura (SUTD) memprediksi wabah COVID-19 di Indonesia bakal kelar bulan Juni nanti. Menurut mereka, saat ini Indonesia sudah memasuki masa puncak.

Prediksi ini dibuat oleh Laboratorium Inovasi Berbasis Data (DDI SUTD) dan ditampilkan di situsnya, bertajuk 'Kapankah COVID-19 Akan Berakhir?', diakses detikcom, Minggu (26/4/2020).

Mereka membuat prediksi ini berdasarkan data yang terus diperbaharui, terakhir pada 26 April 2020. Metode yang digunakan adalah model SIR, atau susceptible (rentan), infected (tertular), recovered (sembuh), diterapkan untuk memperkirakan kurva siklus hidup pandemi virus Corona ini. Mereka menerapkan kode-kode dari Milan Batista, ilmuwan dari Universitas Ljubljana, Slovenia. Juga, mereka memanfaatkan data dari situs Our World in Data.

Namun demikian, Laboratorium Inovasi Berbasis Data SUTD ini memperingatkan bahwa penelitian yang mereka tampilkan di situs itu hanya bertujuan untuk pendidikan dan riset, serta bisa jadi memuat kesalahan (eror).

Berikut adalah hasil hitung-hitungan mereka mengenai berakhirnya virus Corona di Indonesia:

Indonesia

Tanggal titik balik dari puncak: 20 April 2020
Berakhir 97%: 7 Juni 2020
Berakhir 99%: 24 Juni 2020
Berakhir 100%: 7 September 2020

Setiap hari, data sebagai dasar perhitungan diperbaharui, sehingga hasilnya juga bisa berubah. Misalnya untuk Indonesia, data tanggal 25 April sedikit berbeda. Pada 25 April, tanggal wabah COVID-19 berakhir 97% ada pada 6 Juni 2020, sedangkan data tanggal 26 April tanggal berakhir 97% ada pada 7 Juni 2020.

"Dalam hal ini, tanggal akhir yang diperkirakan adalah waktu untuk mencapai 97% dari total kasus epidemi yang diharapkan," tulis DDI SUTD.

Kemudian dalam artikel merdeka.com berjudul "Prediksi Pandemi Berakhir Juni-Juli Bisa Tercapai Asal Masyarakat Patuh" pada 8 Mei 2010, dijelaskan bahwa Covid-19 bisa berakhir di Indonesia jika masyarakat patuh dengan aturan dari pemerintah.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menegaskan bahwa Indonesia bisa terentas dari pandemi Covid-19 pada Juni-Juli asalkan masyarakat bisa mematuhi berbagai peraturan yang diberlakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

"Karena kuncinya adalah kita semua. Ada didisiplin kita untuk patuh, disiplin untuk tidak bepergian, patuh untuk tidak mudik dan mencuci tangan dengan sabun, patuh untuk selalu menggunakan masker," tegas Achmad Yurianto melalui konferensi pers daring di BNPB, Jumat (8/5).

Menurut Yurianto, hal itulah upaya yang bisa dilakukan semua pihak untuk bisa mewujudkan target pengentasan pandemi Covid-19 pada medio Juni-Juli mendatang.

"Kuncinya adalah kita," tegasnya kembali.

Kesimpulan

Adanya prediksi dari Ilmuwan Singapura terkait prediksi Covid-19 di Indonesia adalah disinformasi. Ilmuwan Singapura mengakui bahwa penelitian yang mereka tampilkan di situs terkait prediksi hanya bertujuan untuk pendidikan dan riset, serta bisa jadi memuat kesalahan (eror).

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. (mdk/noe)

Baca juga:
CEK FAKTA: Tidak Benar WHO Sebut Vegetarian Aman dari Covid-19
CEK FAKTA: Tidak Benar Pemerintah Akan Terapkan Herd Immunity Sebagai Pengganti PSBB
CEK FAKTA: Tidak Benar Konser Iwan Fals dalam Rangka HUT PKI
CEK FAKTA: Hoaks Covid-19 Tak Punya Kemampuan Membunuh, Ini Faktanya
CEK FAKTA: Tidak Benar Kemenkes Liburkan Penerimaan Sample Covid-19 Selama Lebaran
CEK FAKTA: Disinformasi Video TKA China Masuk Palembang dengan APD lengkap

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami