CEK FAKTA: Hoaks Video Presiden Jokowi Akan Serahkan Kepemimpinannya ke Prabowo

CEK FAKTA: Hoaks Video Presiden Jokowi Akan Serahkan Kepemimpinannya ke Prabowo
CEK-FAKTA | 6 Agustus 2020 10:37 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Sebuah video memuat informasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku menyerahkan kepemimpinan dan jabatan presiden kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Video tersebut diunggah diakun YouTube Rahasia Politik pada 31 Juli 2020 dan sudah dilihat sebanyak 10.860 kali. Video tersebut diberi judul:

JOKOWI AKUI SUDAH GAGAL SEBAGAI PRESIDEN & AKAN SERAHKAN SEMUA JABATAN PRESIDEN ke PRABOWO ?

hoaks video presiden jokowi akan serahkan kepemimpinannya ke prabowo

YouTube

Penelusuran

Cek Fakta Merdeka.com menelusuri klaim video Presiden Jokowi mengaku gagal dan akan serahkan jabatannya sebagai presiden ke Prabowo Subianto.

Berdasarkan narasi yang dibacakan oleh akun YouTube Rahasia Politik, video tersebut memuat gabungan informasi dari sejumlah pemberitaan media yang tidak sinkron dengan judul video. Video tersebut terbagi menjadi tiga pembahasan.

Pembahasan pertama, narasi yang dibacakan berdasarkan artikel yang dimuat Tirto.id berjudul "Jokowi Akui Kerja Pemerintah Terjebak Banyaknya Aturan" pada 28 Juli 2020. Presiden Jokowi kembali menyoroti soal keruwetan tata kelola pemerintahan di Indonesia. Menurut Jokowi sudah seharusnya sistem tata kelola pemerintah diubah, dari yang berbelit-belit menjadi tanpa hambatan sedikit pun.

Saat memberikan pengarahan kepada Peserta Program Kegiatan Bersama Kejuangan secara daring, Selasa (28/7/2020), Jokowi kembali mengingatkan pentingnya cara baru dalam bekerja. Ia kembali menyinggung bahwa negara yang menang bukan lagi berdasarkan adidaya atau tidak, tetapi berfokus pada kecepatan dalam bekerja.

"Artinya yang cepat yang akan menang. Nah di sini lah justru letak permasalahan tata kelola pemerintah kita yang semuanya memang harus kita ubah semuanya, terlalu banyak peraturan yang membelenggu kita sendiri," kata Jokowi.

Kemudian pembahasan kedua, narasi yang dibacakan berasal dari artikel law-justice.co berjudul "Dolar Bakal Tembus 20.000 & Ekonomi Kacau, Jokowi Harus Mundur" dimuat pada 29 Juli 2020.

Artikel tersebut membahas tentang, Nilai tukar rupiah diprediksi akan merosot tajam bahkan hingga ke Rp 20.000 per dolar AS. Salah satu alasannya disebabkan karena terlalu dekatnya hubungan Indonesia dengan China, sehingga Amerika Serikat dan sekutunya mempersulit ruang gerak Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Pengamat Politik Muslim Arbi, Rabu (29/7/2020).

"AS dan sekutunya makin mempersulit ruang gerak ekonomi Indonesia yang dianggap pro-China itu dan dollar bakal meningkat tembus Rp 20.000/dolar AS sampai rezim ini ambruk di tengah pandemi covid-19," katanya.

Hal lain yang mendukung hancurnya nulai tukar rupaih dan kriris ekonomi yang terjadi adalah karena Jokowi tak memenuhi janji poltiknya. Muslim mengatakan janji politik Jokowi pada tahun 2014 dan 2019 lalu dan terutama dalam budang ekonomi adalah, jika menjadi Presiden maka Jokowi akan membuat dolar menjadi Rp 10.000 dan Pertumbuhan ekonomi di patok pada 7 %. Namun, kata dia tak terbukti, malah lebih hancur. Nilai tukar dolar pun sudah mencapai Rp 15.000.

Menurutnya, dengan kejadian saat ini, maka jalan keluarnya adalah Jokowi harus secepatnya mundur dari presiden. Apalagi kata dia, menteri-menetrinya yang bertugas di sektor perekonomian malah mmebuat ekonomi Indonesia merosot.

Pembahasan ketiga, narasi yang dibacakan merupakan artikel beradal dari CNBC Indonesia berjudul "Saat Sri Mulyani Ungkap Ketidakpastian 2021 yang Bikin Ngeri" dimuat pada 31 Juli 2020.

Artikel tersebut berisi:

Pandemi Covid-19 masih akan terasa efeknya hingga 2021. Hal ini menjadi pertimbangan pemerintah untuk menetapkan RUU APBN dan Nota Keuangan 2021.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan sederet ketidakpastian yang masih akan tinggi di tahun 2021 nanti.

"Satu, mengenai kecepatan dan kemungkinan penanganan covid di seluruh dunia. Yakni pengendalian covid apakah benar-benar bisa terkendali menjadi mendatar atau menurun," tegas Sri Mulyani usai Ratas dengan Presiden Jokowi awal pekan lalu.

Menurut Sri Mulyani, munculnya vaksin untuk covid-19 ini, akan sangat menentukan langkah dan pola pemulihan tahun 2021.

"Yang kedua, yang mempengaruhi juga proyeksi tahun depan adalah global economic recovery. Recovery atau pemulihan ekonomi global ini juga sangat tidak pasti akibat covid lagi."

Lanjutnya, tekanan Covid-19 juga membuat sejumlah lembaga Internasional secara memperkirakan perekonomian dunia akan sangat terpukul. Bahkan, beberapa negara akan mencatatkan negatif secara berturut-turut sehingga bisa masuk jurang resesi tahun ini.

Oleh karenanya, pemulihan ekonomi paling cepat bisa dilakukan pada tahun depan.

"Saat ini beberapa lembaga internasional perkirakan pemulihan ekonomi akan cukup cepat untuk tahun depan. Dengan asumsi tahun ini menurunnya sangat tajam, namun kita melihat bahwa lembaga-lembaga tersebut terus menerus melakukan revisi pemulihan ekonomi 2020-2021," katanya.

Sehingga pemulihan ekonomi dunia, sambungnya juga diperkirakan masih tidak pasti. "Bisa strong rebound, bisa sifatnya moderate."

Yang ketiga, lanjut Sri Mulyani yang mempengaruhi juga adalah ekonomi RI sendiri. Di mana pemulihannya sangat tergantung pada penanganan covid terutama pada semester II-2020.

"Kalau penanganannya efektif, dan berjalan seiring dengan pembukaan aktivitas ekonomi, maka kondisi ekonomi bisa recover pada kuartal III-2020 dengan positive growth 0,4 persen dan pada kuartal IV akan akselerasi ke 3 persen. Kalau itu terjadi, maka pertumbuhan ekonomi kita secara seluruh tahun (2020) akan bisa tetap di zona positif."

"Inilah yang sedang terus diupayakan oleh pemerintah untuk tekankan kepada semua menteri dan pemda agar kita tetap berada di skenario di mana pemulihan ekonomi tetap bisa berjalan pada zona positif di kuartal 3 antara 0-0,4 dan kuartal IV pada zona positif lebih tinggi antara 2-3 persen. Sehingga total perekonomian kita masih bisa tumbuh positif di atas nol persen untuk tahun 2020 ini."

Kesimpulan

klaim video Presiden Jokowi mengaku gagal dan akan serahkan jabatannya sebagai presiden ke Prabowo Subianto adalah tidak benar.

Faktanya informasi tersebut dari sejumlah pemberitaan media yang tidak sinkron dengan judul video. Narasi yang dibacakan juga tidak ada pernyataan Presiden Jokowi yang akan menyerahkan jabatannya kepada Prabowo Subianto.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. (mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami