CEK FAKTA: Tidak Benar 2.620 Bayi Meninggal Akibat Efek Ibunya Vaksin Covid-19

CEK FAKTA: Tidak Benar 2.620 Bayi Meninggal Akibat Efek Ibunya Vaksin Covid-19
Ilustrasi bayi. ©Pixabay/blankita_ua
CEK-FAKTA | 1 Desember 2021 15:35 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Beredar unggahan di media sosial informasi mengklaim sebanyak 2.620 bayi meninggal dunia akibat efek samping dari sang ibu yang menerima vaksin Covid-19.

Unggahan tersebut disertai dengan tangkapan layar sebuah artikel yang berjudul "2.620 babies dead after vaccination and reports of terrible side effects”. Terdapat foto bayi mengalami ruam di sekujur tubuh.

"2,620 bayi meninggal karena ibunya di menerima bioweapon/vaksin c-19 mereka buta apa menutup mata atau tidak punya mata (VAERS)," narasi dalam unggahan tersebut.

tidak benar 2620 bayi meninggal akibat efek ibunya vaksin covid 19
Kominfo

Penelusuran

Setelah ditelusuri tidak ada bukti yang menyatakan bahwa vaksin Covid-19 telah menyebabkan 2.620 bayi meninggal di Amerika Serikat. Melansir dari tempo.co, data yang tertera di situs VAERS, menyebutkan bahwa 2.620 adalah akumulasi dari kasus keguguran (aborsi) dini, aborsi spontan, kematian janin, dan kematian bayi prematur.

Akan tetapi Pemerintah Amerika Serikat memberikan disclaimer bahwa laporan VAERS tidak dapat digunakan untuk menentukan apakah vaksin menyebabkan atau berkontribusi pada kejadian atau penyakit yang merugikan. Sebab, semua pihak --termasuk penyedia layanan kesehatan, produsen vaksin, dan masyarakat dapat mengirimkan laporan ke sistem.

Dengan sistem pelaporan yang terbuka, memberikan potensi adanya informasi yang tidak lengkap, tidak akurat, kebetulan, atau tidak dapat diverifikasi. Sebagian besar, laporan ke VAERS bersifat sukarela, yang berarti bahwa laporan tersebut bias. Ini menciptakan batasan khusus tentang bagaimana data dapat digunakan secara ilmiah.

Dikutip dari Associated Press, VAERS sering disalahartikan oleh para pendukung anti-vaksin, dan distribusi vaksin COVID-19 telah membawa lebih banyak perhatian ke sistem pengawasan.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat pada 11 Agustus 2021, telah menerbitkan laporan vaksin Covid-19 aman untuk perempuan hamil. Menurut CDC, tim analis mereka tidak menemukan peningkatan risiko keguguran pada 2.500 wanita hamil (berusia sebelum 20 minggu kehamilan) yang menerima vaksin Covid-19 berbasis mRNA.

Angka keguguran secara umum terjadi sekitar 11-16 persen kehamilan, tidak berbeda dengan tingkat keguguran setelah menerima vaksin Covid-19 sekitar 13 persen.

"CDC mendorong semua orang hamil atau orang yang berpikir untuk hamil dan mereka yang menyusui untuk mendapatkan vaksinasi untuk melindungi diri dari COVID-19," kata Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky.

Kesimpulan

Klaim sebanyak 2.620 bayi meninggal dunia akibat efek samping dari sang ibu yang menerima vaksin Covid-19. Namun, 2.620 bayi meninggal adalah akumulasi dari kasus keguguran (aborsi) dini, aborsi spontan, kematian janin, dan kematian bayi prematur.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan. Pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Referensi

https://cekfakta.tempo.co/fakta/1575/keliru-2-620-bayi-meninggal-setelah-mendapatkan-vaksin-covid-19

(mdk/lia)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami