CEK FAKTA: Tidak Benar Empat Anak Sekolah Meninggal Dunia Karena Vaksin Covid-19

CEK FAKTA: Tidak Benar Empat Anak Sekolah Meninggal Dunia Karena Vaksin Covid-19
CEK-FAKTA | 30 Juni 2020 13:39 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Beredar informasi bahwa 4 anak sekolah meninggal dunia setelah disuntik vaksin Covid-19. Vaksin tersebut disebut-sebut mengandung chip radio-frequency identification (RFID). Informasi itu juga menegaskan agar lebih aman, anak-anak harus bersekolah dari rumah.

hoaks anak sekolah meninggal karena vaksin corona

Kominfo

"The covid-19 vaccine will be mandatory in order to go back too school. They will contain RFID Chips. Once you take the vaccine theirs no out. The bible says you will break out into boils. Homeschool your kids! Many kids will die from the covid-19 vaccine. Just to remind you the 4 kids that took the vaccine died immediately. Nothing will go back the same till everyone as vaccined?"

Penelusuran

Menurut penelusuran merdeka.com, informasi tersebut adalah tidak benar. Dalam artikel Reuters.com berjudul "Fact check: Four children have not died from a COVID-19 vaccine containing microchips" pada 24 Juni 2020, dijelaskan bahwa sejumlah vaksin masih dalam tahap uji klinis.

"According to the World Health Organisation (WHO), there are currently 142 potential vaccines being developed across the world, 13 of which are undergoing human trials. Four of the candidate vaccines at the human trial stage involve American companies or bodies. Researchers in these four trials are only accepting candidates over 18 years of age. ( here ).

Just three of all 13 of the candidate vaccines at the clinical trial stage have revealed plans to test children. Oxford University in the UK is currently still in the recruitment stage for gathering 60 children between the ages of two and 11 to take part in phase 2/3. They will be the only participants in this trial below the age of 18 (here) .

The Wuhan Institute of Biological Products plans to recruit people aged six and above for its trial, but is currently listed as “not yet recruiting” (here) .

Meanwhile, the Beijing Institute of Biological Products is enlisting participants aged three and above, and is also still in the recruiting phase of the process (here) .

If and when a vaccine against COVID-19 is eventually approved, it will be up to individual state authorities in the U.S. to determine whether administering it should be mandatory. For the purposes of this post, which was uploaded by a user in Texas, the Texas Department of State Health Services told Reuters that it would be false to say children would not be allowed to return to school without being vaccinated."

Berikut terjemahannya:

"Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini ada 142 vaksin potensial yang masih dikembangkan di seluruh dunia, 13 di antaranya sedang menjalani uji coba pada manusia. Empat dari kandidat vaksin pada tahap uji coba manusia melibatkan perusahaan atau badan Amerika. Para peneliti yang menguji empat kandidat vaksin ini hanya menerima peserta uji coba berusia di atas 18 tahun.

Hanya tiga dari 13 kandidat vaksin pada tahap uji klinis yang berencana untuk melakukan uji coba vaksin pada anak-anak. Universitas Oxford di Inggris saat ini masih dalam tahap pencarian untuk mengumpulkan 60 anak-anak berusia dua hingga 11 tahun untuk mengambil bagian dalam fase 2/3. Mereka akan menjadi satu-satunya peserta dalam uji coba ini di bawah usia 18.

Institut Produk Biologi Wuhan berencana merekrut warga berusia enam tahun ke atas untuk uji coba vaksin, tetapi saat ini terdaftar sebagai "belum merekrut".

Sementara itu, Institut Produk Biologi Beijing mendaftarkan peserta berusia tiga tahun ke atas, dan juga masih dalam tahap proses perekrutan.

Jika vaksin Covid-19 akhirnya disetujui, itu akan menjadi tanggung jawab masing-masing negara bagian di AS untuk menentukan apakah pemberian itu wajib atau tidak.

Kemudian untuk informasi empat anak sekolah meninggal karena mendapat vaksin Covid-19 yang mengandung chip, Departemen Layanan Kesehatan Negara Texas mengatakan kepada Reuters bahwa akan salah jika anak-anak tidak diizinkan kembali ke sekolah tanpa divaksinasi.

Kesimpulan

Informasi empat anak sekolah meninggal dunia karena divaksin Covid-19 yang mengandung chip radio-frequency identification (RFID) adalah tidak benar. Hingga saat ini, sejumlah vaksin masih dalam tahap uji coba.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. (mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Alur BLT Dana Desa Hingga ke Tangan Warga - MERDEKA BICARA with Mendes Abdul Halim Iskandar

5