CEK FAKTA: Tidak Benar Adanya Tsunami Menerjang Wilayah NTT

CEK FAKTA: Tidak Benar Adanya Tsunami Menerjang Wilayah NTT
Video Gelombang Besar di NTT. Twitter/@gaudiano_cole ©2021 Merdeka.com
CEK-FAKTA | 8 April 2021 11:10 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan akan adanya tsunami di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 7 April 2021 beredar di media sosial.

Klaim tersebut dilengkapi dengan tangkapan layar artikel CNN Indonesia berjudul "BMKG Peringatkan Potensi Gelombang Mirip Tsunami di NTT" yang diunggah pada 6 April 2021.

Berikut narasinya:

"Mohon yg punya signal infokan ke saudra2 yg tinggal area bantaran laut ... CNN WARNING UNTUK WASPADA AKAN ADA THUNAMI MOHON SKLI UNTK MENGHINDARI AREA PINGGIRAN PANTAI ... BERLAKU BESOK TGL 7 APRIL 2021... CEK CNN 6 APRIL 2021..."

tidak benar adanya tsunami menerjang wilayah ntt

Penelusuran

Cek Fakta merdeka.com menelusuri artikel berjudul "BMKG Peringatkan Potensi Gelombang Mirip Tsunami di NTT" yang dimuat oleh CNN Indonesia. Pada 6 April, CNN Indonesia memang mempublikasi artikel tersebut.

Namun artikel tersebut menjelaskan, BMKG menyampaikan peringatan potensi gelombang tinggi dari laut mirip tsunami yang memasuki wilayah daratan Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga , Rabu (7/4).

Artikel lengkapnya:

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan potensi gelombang tinggi dari laut mirip tsunami yang memasuki wilayah daratan Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga besok, Rabu (7/4).

"Dampak yang terjadi hari ini hingga sekitar tanggal 7 adalah yang sangat dirasakan selain hujan lebat, tapi juga angin yang kencang dan gelombang tinggi yang dikhawatirkan ini mirip tsunami," tutur Kepala BMKG Dwikorita Karnawati melalui siaran langsung di Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (6/4).

Dwikorita menuturkan gelombang tersebut tidak akan sekuat tsunami, namun gelombang yang terbentuk cukup tinggi dan berpotensi ke daratan sehingga dapat merusak. Mengutip paparan yang disampaikan Dwikorita, gelombang tinggi diproyeksi di sejumlah wilayah perairan dengan ketinggian yang berbeda-beda.

Diantaranya, gelombang dengan ketinggian 1,25-2,5 meter diproyeksi terjadi di Selat Sumba bagian timur, Selat Sape, Laut Sumbawa, perairan utara Sumbawa hingga Flores, dan Selat Wetar.

Kemudian juga di perairan Kepulauan Sabalana hingga Kepulauan Selayar, perairan selatan Baubau hingga Kepulauan Wakatobi, Laut Banda Selatan bagian barat, dan Laut Arafuru bagian Barat.

Selanjutnya gelombang dengan ketinggian 2,5-4 meter diproyeksi terjadi di Selat Sumba bagian barat dan perairan selatan Flores. Sementara itu gelombang dengan ketinggian 4-6 meter diproyeksi di perairan selatan Pulau Sumba, peraiaran Pulau Sawu, Laut Sawu, dan peraiaran Kupang hingga Pulau Rote. Lalu gelombang dengan ketinggian lebih dari 6 meter diproyeksi berpeluang terjadi di Samudra Hindia di bagian selatan NTT.

Dwikorita menjelaskan kondisi ini bisa terjadi karena siklon tropis seroja masih berada di perairan sekitar NTT hingga besok. Namun begitu, Dwikorita menegaskan siklon tropis seroja akan menjauh dari perairan NTT dan Indonesia setelah tanggal 7 April.

Meskipun kecepatan pusaran siklon akan terus menguat, kata dia, namun dampaknya diprediksi akan melemah di wilayah Indonesia.

Sebelumnya, menyebabkan 128 orang meninggal dunia dan 103 orang masih dalam pencarian. Akibat banjir tersebut, 8.424 orang dari 2.019 keluarga harus mengungsi. Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir terjadi sekitar pukul 01.00 WIB karena cuaca ekstrem yang diakibatkan siklon tropis seroja.

Sementara itu, dilansir dari merdeka.com dalam artikel berjudul "BMKG Bantah Bakal Ada Tsunami di NTT, Hanya Fenomena Gelombang Tinggi"

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membantah kabar tsunami yang akan menerjang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) imbas badai yang disebabkan siklon tropis Seroja. Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo menuturkan bahwa fenomena itu bukan tsunami melainkan gelombang tinggi.

"Jadi mohon diluruskan bahwasanya itu bukan tsunami. Jadi itu hanya lintasan air laut yang masuk ke darat, bukan tsunami," kata Eko kepada Liputan6.com, Rabu (7/4/2021).

Gelombang besar imbas badai itu pun hanya ditemui di lautan, bukan di darat. Hal itu bahkan menurutnya sudah biasa terjadi. Bahkan jika pun air laut itu masuk ke darat radiusnya tak sampai 100 meter dari garis pantai.

"Hanya memang ketika kemarin berbarengan dengan Siklon Seroja ada air laut yang masuk ke daratan. Seperti kejadian di Manado beberapa bulan lalu ya," ujarnya.

Sampai saat ini gelombang laut di lautan sekitar NTT, kata Eko masih cukup tinggi. Berkisar antara 3,5 meter hingga 5 meter. "Di daratan sudah enggak ada, udah gak berimbas di daratan," katanya.

Untuk itu Eko meminta masyarakat NTT agar tak resah dengan adanya kabar tsunami yang bakal menerjang wilayahnya.

"Masyarakat tak perlu panik, tidak perlu percaya berita- berita itu. Tidak ada tsunami. Tapi masyarakat perlu mencermati bahwa fenomena gelombang tinggi masih terjadi," pungkasnya.

Kesimpulan

Klaim adanya tsunami di NTT adalah tidak benar. Menurut BMKG, fenomena yang terjadi di NTT adalah gelombang tinggi bukan tsunami.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan. Pastikan itu berasal dari sumber terpercaya sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Referensi

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210406112214-20-626457/bmkg-peringatkan-potensi-gelombang-mirip-tsunami-di-ntt
https://www.merdeka.com/peristiwa/bmkg-bantah-bakal-ada-tsunami-di-ntt-hanya-fenomena-gelombang-tinggi.html (mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami