CEK FAKTA: Tidak Benar Kalung Eucalyptus Jimat Antivirus Corona

CEK FAKTA: Tidak Benar Kalung Eucalyptus Jimat Antivirus Corona
CEK-FAKTA | 24 Juli 2020 14:38 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Kementerian Pertanian (Kementan) membuat inovasi dari eucalyptus. Antivirus yang dipercaya mampu menangkal virus corona. Namun informasi yang beredar di media sosial menyebutkan jika kalung eucalyptus adalah jimat antivirus corona.

Informasi tersebut diunggah akun Facebook Bejo Sugriwa dengan narasi sebagai berikut:

Lah kok menteri pertanian di rezimnya boneka sarkowi sekarang malah jadi GANTI PROFESI kaya DUKUN sampe menciptakan KALUNG ANTI VIRUS yang seolah-olah fungsinya seperti JIMAT PENANGKAL PENYAKIT.

tidak benar kalung eucalyptus jimat antivirus corona

©2020 Liputan6.com


Penelusuran

Cek Fakta merdeka.com menelusuri klaim kalung eucalyptus adalah jimat antivirus corona. Dilansir dari Liputan6.com berjudul "Kementan Sebut Kalung Eucalyptus Bukan Jimat Antivirus", Kementan menyebut kalung eucalyptus bukan jimat antivirus Corona.

Dalam pendaftaran pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk eucalyptus pun tidak diklaim sebagai antivirus Sars-CoV-2 penyebab COVID-19.

"Ini bukan jimat. Jadi, saya harus sampaikan ini scientific based research. Ada riset, dasar ilmiahnya," tegas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Fadjry Djufry dalam konferensi pers virtual, Senin (6/7/2020).

"Isi kalung eucalyptus ini sama dengan di roll on, sama dengan inhaler. Karena ini (kalung) kan aksesoris kesehatan."

Walaupun tidak diklaim sebagai antivirus, eucalyptus disebut berpotensi membunuh virus. Potensi tersebut dibuktikan lewat uji in vitro di laboratorium pada model sejenis virus Corona lain, yakni alpha corona, betacorona, dan gamma corona.

"Penelitian terkait dengan ini eucalyptus memang sudah cukup lama," lanjut Djufry.

Kalau kita lihat kalung eucalyptus terdapat tulisan 'antivirus corona.' Djufry menjelaskan, tulisan tersebut hanya tertera pada prototipe kalung aromaterapi yang digunakan di kalangan pegawai Kementan.

“Ini hanya prototipe ya. Produksi massal nanti ini (tulisannya) akan menjadi ‘aromaterapi eucalyptus’, jelasnya.

Bentuknya yang mirip nametag di kalungkan agar tidak mudah terselip dan mudah dibawa ke mana-mana.

"Kalau inhaler ukurannya kecil, kadang kita lupa menyimpan atau terselip di mana saat kita akan menggunakannya," ujar Djufry.

"Jadi, dibentuklah kalung layaknya nametag, sehingga mudah dihirup juga setiap 2-3 jam sekali antara 5-15 menit. Didekatkan ke hidung agar mampu menginaktivasi virus yang berada di rongga hidung."

Sementara itu, dikutip dari merdeka.com berjudul "Kementan Tegaskan Kalung Aksesori Kesehatan Ampuh Bunuh Virus Corona" Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, Fadjry Djufry menegaskan bahwa kalung antivirus corona ampuh sebagai aksesoris kesehatan. Sebab, kalung berbasis eucalyptus ini diyakini mampu membunuh virus corona.

"Kalung ini kan aksesoris kesehatan. Di mana kita bisa hirup, dan secara laboratorium bisa membunuh virus corona," ujarnya dalam video conference via YouTube, Senin (6/7).

Fadjry mengatakan, kalung tersebut mempunyai kandungan yang serupa dengan produk roll on eucalyptus. Sehingga bisa di hirup dan secara pengujian laboratorium bisa membunuh virus corona di sekitar pengguna.

Dia membantah jika temuannya dikatakan sebagai klaim. Kendati Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak menyebut temuannya sebagai produk antivirus.

Menurutnya diperlukan waktu dan tahapan yang cukup lama untuk melakukan uji klinis kalung antivirus corona. Maka, pihaknya meyakini jika kalung tersebut mampu membunuh virus corona.

"Klaim produk kita ini (kalung eucalyptus) memang sebatas apa yang menjadi izin dari BPOM. Tetapi secara laboratorium ini berpotensi untuk membunuh virus corona," ujarnya.

Sedangkan dalam artikel merdeka.com berjudul "Kementan Produksi Kalung Antivirus Corona di Agustus, Siap Lakukan Uji Klinis" Produk antivirus tersebut akan diproduksi dalam berbagai bentuk seperti inhaler, roll on, salep, balsem, diffuser, dan juga kalung.

"Produksi untuk inhaler dan roll on akan siap akhir bulan Juli, sementara kalung pada bulan Agustus. Produk ini belum melalui uji klinis, karena Uji klinis harus dilakukan oleh tim dokter, di mana untuk kasus uji klinis harus diketuai oleh dokter spesialis paru," ucap Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Djufry dalam Konferensi Pers Pemanfaatan eucalyptus, Senin (6/7).

Dia menegaskan bahwa Balitbangtan tidak punya wewenang dan kompetensi melakukan uji klinis. Namun saat ini tawaran untuk uji klinis sudah datang dari UNHAS dan UI.

Sementara untuk tahapan mendapat izin edar, dia mengatakan tentunya bergantung pada jenis produk dan klaim yang akan didaftarkan. Sebab, produk eucalyptus sudah dilisensi oleh PT Eagle Indopharma maka mereka yang mendaftarkan. Intinya semua klaim yang diajukan harus didukung data hasil pengujian.

kata Fadjry menegaskan, Eucalyptus sudah turun-temurun digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk gangguan saluran pernapasan, karena punya kemampuan sebagai pelega saluran pernapasan, pengencer dahak, pereda nyeri, pencegah mual, anti inflamasi dan efek menenangkan.

Pihaknya pun telah melakukan uji coba, kepada 16 pasien positif. Pihaknya hanya merecord testimoni mereka, tetapi tidak melakukan pengujian terhadap kondisi kesehatannya. Testimoni di antaranya, yakni melegakan pernapasan, menghilangkan pusing, mual dan nyeri lainnya, perasaan lebih nyaman dan tenang.

Kesimpulan

Klaim kalung eucalyptus adalah jimat antivirus corona adalah salah. Kementan menyebut kalung eucalyptus bukan jimat antivirus corona.

Sementara itu Kepala Balitbangtan Kementan, Fadjry Djufry menegaskan bahwa kalung antivirus corona ampuh sebagai aksesoris kesehatan. Sebab, kalung berbasis eucalyptus ini diyakini mampu membunuh virus corona.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan, pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. (mdk/noe)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami