Melihat Kasus Bunuh Diri Era SBY dan Jokowi Berdasarkan Data WHO
CEK-FAKTA | 15 Januari 2019 14:40 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto mengkritisi kondisi ekonomi di Indonesia. Menurutnya, akibat tak kuat menahan beban ekonomi ada warga memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Pensiunan jenderal bintang tiga itu mengaku mendapat laporan seorang buruh tani yang juga kepala keluarga bernama Hardi meninggal dunia karena gantung diri di pohon jati belakang rumahnya di Desa Tawang Harjo, Grobogan. Penyebabnya karena tak sanggup menahan beban ekonomi.

Selain itu, Prabowo juga mencontohkan peristiwa gantung diri di Pekalongan yang dilakukan seorang guru dan warga di Gunung Kidul akibat tekanan ekonomi yang dinilainya semakin menyengsarakan rakyat.

"Ini kisah-kisah yang masuk berita. Yang tidak masuk berita lebih banyak lagi," ungkapnya berat," ungkap Prabowo saat memberikan pidato kebangsaan di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Selatan, Senin (14/1) malam.

Jika melihat ke belakang kasus bunuh diri karena himpitan ekonomi juga terjadi tak hanya saat era Jokowi, tetapi juga pemerintahan Presiden SBY.

Misal tahun 2012 lalu, seorang tukang ojek Heru Irawan (37), mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di kamar mandi rumahnya, di Kompleks Depag, Kedaung Kaliangke, Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (8/6/2012) malam. Penyebabnya himpitan ekonomi.

Tahun yang sama, seorang ibu dan anak memilih bunuh diri di Bogor. Diduga mereka tidak kuat menahan himpitan beban hidup. Keduanya melompat dari Jembatan Pulo Empang, Kota Bogor.

Ibu itu bernama Markiah (30), sementara anak laki-lakinya baru berusia tiga tahun. Anak sulung Markiah juga ingin melompat ke sungai untuk menyusul adiknya yang lebih dulu melompat. Beruntung warga berhasil membujuk anak itu untuk membatalkan niatnya.

Kasus lain, Herawati (42) dan anaknya Andika (4), ditemukan tewas. Herawati adalah warga Kampung Cigebar RT06/01 Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Sebelum bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya, Herawati membunuh Andika dengan cara menenggelamkannya ke selokan.

Kemudian, Endri Heru alias Mintoko (40), seorang tukang bakso ditemukan tewas gantung diri di pohon rambutan dekat rumahnya. Lagi-lagi kesulitan ekonomi menjadi alasannya.

Peta bunuh diri WHO Istimewa


World Health Organization (WHO) memaparkan data jumlah kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia, dalam rentang waktu tahun 2000, 2010, 2015 dan 2016.

Data WHO menunjukkan tahun 2000 rata-rata bunuh diri di Indonesia adalah 4,3 kasus per 100.000 penduduk. Jumlah pria yang bunuh diri lebih banyak dengan angka 5,9 per 100.000 penduduk, sedangkan wanita 2,7 kasus per 100.000 ribu penduduk.

Di tahun 2010 rata-rata 4 kasus per 100.000 penduduk. Jumlah pria 5,6, sedangkan wanita 2,4 kasus. Sedangkan di 2015, rata-rata 3,7 kasus per 100.000 ribu penduduk. Jumlah laki-laki 5,3, dan wanita 2,2.

Di tahun 2016, rata-rata 3,7 kasus per 100.000 penduduk. Jumlah laki-laki 5,2 sedangkan wanita 2,2 kasus per 100.000 ribu penduduk.

Berdasarkan peringkat di Situs Statista tahun 2016, berikut 10 besar negara dengan angka rata-rata bunuh diri tertinggi di dunia:

1. Lithuania (31,9 kasus per 100.000 penduduk)
2. Rusia (31 kasus per 100.000 penduduk)
3. Guyana (29,2 kasus per 100.000 penduduk)
4. Korea Selatan (26,9 kasus per 100.000 penduduk)
5. Belarus (26,2 kasus per 100.000 penduduk)
6. Suriname (22,8 kasus per 100.000 penduduk)
7. Kazakhstan (22,5 kasus per 100.000 penduduk)
8. Ukraina (22,4 kasus per 100.000 penduduk)
9. Latvia (21,2 kasus per 100.000 penduduk)
10. Belgia (20,7 kasus per 100.000 penduduk).

Sementara di Indonesia kasus bunuh diri sebesar 3,7 per 100.000 penduduk yang menempatkan Indonesia pada urutan 114 dunia.

(mdk/did)