74 Persen Warga AS Nilai Kematian George Floyd Berakar Masalah Ketidakadilan Rasial

74 Persen Warga AS Nilai Kematian George Floyd Berakar Masalah Ketidakadilan Rasial
DUNIA | 6 Juni 2020 12:42 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Hampir tiga perempat warga Amerika Serikat memandang kematian George Floyd di tangan polisi kulit putih sebagai tanda masalah ketidakadilan rasial yang mendasar. Demikian hasil survei terbaru yang dilakukan ABC News/Ipsos, sebuah pergeseran signifikan dari pertanyaan yang sama pada survei enam tahun lalu.

Survei ini menunjukkan peningkatan lebih dari 30 poin dalam keyakinan bahwa peristiwa baru-baru ini mencerminkan masalah yang lebih luas atas ketidakadilan rasial, dibandingkan hasil survei ABC News/Washington Post pada Desember 2014, empat bulan setelah penembakan remaja kulit hitam 18 tahun, Michael Brown, oleh seorang polisi kulit putih, dan lima bulan setelah kematian Eric Garner, seorang pria kulit hitam, meninggal setelah lehernya dijerat seorang petugas kulit putih.

Dalam survei 2014, 43 persen orang Amerika mengatakan contoh-contoh itu menunjukkan tanda-tanda masalah yang lebih luas, sementara 51 persen menyebutnya insiden tersendiri.

Dalam survei ABC News/Ipsos yang baru, yang dilakukan oleh Ipsos dalam kemitraan dengan ABC News menggunakan Panel Pengetahuan Ipsos, hanya 26 persen percaya bahwa insiden itu adalah insiden tersendiri atau terpisah dari persoalan rasial. Demikian dikutip dari ABC News, Sabtu (6/6).

Mayoritas kulit putih (70 persen), kulit hitam (94 persen), Hispanik (75 persen), Demokrat (92 persen), Partai Republik (55 persen) dan independen (71 persen) setuju bahwa apa yang terjadi pada Floyd menunjukkan kerusakan sistemik antara penegakan hukum dan komunitas kulit hitam di negara itu.

Pada survei 2014, 60 persen warga kulit putih berpendapat insiden di Ferguson dan New York City adalah insiden terpisah, dibandingkan dengan 75 persen warga kulit hitam dan 51 persen Hispanik yang meyakini insiden itu adalah masalah yang lebih luas.

Survei dilakukan di tengah meluasnya unjuk rasa di sejumlah kota di AS, termasuk ketika sejumlah unjuk rasa berujung kerusuhan. Tak hanya menghadapi demonstrasi besar, AS juga tengah menghadapi krisis virus corona. Kedua persoalan menurunkan tingkat penerimaan warga AS terhadap Presiden Trump.

1 dari 1 halaman

Tingkat Penilaian Warga AS Terhadap Trump Rendah

Pada pekan kedua sejak ABC News dan Ipsos mulai melakukan survei tentang virus corona pada pertengahan Maret, tingkat penerimaan terhadap Trump terkait kinerjanya dalam merespons virus corona tetap pada angka terendah 39 persen. Enam dari 10 orang Amerika tidak setuju dengan penanganan virus oleh presiden.

Angka terbaru datang saat kasus Covid-19 mendekati angka 1,9 juta dan korban tewas melampaui 108.000 jiwa.

"Bagi saya, dia tidak bertindak cukup cepat (dalam menangani virus corona)," kata seorang pemilih dari Partai Republik yang berencana mendukung Trump pada Pilpres November mendatang, dalam wawancara lanjutan pada Rabu setelah berpartisipasi dalam jajak pendapat ABC News/Washington Post yang dirilis awal pekan ini.

Sementara itu tingkat persetujuan atau penerimaan warga AS atas respons Trump terhadap kematian Floyd lebih rendah.

Hanya 32 persen orang Amerika menyetujui reaksi Trump setelah kematian Floyd, yang telah memicu ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan di puluhan kota menuntut keadilan rasial, sementara sekitar dua pertiga tidak setuju.

Namun, rintangan yang lebih besar bagi presiden adalah perbedaan persetujuan di antara mereka yang berada di partainya sendiri terkait dua masalah ini.

Sementara 84 persen dari Partai Republik menyetujui tindakan presiden dalam penanganan virus corona, hanya 69 persen Republikan yang menyetujui tindakan Trump atas kematian Floyd.

Sementara itu dari kalangan Demokrat, 95 persen menilai Trump gagal dalam menangani krisis Covid-19 dan 96 persen tak menyetujui tindakan Trump dalam menangani kematian Floyd.

Mayoritas lintas kelompok ras, juga, tidak menyetujui tanggapan presiden atas kematian Floyd, dengan teguran tajam presiden datang dari orang kulit hitam, dengan 90 persen tidak setuju, dibandingkan dengan 59 persen kulit putih dan 74 persen orang Hispanik.

Jajak pendapat ABC News/Ipsos ini dilakukan oleh Ipsos Public Affairs ‘KnowledgePanel pada 3-4 Juni 2020, dalam bahasa Inggris dan Spanyol, di antara sampel nasional acak yang terdiri dari 706 orang dewasa, dengan sampel yang melebihi responden kulit hitam dan Hispanik. Hasil memiliki margin kesalahan pengambilan sampel sebesar 4,3 poin. (mdk/ded)

Baca juga:
Kasus George Floyd Bukti Kemunduran Champion Human Right di Negeri Paman Sam
Profil 4 Polisi Terlibat Pembunuhan George Floyd, Salah Satunya Baru Bertugas 4 Hari
Menhan AS Tolak Kerahkan Tentara untuk Hadapi Demonstran Kematian George Floyd
Mantan Menhan AS: Trump Ingin Memecah-Belah Rakyat Amerika
Fakta Baru Terungkap, George Floyd Positif Covid-19

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agama Sejatinya Tidak Menyulitkan Umatnya - MERDEKA BICARA with Menteri Agama Fachrul Razi

5