Ahli mengatakan video ISIS menyandera warga Jepang palsu

Ahli mengatakan video ISIS menyandera warga Jepang palsu
ISIS tawan dua pria Jepang. ©AFP PHOTO
DUNIA | 24 Januari 2015 13:33 Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro

Merdeka.com - Veryan Khan, direktur editorial untuk Riset Terorisme dan Analisis Konsorsium mengatakan video ISIS yang muncul pada Rabu (21/1) lalu dibuat dengan latar belakang sebuah layar hijau bukan dengan latar belakang gurun. Dia menganalisis sumber cahaya yang ada datang dari dua arah yang berbeda.

Cahaya tersebut dianggap sebagai cahaya matahari yang cerah sehingga jika dilihat sekilas, video tersebut tampak dibuat diluar ruangan dengan sinar matahari yang alami.

"Karena cahaya tersebut, bayangan mereka dibelakang layar menyatu. Jadi tidak terlihat karena bayangannya berkumpul," kata Veryan kepada The Associated Press seperti dilaporkan Fox News, Jumat (23/1).

"Para sandera terlihat terganggu oleh cahaya lampu tersebut," lanjutnya.

Dia juga mengatakan pakaian yang dikenakan sandera berkibar-kibar layaknya terkena angin itu juga tak bisa membuktikan video tersebut asli. Menurutnya jika memang benar angin gurun, seharusnya sangat kencang dan berisik sehingga mempengaruhi kualitas suara di video, sedangkan dalam video itu, suara si penyandera sangat jernih.

Video yang ditujukan untuk pemerintah Jepang agar menyediakan uang Rp 2,5 triliun untuk membebaskan warga mereka yang disandera ISIS sudah habis masa berlakunya. Dalam video disebutkan jika waktu yang diberikan untuk pemerintah Jepang hanya 72 jam dimulai dari dirilisnya video tersebut.

Hingga kini masih belum jelas bagaimana nasib kedua tawanan itu. Sebuah akun Twitter yang berhubungan dengan ISIS mengatakan jika kedua sandera telah dibunuh lantaran Jepang tak membayar sampai batas waktu yang ditentukan dan akan merilis video mereka nanti, namun hingga saat ini belum ada rilis video baru dari ISIS.

Sementara itu, ibu Kenji Goto, salah satu korban sandera, mengatakan meminta pemerintah Jepang bertindak untuk menyelamatkan anaknya.

"Waktu hampir habis. Tolong pemerintah Jepang selamatkan nyawa anak saya. Anak saya bukan musuh Negara Islam," ujar Junko Ishido sambil menangis.

(mdk/ard)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini