Amnesty Internasional Ungkap 106 Tewas dalam Unjuk Rasa Kenaikan Harga BBM di Iran

DUNIA | 20 November 2019 11:10 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Amnesty Internasional mengungkapkan laporan pada Selasa bahwa sedikitnya ada 106 orang tewas selama unjuk rasa di Iran karena kenaikan harga BBM. Pemerintah Iran, yang belum mendata jumlah korban dari unjuk rasa itu pada Senin, belum menanggapi laporan tersebut.

"Diyakini angka yang tewas bisa lebih banyak, dengan beberapa laporan menyebutkan sampai 200 korban tewas," kata Amnesty dalam pernyataannya, dilansir dari laman Haaretz, Rabu (20/11).

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan pada Selasa, unjuk rasa berkaitan persoalan keamanan, bukan harga BBM, dan menurutnya unjuk rasa tidak dilakukan oleh rakyat.

"Kawan dan musuh seharusnya tahu kami mendorong musuh kembali ke arena militer, politik, dan keamanan. Tindakan beberapa hari ini terkait keamanan, bukan dari rakyat," ujarnya dikutip dari situs resminya.

Sejak aksi unjuk rasa berlangsung, Iran memblokir internet dan mengerahkan polisi dan pasukan anti huru hara untuk memadamkan situasi. Unjuk rasa diyakini masih akan terus berlanjut di negara tersebut.

Sementara itu kelompok garis keras di Iran mengancam demonstran yang anarkis dengan hukum gantung saat unjuk rasa berlangsung secara sporadis atas kenaikan harga BBM yang ditetapkan pemerintah, PBB khawatir aksi unjuk rasa akan menyebabkan jatuhnya korban yang lebih besar.

Belum jelas berapa orang yang ditangkap, terluka maupun tewas dalam aksi unjuk rasa yang dimulai pada Jumat lalu dan secara cepat menyebar di 100 kota di Iran. Pemerintah mematikan akses internet pada Sabtu.

Pihak berwenang juga belum memberikan data jumlah korban secara keseluruhan. Media pemerintah menunjukkan video pembakaran Alquran di salah satu masjid di pinggiran kota Teheran serta unjuk rasa pro pemerintah.

1 dari 1 halaman

Beban Baru Rakyat Iran

Kenaikan harga BBM menjadi beban baru bagi warga Iran yang juga merasakan dampak dari jatuhnya nilai mata uang, menyusul penarikan diri Amerika Serikat secara sepihak dari perjanjian nuklir Iran tahun 2015, dan penerapan kembali sanksi AS yang melumpuhkan Iran.

Presiden Iran, Hassan Rouhani berjanji kenaikan harga BBM akan digunakan untuk subsidi warga miskin. Namun kebijakan itu ditentang secara luas warga Iran.

Seorang akuntan, Maryam Kazemi (29) dari Khaniabad, Teheran selatan, mengatakan kenaikan harga BBM semakin menekan rakyat kecil.

"Itu keputusan yang buruk di waktu yang salah. Situasi ekonomi sekian lama ini sulit bagi orang-orang dan Rohani tiba-tiba menerapkan keputusan soal BBM, katanya. (mdk/pan)

Baca juga:
Bocoran Kabel Intelijen Ungkap Pengaruh Kuat Iran dalam Pemerintahan Irak
12 Anggota Garda Revolusi Iran Tewas Terkena Ranjau Darat di Suriah
Usai Antar Kosmetik ke Dubai, Kapal Berbendera Iran Kehabisan BBM di Selat Malaka
Unjuk Rasa Memprotes Kenaikan Harga BBM di Iran Berujung Ricuh
Mengaku Jadi Mata-Mata, Dua Warga Iran Ditangkap di AS
Dalam 24 Jam Aparat Keamanan Irak Tembak Mati 13 Demonstran

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.