Ancaman Erdogan dan Bentrokan Turki-Rusia di Suriah yang Tak Terelakkan

Ancaman Erdogan dan Bentrokan Turki-Rusia di Suriah yang Tak Terelakkan
DUNIA | 20 Februari 2020 07:13 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengancam akan melancarkan operasi militer besar-besaran di Provinsi Idlib, Suriah, akhir bulan ini jika Damaskus tidak menarik mundur pasukan Suriah dari posisi tentara Turki di wilayah itu.

"Operasi (militer) di Idlib tidak terelakkan," kata Erdogan di hadapan anggota parlemen dari partainya kemarin. "Kita sedang menghitung mundur. Kami sedang memberi peringatan terakhir."

Rusia yang selama ini merupakan sekutu utama Suriah selama hampir sembilan tahun konflik berlangsung menanggapi pernyataan Erdogan itu dengan mengatakan segala bentuk serangan Turki terhadap pasukan Suriah di Idlib adalah "skenario terburuk" yang akan terjadi.

"Jika kita bicara tentang operasi militer terhadap Republik Suriah sebagai otoritas yang punya legitimasi dan pasukan bersenjata maka tentu ini akan menjadi skenario terburuk," kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, seperti dilansir laman Aljazeera, Rabu (19/2).

1 dari 3 halaman

Ankara yang selama ini menyokong sejumlah kelompok pemberontak di sebelah barat laut Suriah berang lantaran serangan pasukan pemerintah Suriah di Idlib menewaskan 13 tentara Turki dalam dua pekan terakhir.

Erdogan mengatakan pembicaraan dengan Rusia soal wilayah kantong terakhir pemberontak di Suriah telah gagal mencapai kesepakatan dan dia mengancam akan melancarkan operasi militer yang akan tiba hanya dalam hitungan waktu.

Erdogan menuturkan Turki bertujuan menjadikan Idlib zona aman apa pun risikonya meski pembicaraan dengan Rusia yang mendukung pasukan Suriah terus berlanjut.

"Kami tidak akan menyerahkan Idlib kepada rezim Suriah yang tidak paham dengan tekad kami dan kami menolak siapa pun yang mendesak kami untuk melakukannya," kata Erdogan.

2 dari 3 halaman

Pasukan Suriah yang setia kepada Presiden Basyar al-Assad kini makin gencar melancarkan serangan ke kantong terakhir pemberontak di Idlib dan sudah berhasil menguasai penuh Aleppo.

Sekitar 900.000 warga di Idlib terpaksa mengungsi dan mencari perlindungan dalam tiga bulan belakangan, termasuk sekitar 500.000 anak sejak pasukan Suriah melancarkan operasi besar-besaran ke Idlib.

Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan soal bencana kemanusiaan di wilayah barat laut Suriah yang kini dilanda peperangan.

Presiden Assad berjanji akan terus melanjutkan operasi dan membebaskan seluruh jengkal wilayah Suriah dari tangan pemberontak.

3 dari 3 halaman

Pada September 2018, Turki, Rusia, dan Iran--para pemain utama dalam konflik di Suriah--sepakat menjadikan Provinsi Idlib sebagai zona de-eskalasi dan menyatakan segala bentuk serangan ke daerah itu dilarang tapi setiap pihak boleh mendirikan pos pemantauan militer.

Namun pada kenyataannya masing-masing kubu saling menyalahkan atas pelanggaran kesepakatan itu dan sejumlah gencatan senjata gagal bertahan.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam jumpa pers kemarin mengatakan pasukan pemerintah Suriah sudah mematuhi kesepakatan sebelumnya di wilayah itu tapi mereka juga bereaksi ketika ada provokasi. Lavrov menuturkan, serangan pemberontak terhadap pasukan Suriah dan Rusia di Idlib masih terus terjadi. (mdk/pan)

Baca juga:
Situasi Kian Genting, Turki Kirim 300 Kendaraan Militer ke Suriah
Pertama Kali Setelah 9 Tahun, Perang Besar Turki-Suriah di Ambang Mata
Trump, Turki Minta Rusia Berhenti Dukung Rezim Suriah
Pesawat Tergelincir Hingga Terbelah di Turki, Tiga orang Tewas
Tergelincir, Pesawat Boeing Terbelah 3 di Turki
Kondisi Parah Kota di Turki Usai Diguncang Gempa Magnitudo 6,8

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami