Aneka Penyiksaan Ini Jadi Bukti Kekejaman China Kepada Muslim Uighur

DUNIA | 21 November 2019 06:10 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Muslim Uighur mengalami diskriminasi selama berada di China. Nasib mereka mirip dengan yang dirasakan etnis Rohingya. Perlu diketahui, etnis Uighur merupakan etnis minoritas di China yang secara kultural dekat dengan bangsa Turk, daripada mayoritas bangsa Han beragama muslim yang diterima China.

Bangsa Uighur muncul di China pada awal abad 20. Mereka mendeklarasikan kemerdekaan dengan nama Turkestan Timur. Ini bisa menjadi penyebab, mengapa muslim Uighur dekat dengan bangsa Turk. Menurut kajian yang dilansir Global Voices menunjukkan, kecurigaan Beijing terhadap etnis Uighur atau orang-orang Muslim Uighur berakar sejak dua abad lalu.

Ada banyak kecurigaan Beijing, China, terhadap Uighur. Mereka dianggap ingin melepaskan diri dari RRC. Oleh sebab itu, 10 juta warga Uighur dipersulit untuk membuat paspor. Selain itu, pemerintah China juga mencurigai etnis Uighur masuk ke dalam jaringan teroris dan juga menjadi pemberontak, dan masih banyak lagi kecurigaan Pemerintah China terhadap Uighur.

Karena banyaknya kecurigaan, pada akhir 2016, pemerintah China memenjarakan ratusan ribu etnis Uighur. Tak hanya dipenjara, Pemerintah China juga melakukan banyak penyiksaan terhadap etnis minoritas di China tersebut.

Berikut Kekejaman yang dilakukan China kepada etnis minoritas muslim Uighur:

1 dari 6 halaman

Berbagai Penyiksaan di Dalam Sel Tahanan

Dua puluh satu tahanan tinggal dalam sebuah ruangan kecil di kamp pendidikan ulang China. Mereka diborgol, dibotaki, setiap gerakan diawasi melalui kamera plafon. Sebuah ember di pojok ruangan menjadi toilet mereka. Aktivitas harian mulai pukul 06.00. Mereka belajar bahasa China, menghapal lagu propaganda dan mengakui dosa-dosa mereka. Usia mereka remaja sampai dewasa. Jatah makan mereka sedikit; sup dingin dan sepotong roti.

Penyiksaan yang dialami mereka antara lain ditusuk paku, kuku dicopot, disetrum. Hal itu dilakukan di 'ruang gelap'. Hukuman berlangsung terus menerus. Tahanan dipaksa meminum obat dan disuntik. Tujuannya untuk pencegahan penyakit, kata staf penjara kepada mereka. Tapi pada nyatanya mereka jadi kelinci percobaan medis. Banyak dari tahanan menderita penurunan fungsi kognitif. Beberapa pria menjadi mandul. Perempuan kerap diperkosa.

2 dari 6 halaman

Kaum Perempuan Diperkosa Berulang Kali

Sayragul Sauytbay (43), seorang guru yang melarikan diri dari China dan mendapat suaka di Swedia. Beberapa tahanan berhasil kabur dan mengisahkan pengalaman mereka, menceritakan kondisi wanita di kamp pendidikan ulang China. Sauytbay mengatakan polisi akan membawa gadis-gadis cantik. Mereka bisa membawa siapapun yang mereka suka. Dia juga mengungkapkan kasus pemerkosaan massal.

Sauytbay menceritakan, awalnya polisi memeriksa apakah pendidikan itu berhasil. Kemudian, polisi-polisi itu membawa 200 tahanan ke luar, laki-laki dan perempuan, dan memerintahkan kepada salah seorang perempuan untuk mengakui dosa-dosanya.

"Dia berdiri di depan kami dan menyatakan bahwa dia sebelumnya orang jahat, tetapi sekarang setelah belajar bahasa China, dia menjadi orang yang lebih baik. Ketika dia selesai berbicara, polisi memerintahkan dia untuk lepas jubah dan memperkosanya satu demi satu, di depan semua orang. Sementara mereka memperkosanya, mereka memeriksa untuk melihat bagaimana kami bereaksi. Orang-orang yang memalingkan kepala atau memejamkan mata, dan mereka yang terlihat marah atau terkejut, dibawa pergi dan kami tidak pernah melihat mereka lagi," kata Sauytbay.

Salah satu tahanan Uighur yang sudah berapa di kamp pendidikan selama 4 tahun, Ruqiye Perhat (30), mengaku pernah diperkosa berulang kali oleh para penjaga kamp dan hamil dua kali, yang kemudian terpaksa digugurkan.

3 dari 6 halaman

Sel Penjara Sempit dan Toilet Berupa Satu Ember

Kamp Pendidikan China yang dihuni etnis Uighur hanya berukuran 16 meter persegi, dihuni 20 orang dan ada kamera di setiap ruangan dan koridor. Setiap ruangan disediakan satu ember plastik sebagai toilet. Setiap tahanan hanya diberikan dua menit untuk menggunakan toilet setiap hari, dan ember itu dikosongkan hanya sekali dalam sehari. Jika penuh, maka harus menunggu sampai hari berikutnya.

Tak hanya itu saja, tangan dan kaki mereka diborgol juga setiap hari kecuali saat sedang menulis. Bahkan saat tidur mereka diborgol, mereka hanya diperbolehkan tidur menghadap kanan, jika berubah, maka akan dihukum.

Sauytbay memperkirakan ada sekitar 2.500 tahanan di kamp tersebut. Tahanan tertua seorang perempuan berusia 84 tahun dan termuda adalah anak laki-laki 13 tahun.

4 dari 6 halaman

Dipaksa Mengaku Berdosa dan Belajar Bahasa Mandarin

Sayragul Sauytbay harus mengajarkan para tahanan, yang kebanyakan penutur bahasa Uighur dan Kazakh, berbahasa Mandarin dan lagu propaganda Partai Komunis. Ada juga jam-jam tertentu untuk belajar lagu propaganda dan mengucapkan slogan dari poster-poster bertuliskan: "Saya cinta China," "Terima Kasih Partai Komunis," "Saya China," dan "Saya Cinta Xi Jinping".

Pada sore dan malam hari adalah jadwal pengakuan perbuatan jahat dan pelanggaran moral. Hal yang dianggap dosa seperti melakukan praktik keagamaan, tidak mengerti bahasa dan budaya China, dan kelakuan tak bermoral.

5 dari 6 halaman

Digantung, Dipukuli, dan Kuku Jari Dicabut

Komandan kamp menyediakan ruang untuk penyiksaan yang disebut "ruang gelap" karena tahanan dilarang membicarakannya secara terang-terangan. Beragam jenis penyiksaan dihadapi para tahanan seperti digantung di tembok, dipukul dengan tongkat elektrik. Ada juga kuku tahanan yang dicabut.

"Saya melihat tahanan yang kembali dari ruangan itu berdarah-darah. Beberapa kembali tanpa kuku di jarinya," kata Sayragul Sauytbay.

Alasan tahanan dihukum di antaranya karena tidak belajar bahasa Mandarin dengan baik atau tidak menyanyikan lagu propaganda. Sauytbay juga mengaku pernah dihukum dengan dipukul dan tak diberi jatah makan selama dua hari.

6 dari 6 halaman

Tahanan Jadi Kelinci Percobaan Medis

Sayragul Sauytbay juga mengaku menyaksikan bagaimana tahanan dijadikan kelici percobaan medis. Tahanan akan diberikan pil atau suntikan dengan dalih mencegah penyakit.

"Tapi perawat mengatakan kepada saya diam-diam pil itu berbahaya dan saya tidak boleh meminumnya," kata Sauytbay.

Efek pil itu bermacam-macam. Ada tahanan yang mengalami penurunan fungsi kognitif. Perempuan berhenti menstruasi dan laki-laki menjadi mandul, berdasarkan spekulasi yang muncul. Jika tahanan benar-benar sakit, mereka tak mendapat pengobatan. (mdk/dan)

Baca juga:
Muslim China Ungkap Perlakuan Kejam di Kamp Tahanan, Disiksa Sampai Diperkosa Massal
Bocoran Dokumen Ungkap Bagaimana China Kelola Kamp Penahanan Etnis Muslim di Xinjiang
Bahkan Jejak Kematian Pun Disingkirkan, China Hancurkan Makam Muslim Uighur
Lewat Google Earth, Aktivis Temukan 500 Titik Diduga Kamp Konsentrasi Muslim Uighur
Video Tahanan Uighur Ditutup Mata di Xinjiang Beredar di Internet
Kelompok HAM Serukan Pembebasan Anak-anak Uighur di Xinjiang