Awal Pergerakan ISIS dari Timur Tengah Menuju Filipina

DUNIA | 14 Maret 2019 06:10 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Negara Islam Irak dan Suriah atau yang dikenal ISIS memiliki banyak pengikut dari berbagai negara. ISIS menguasai wilayah berpenduduk 10 juta orang di Irak dan Suriah. Selain itu, ISIS beroperasi atau memiliki afiliasi di berbagai wilayah dunia.

Banyak teror-teror hingga bom bunuh diri terjadi. Salah satu teror yang diklaim ISIS adalah bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Pelaku yang ternyata sepasang suami istri anggota JAD (Jamaah Ansharut Daullah) yang berafiliasi dengan jaringan ISIS.

Anggota-anggota ISIS yang tersebar kini mulai bergeser dari Timur Tengah menuju Filipina. Bagaimana ceritanya?

1 dari 7 halaman

Berawal ISIS Dibentuk

Abu Sayyaf gabung ISIS. ©2016 Merdeka.com

ISIS pertama kali muncul dan ramai April 2013. Meskipun begitu, ISIS ternyata sempat berganti nama. Kelompok ini awalnya didirikan dengan nama Jama'at al-Tawhid wal-Jihad pada tahun 1999, lalu bergabung dengan al-Qaeda pada tahun 2004.

Kelompok ini menjadi kelompok jihad utama yang memerangi pasukan pemerintah di Suriah dan membangun kekuatan militer di Irak. Dalam konteks jihad global disebut Levant, merujuk kepada wilayah di Timur Tengah yang meliputi Israel, Yordania, Lebanon, wilayah Palestina, dan juga wilayah Tenggara Turki.

2 dari 7 halaman

ISIS Mulai Lemah di Timur Tengah

Bom Mobil Taliban di Afghanistan. ©REUTERS/Mohammed Ismail

ISIS pernah mengalami masa kejayaan ketika mereka menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah. Tak hanya itu, mereka juga memperluas kekuasannya hingga ke wilayah Libya, Nigeria, Afghanistan, Afrika Selatan hingga Afrika Utara.

Pada Maret 2015, ISIS menjadi satu-satunya kelompok militan yang paling ditakuti karena kerap melakukan serangan yang menewaskan ribuan warga sipil dan juga melancarkan teror di Negara Barat. Tujuan mereka adalah membentuk negara yang berdasar kepada kekhalifahan.

Namun kini, gaung ISIS mulai meredup. Dalam 15 bulan masa kejayaannya, kelompok militan yang dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi itu mulai mengalami senjakala setelah mengumumkan kekhalifahan pada Juni 2014.

Sebab kekalahan ISIS mulai bisa disimpulkan setelah pasukan Rusia menyerang ladang minyak ISIS, satu-satunya sumber pendapatan terbesar ISIS. Akibatnya, pemasukan ISIS dari segi keuangan mulai kacau.

3 dari 7 halaman

Anggota ISIS Banyak yang Membelot

Militan ISIS di Afghanistan menyerah. ©REUTERS/Stringer

Karena lemahnya ISIS itulah, banyak anggota yang membelot karena penghasilan mereka dipotong dan tidak diberi jatah makan. Persediaan senjata pun semakin berkurang sehingga mereka kalah kuat saat berperang. Puncaknya, wilayah kekuasaan ISIS semakin menyusut karena berhasil direbut kembali.

"Pada 2016 kita melihat kekalahan besar (ISIS) di wilayah timur laut terus ke selatan menuju Raqqa dan Deir al-Zour, Suriah, setelah pasukan Kurdi dan Pasukan Demokratik Sunni Suriah (SDF) merangsek ke daerah itu dengan dukungan serangan udara Amerika Serikat dan Rusia," kata Columb Strack, pengamat senior di IHS Janes.

4 dari 7 halaman

Kekalahan ISIS Karena Banyak Pentolan yang Tewas

Anggota bom bunuh diri ISIS kabur. ©Liveleak

Kekalahan ISIS juga merupakan dampak dari banyaknya pentolan ISIS yang dikabarkan tewas dalam serangan. Salah satunya adalah seorang pemimpin ISIS dikenal sebagai 'emir' sekaligus 'menteri perang' yang pernah dilatih Amerika Serikat, Deir Azzor Abu Muhammad al-Shimali.

Bukan hanya al-Shimali saja yang diberitakan tewas, pemimpin ISIS Baghdadi juga berkali-kali dikabarkan tewas dalam serangan udara Rusia. Meski kabar tersebut belum bisa dipastikan karena tidak ada bukti yang akurat, namun hal itu cukup membuat struktur organisasi kepemimpinan ISIS jadi tumbang.

Usai kekalahan telak, kini ISIS akan segera meninggalkan kota Raqqa usai dikepung oleh milisi Suriah yang didukung Amerika Serikat. Mereka akan bergabung dengan warga sipil yang dievakuasi dari bekas ibu kota ISIS itu.

5 dari 7 halaman

Kabar ISIS akan Bangkit Kembali di Suriah dan Sinai

ISIS eksekusi tentara Suriah. ©AFP PHOTO

Kabar ISIS terlibat dalam serangan teror terhadap Pasukan Demokratik Suriah (SDF), pasukan koalisi anti-ISIS dan kelompok bersenjata lainnya di Irak dan Suriah, serta serangan terhadap warga sipil di Mesir dan Libya.

Alih-alih lenyap, ISIS justru melakukan pemberontakan baru. Dengan modus operandi oportunistik, ISIS akan memanfaatkan setiap celah untuk membuktikan kejayaannya - walaupun bukan berarti kembali ke bentuk "kekhalifahan" dalam waktu dekat. Seperti keadaan di Mesir dan Suriah, ISIS kemungkinan akan mengalami kebangkitan dalam waktu dekat sebelum kehancurannya benar-benar terjadi.

Sinai di Mesir menjadi lokasi baru aktivitas ISIS setelah kehilangan wilayah di Irak dan Suriah. Beberapa situs berita pro-pemerintah Mesir, serta situs-situs berita Rusia, menuduh Turki memfasilitasi pemindahan para militan ISIS dari Suriah ke Sinai. Beberapa situs berita Turki, di sisi lain, berbicara tentang fasilitasi AS untuk pemindahan militan ISIS dari Raqqa ke Sinai setelah kesepakatan yang difasilitasi tentara pemberontak Suriah (SDF).

Di Suriah, SDF baru-baru ini mengunggah video puing-puing dampak serangan ISIS di kota Hajin. Tetapi seperti di Sinai, pertempuran melawan ISIS di Suriah masih jauh dari tuntas. Setelah kekalahan di Irak, kelompok militan itu memindahkan banyak militan asingnya dari Irak ke Suriah. Beberapa militan ISIS Irak melakukan langkah serupa.

Ketika Turki mulai menyerang SDF beberapa bulan lalu, kelompok itu mengalihkan perhatiannya dari memerangi ISIS. Dan sementara ISIS sebagian besar telah kehilangan kendali teritorial di Suriah, ISIS tetap berada di berbagai kantong di timur, utara dan selatan, memungkinkan para personelnya terlibat dalam perang gerilya.

6 dari 7 halaman

Lemah di Timur Tengah, ISIS Mungkin Bersarang di Filipina

Otak penculikan Abu Sayyaf. ©2017 istimewa

Di Filipina, ada kelompok militan bernama Abus Sayyaf. Kelompok ini berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan, dan Mindanao. Mereka dipimpin oleh Khadaffi Janjalani.

Kelompok ini pertama kali sangat mendorong perekrutan di Filipina selatan pada tahun 2016. Mereka menyebarkan video sebagai isyarat kepada militan yang tidak bisa berangkat ke Irak dan Suriah. Dari situ, kata pejabat intelijen, ratusan pejuang berdatangan dari Chechnya, Somalia dan Yaman.

Tahun berikutnya, gerilyawan yang berjanji setia kepada ISIS mengambil alih kota Marawi di Mindanao. Pada saat tentara menang lima bulan kemudian, kota berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di negara itu hancur lebur. Setidaknya 900 pemberontak tewas, termasuk pejuang asing dan Isnilon Hapilon, pimpinan ISIS Asia Timur.

Duterte menyatakan kemenangan atas ISIS. Tetapi tampaknya tidak menghalangi loyalis kelompok ini untuk berkumpul kembali.

"ISIS memiliki dana dan mereka merekrut pejuang," kata Rommel Banlaoi, ketua Lembaga Penelitian Perdamaian, Kekerasan dan Terorisme Filipina. "ISIS adalah masalah yang paling rumit dan berkembang di Filipina saat ini, dan kita tidak boleh berpura-pura bahwa mereka tidak ada karena kita tidak ingin itu ada," jelasnya.

7 dari 7 halaman

ISIS Kembali Teror Filipina

abu sayyaf. ©2016 mindanaoexaminer.com

Semenjak ISIS lemah di Timur Tengah, akhir-akhir ini terlihat bendera hitam ISIS berkibar di seberang kepulauan Filipina selatan. Salah satu teror yang diklaim dilakukan ISIS adalah dua pelaku bom bunuh diri menghancurkan halaman gereja pada Januari lalu. Saat itu Misa Minggu di katedral Katolik. Teror bom ini menewaskan 23 orang.

Beberapa hari kemudian, sebuah ilustrasi beredar dalam grup obrolan ISIS, memperlihatkan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte berlutut di atas tumpukan tengkorak dan seorang militan berdiri di atasnya dengan belati. Tulisan pada gambar tersebut berbunyi seperti sebuah peringatan: "Pertempuran baru saja dimulai."

Sejak pengeboman katedral 27 Januari di pulau Jolo, militer Filipina melakukan serangan udara dan menyiagakan 10.000 tentara di Jolo. Demikian disampaikan Kolonel Gerry Besana, juru bicara komando militer regional di kota Zamboanga.

Wilayah ISIS, yang dulu seluas Inggris, telah menyusut setelah empat tahun perang yang didukung Amerika dan pertempuran darat oleh para pejuang milisi Kurdi dan Syiah. Yang tersisa adalah sebuah desa kecil di Suriah tenggara yang bisa hancur kapan saja.

Denyut gerakan kelompok ini justru berkembang di tempat lain. Pulau Mindanao, Filipina Selatan, telah lama menjadi surga bagi para pemberontak karena hutan belantara yang lebat dan pengawasan lemah. ISIS menarik sejumlah jihadis militan. (mdk/has)

Baca juga:
Terduga Teroris di Sibolga Akui Istrinya Lebih Keras Terpapar Paham ISIS
Sunyi di Timur Tengah, ISIS Berdenyut Kencang di Filipina
Beda Nasib Pilot India yang Ditangkap Pakistan dan Pilot Yordania Saat Ditangkap ISIS
400 Militan ISIS Ditangkap Saat Kabur dari Kantong Terakhir di Suriah
Bombardir Markas ISIS dalam Serangan Terakhir di Suriah

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.