Azerbaijan tolak damai, berkukuh wilayahnya dicaplok Armenia

Azerbaijan tolak damai, berkukuh wilayahnya dicaplok Armenia
DUNIA | 8 April 2016 13:19 Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro

Merdeka.com - Sengketa wilayah antara Armenia dan Azerbaijan semakin pelik. Walau kedua negara mengupayakan gencatan senjata sepekan terakhir, namun Azerbaijan berkukuh negaranya diserang lebih dulu di kawasan Nagorno-Karabakh.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (8/4), Duta Besar Azerbaijan untuk RI Tamerlan Garayev menuding Armenia berambisi merebut 20 persen wilayah yang secara sah milik negaranya. Tindakan militer Armenia mendukung pasukan separatis Yerevan, menurut Garayev, merupakan pemicu utama kedua negara kembali bentrok setelah dua dekade berdamai.

"Sedikitnya satu juta orang harus mengungsi dari wilayah kami yang diokupasi Armenia," ujar Garayev.

Armenia disebut melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 882, 853, 874 dan 884 tentang integritas teritorial Azerbaijan. Garayev menceritakan, rakyat negaranya masih ingat situasi perang sepanjang kurun 1992 hingga 1994. Tindakan tentara Armenia pada orang Azerbaijan menyerupai genosida.

"Sejak 1992 hingga 1994, Armenia seperti kalap dan terus-terusan. Sejak awal kami merdeka, hingga kini, mereka menggunakan senjata untuk melukai warga sipil kami," kata Garayev.

tank armenia di perbatasan nagorno

Tank Armenia bersiaga di perbatasan Nagorno (c) 2016 Merdeka.com/AFP

Sikap Dubes Garayev yang melontarkan pernyataan bermusuhan pada Armenia, mengikuti garis politik yang sudah dicanangkan Presiden Ilham Aliyev. Sang presiden Azerbaijan itu sejak 2014 berulang kali menyatakan negaranya dalam situasi perang melawan Armenia karena sengketa wilayah tak mencapai titik temu.

Nagorno-Karabakh sejak 1994 menjadi wilayah semi-otonom yang tidak diperintah siapapun, walau peta internasional masih memasukkannya sebagai wilayah Azerbaijan. Status quo ini adalah jalan tengah, agar Armenia maupun Azerbaijan berhenti berperang. Namun negosiasi untuk menuntaskan batas wilayah sampai sekarang sulit tercapai. Perang dua dekade lalu memakan korban tewas hingga 30 ribu orang.

Adapun pada Sabtu (2/4) pekan lalu, kontak senjata terjadi antara militer Armenia dan Azerbaijan di wilayah sengketa. Sedikitnya 35 tentara tewas. Insiden itu adalah konflik terburuk di Nagorno-Karabakh sejak perjanjian damai diteken pada 1994. Rusia, Uni Eropa, serta Amerika Serikat meminta kedua negara menahan diri agar tidak jatuh korban jiwa lebih banyak.

Sementara ini, pemerintah Armenia berusaha meredam ketegangan. Duta besar Armenia untuk RI, Anna Aghadjanian, mengatakan pihaknya menginginkan perdamaian abadi dengan Azerbaijan lewat jalur perundingan.

"Kami harap situasi menjadi lebih baik lagi. Kami berharap usaha komunitas internasional tidak sia-sia dan juga Azerbaijan kembali ke meja perundingan," ujarnya saat ditemui di Jakarta kemarin. (mdk/ard)

Baca juga:
Armenia-Azerbaijan saling tembak di zona sengketa, 30 tentara tewas
Dubes Armenia: Kami ingin berdamai permanen dengan Azerbaijan
Presiden Azerbaijan nyatakan perang dengan Armenia via Twitter
Pemerintah kejar minyak ke Azerbaijan
Berebut pulau kecil, Kanada-Denmark 'perang' botol whiskey

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami