Banyak Polisi di AS Turun ke Jalan Ikut Demo Kematian George Floyd

Banyak Polisi di AS Turun ke Jalan Ikut Demo Kematian George Floyd
DUNIA | 1 Juni 2020 18:11 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Saat demonstrasi berujung kerusuhan karena memprotes brutalitas polisi terjadi di seluruh Amerika Serikat (AS), beberapa petugas polisi justru ikut turun ke jalan, bergabung dengan para demonstran atas nama solidaritas.

Unjuk rasa di AS, Kanada, dan sejumlah negara Eropa pecah setelah kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam yang meninggal di tangan seorang petugas kepolisian Minneapolis, Derek Chauvin. Chauvin berlutut di leher Floyd selama 8 menit saat proses penangkapannya karena diduga membayar tagihan dengan uang palsu.

Unjuk rasa, yang beberapa aksi justru beralih menjadi aksi kekerasan, mendorong respons polisi yang beragam di seluruh AS, termasuk insiden di mana polisi menggunakan kekerasan dalam menghadapi para pengunjuk rasa.

Di New York, seorang perempuan mengaku mengalami gegar otak setelah seorang petugas polisi mendorongnya dan terjatuh ke trotoar. Sebuah video menunjukkan seorang petugas kepolisian New York (NYPD) menarik masker seorang pria dan menyemprotkan cairan merica saat dia mengangkat tangan. Tetapi di beberapa negara bagian, beberapa petugas polisi memilih jalur yang berbeda.

Dilansir dari Global News Kanada, Senin (1/6), di Texas Selatan, polisi terlihat membawa kotak pizza. Polisi di Santa Cruz, California, tertangkap kamera bertekuk lutut dalam aksi damai dengan para pengunjuk rasa.

Di luar kantor polisi Dakota Utara, foto petugas polisi kulit putih membantu sejumlah pengunjuk rasa membawa tanda bertuliskan, "Satu Ras, Ras Manusia."

Di Flint, Michigan, seorang polisi di Genesee County, Chris Swanson melepas helm dan tongkatnya untuk bergabung bersama para demonstran.

Dalam sebuah wawancara dengan Global News, Swanson mengatakan, warga AS, khususnya warga kulit hitam AS, berada pada puncak frustrasi dengan polisi dan hal itu dapat dipahami.

Ketika mengingat unjuk rasa pada Sabtu, dia mengatakan kerumunan berubah dari apa yang digambarkan Swanson sebagai "kemarahan dan permusuhan" saat ia meletakkan senjatanya dan mulai mendengarkan para pengunjuk rasa.

"Kita harus mengawasi diri sendiri. Kami tidak dapat mengubah apa yang salah menjadi benar," ujarnya.

Video unjuk rasa pada Sabtu menunjukkan Swanson saling memeluk dan tos dengan para pengunjuk rasa, dan akhirnya ikut bergabung dengan barisan para pengunjuk rasa.

"Satu-satunya alasan kami di sini adalah untuk memastikan Anda memiliki suara, dan hanya itu. Jangan berpikir sejenak bahwa (Chauvin) mewakili polisi dari seluruh wilayah dan di negara ini," jelas Swanson di hadapan para pengunjuk rasa.

Setelah bertanya kepada para demonstran apa yang mereka ingin dia lakukan, mereka menjawab dengan tiga kata: berjalan bersama kami.

"Saya ingin menjadikan ini parade, bukan protes," kata Swanson kepada mereka. "Ayo jalan."

"Semua permintaan (pengunjuk rasa) adalah suara dan martabat bagi semua, tidak peduli siapa Anda," pungkas Swanson.

Sementara itu di Camden, New Jersey, video menunjukkan kepala kepolisian Joe Wysocki ikut barisan para pengunjuk rasa sambil memegang poster yang bertuliskan, "Berdiri Dalam Solidaritas."

"Kami tahu bahwa bersama-sama kami lebih kuat, kami tahu bahwa bersama-sama, di kota Camden, kami dapat menciptakan ruang di mana kepolisian difokuskan pada deeskalasi dan dialog," jelasnya dalam pernyataan surel yang dikirim ke Global News.

1 dari 1 halaman

Dikritik Gerakan Black Lives Matter

Namun kelompok gerakan Black Lives Matter New Jersey menyebut tindakan para pengunjuk rasa melibatkan polisi dalam aksi solidaritas sebagai tindakan "tidak hormat" kepada para pria kulit hitam, perempuan dan anak-anak yang terbunuh saat bersinggungan dengan polisi.

"Tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan betapa memuakkannya saat melihat orang-orang keliru memperkuat solidaritas dengan polisi sebagai citra perdamaian untuk dicita-citakan di tengah-tengah sistem dan kekerasan institusional yang diberlakukan terhadap orang kulit hitam," kata gerakan ini dalam sebuah pernyataan kepada Global News.

"Orang kulit hitam, sekarang adalah waktu lebih dari sebelumnya untuk bersandar pada satu sama lain dan mengambil tanggung jawab untuk melindungi dan mendukung satu sama lain sebaik mungkin."

Chauvin, yang kini telah ditangkap dan didakwa melakukan pembunuhan dan penyiksaan tingkat tiga, telah menjadi katalisator bagi demonstrasi di seluruh Amerika Utara, dengan pengunjuk rasa menuntut diakhirinya kebrutalan polisi terhadap komunitas kulit hitam.

Sebelum penangkapannya, Chauvin memiliki riwayat kerap menggunakan kekuatan yang berlebihan. Dia disebutkan dalam beberapa kasus yang menyebabkan kematian setidaknya dua orang kulit berwarna dan menjadi subjek dari hampir 20 laporan sebelum pemecatannya pada hari Selasa.

Floyd meninggal karena terengah-engah dan memohon bantuan di Minneapolis pada hari Senin saat lehernya ditindih Chauvin. Kalimat terakhir yang terlontar dari Floyd adalah, "saya tidak bisa bernapas." (mdk/bal)

Baca juga:
Kedubes AS di Sejumlah Negara Jadi Sasaran Demonstran Protes Kematian George Floyd
5 Fakta Derek Chauvin, Polisi yang Cekik George Floyd di Amerika Serikat
Ini yang Terjadi di Detik-Detik Terakhir Kematian George Floyd
Kerusuhan di AS, KJRI Chicago Pastikan 1.990 WNI Dalam Kondisi Aman
Kerusuhan di AS, Ketua Komisi I DPR Minta Pemerintah Pastikan Keselamatan WNI
Kematian George Floyd, Trump Ancam Demonstran Bakal Hadapi Anjing Ganas

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Jatim Bersiap Jalani Kehidupan New Normal - MERDEKA BICARA with Khofifah Indar Parawansa

5