Benarkah Sakit Mata Termasuk Gejala Covid-19?

Benarkah Sakit Mata Termasuk Gejala Covid-19?
DUNIA | 28 Mei 2020 07:07 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Secara umum kita tahu beberapa gejala virus corona seperti demam, batuk, dan hilangnya kepekaan indera perasa. Namun beberapa waktu belakangan ada juga informasi beredar bahwa infeksi virus ini juga berdampak pada penglihatan atau mata.

Kemungkinan Covid-19 bisa berdampak pada indera penglihatan menjadi sorotan setelah kepala penasihat Perdana Menteri Inggris, Dominic Cummings berusaha menjelaskan kenapa dia mengunjungi klinik kecantikan saat kunjungan kontroversialnya ke Durham saat lockdown.

Cummings mengaku melakukan pemeriksaan mata saat dia berkendara dari Durham ke Barnard Castle pada 12 April lalu. Dia mengaku mengalami masalah penglihatan. PM Inggris, Boris Johnson mendukung pernyataan penasihatnya, mengatakan penglihatannya juga bermasalah setelah positif Covid-19 dan memakai kacamata untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun.

Namun apakah para pakar kesehatan sependapat dengan pernyataan PM Johnson dan penasihatnya?

1 dari 2 halaman

Bukti Terbatas

Intinya, bukti yang ada sangat terbatas terkait klaim tersebut. Tapi penelitian menyebut beberapa pasien mengalami gejala gangguan penglihatan ringan. Demikian dilansir dari Sky News, Rabu (27/5).

WHO memang memasukkan konjungtivitis - yang dapat menyebabkan mata menjadi gatal dan merah - di samping gejala yang lebih umum seperti demam dan batuk terus-menerus, namun pemerintah Inggris tidak memasukkan gejala ini ke dalam pedoman penanganan virus corona.

Namun, secara luas disepakati tidak banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui dengan pasti apakah, dan sejauh mana, dampak virus corona terhadap hal ini.

Royal College of Ophthalmologists mengatakan dalam salah satu makalah ilmiahnya, beberapa kasus virus konjungtivitis yang dilaporkan di antara pasien Covid-19, tetapi "kurangnya bukti" membuat tak dapat dipastikan adanya hubungan kerusakan penglihatan dengan infeksi virus corona.

Rumah Sakit Mata Moorfields sepakat dengan pandangan ini, mengatakan pihaknya bisa mengonfirmasi tak ada hubungan antara Covid-19 dan gangguan penglihatan.

Tapi menurut profesor ophthalmologi Universitas Oxford, Professor Robert MacLaren, dia percaya beberapa pasien Covid-19 mengalami masalah penglihatan.

Dia mengacu pada salah satu penelitian 38 pasien Covid-19 di Wuhan, China. Sebanyak 12 pasien menunjukkan gejala konjungtivitis, termasuk mata merah, bengkak, berair, dan lengket.

"Mungkin benar bahwa tidak ada bukti virus corona masuk ke mata dan menyebabkan masalah khusus dengan cara yang tidak dilakukan oleh virus lain," katanya.

"Tapi tentu saja ada efek tidak langsung. Pertanyaannya seharusnya: apakah virus menyebabkan sesuatu yang berbeda dengan mata sehingga flu biasa atau influenza tidak? Karena dokter mata mana pun akan memberi tahu Anda, jika Anda batuk atau bersin, Anda akan memiliki masalah dengan penglihatan Anda. Tetapi itu tidak secara khusus terkait dengan virus corona - itu adalah efek umum dari memiliki penyakit virus."

2 dari 2 halaman

Perlu Lebih Banyak Penelitian

Tentu saja ada perbedaan antara gejala yang diderita selama serangan virus corona dan gangguan penglihatan setelah sembuh.

Untuk yang terakhir, Profesor MacLaren menyoroti sebuah penelitian di Brasil yang diterbitkan dalam jurnal kedokteran The Lancet.

Penelitian ini menunjukkan perubahan retina - terutama bintik-bintik dan perdarahan kecil - pada 12 orang dewasa yang memiliki scan retina selama masa pemulihan mereka dari Covid-19.

"Jika Anda memiliki trombosis di belakang mata Anda, tentu saja itu akan mempengaruhi penglihatan Anda," jelas Profesor MacLaren.

"Tentu saja pertanyaannya adalah apakah temuan serupa juga akan terjadi jika pasien menderita penyakit tipe influenza yang sama parahnya, tetapi disebabkan oleh virus lain."

Profesor MacLaren mengakui bahwa temuan itu insidentil dan tidak signifikan secara klinis.

Dia menambahkan, diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah ada gangguan penglihatan yang berkelanjutan setelah sembuh dari virus corona. (mdk/bal)

Baca juga:
Asosiasi Dokter Anak Jepang Ingatkan Bahaya Masker Bagi Anak di Bawah 2 Tahun
Didanai Bill Gates, Perusahaan Bioteknologi AS Uji Coba Vaksin Corona Pada Manusia
Infeksi Corona Meningkat, 15.000 Pengungsi Rohingya Dikarantina di Bangladesh
Duterte Tak akan Izinkan Sekolah di Filipina Dibuka Sampai Vaksin Corona Tersedia
Melihat Sterilisasi Masjid di Turki Jelang Dibuka Kembali
WHO Desak Indonesia Setop Penggunaan Hydroxychloroquine karena Berbahaya

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Curhat Siswa Lulusan Tanpa Ujian Nasional

5