Benarkah Terjadi Kudeta di Bolivia Hingga Memaksa Morales Mundur?

DUNIA | 13 November 2019 07:33 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Sejak akhir pekan lalu sebagian rakyat Bolivia dan sejumlah kalangan internasional masih mempertanyakan apakah di Bolivia telah terjadi kudeta setelah Presiden Evo Morales menyatakan mundur dari jabatannya setelah terjadi demonstrasi selama beberapa pekan.

Morales menuturkan dia dipaksa mundur dari jabatannya oleh kudeta yang dilakukan oposisi. Namun sebagian pembencinya menyebut Morales menyalahgunakan kekuasaan dan karena itu memicu rakyat turun ke jalan.

Apa yang memicu pergolakan di Bolivia?

Sejak Morales mengklaim memenangkan pemilu pada 20 Oktober lalu, rakyat Bolivia mulai memprotes turun ke jalan.

Sebagai penguasa Bolivia selama hampir 14 tahun atau tiga periode Morales membutuhkan selisih perolehan suara sedikitnya 10 persen untuk menghindari pemilihan putaran kedua yang kemungkinan besar akan membuat dia kalah dari serikat oposisi.

Komisi Pemilihan Umum tiba-tiba menghentikan pengumuman hasil perolehan suara dari hitung cepat yang memperlihatkan Morales unggul tapi perolehan suaranya tidak cukup untuk memenangkan putaran pertama. Dari situlah situasi kemudian berkembang menjadi tudingan adanya kecurangan hingga memicu unjuk rasa diwarnai kekerasan.

Beberapa hari kemudian Morales mendeklarasikan kemenangan dengan memperlihatkan hasil perhitungan suara yang menyatakan dia menang tipis dari pesaingnya Carlos Mesa.

Banyak kalangan di negara Amerika Latin itu meragukan pemilu berlangsung adil karena kewenangan KPU cenderung mendukung Morales.

1 dari 3 halaman

Pernyataan Militer

Morales juga memilih tetap maju dalam pilpres ini meski pada referendum 2016 rakyat menginginkan masa jabatan presiden dalam konstitusi dibatasi. Kalangan yang menentang Morales juga kecewa karena keputusan Mahkamah Agung membuat Morales bisa mengajukan diri kembali sebagai capres.

Lalu mengapa Morales memutuskan mundur?

Morales makin tertekan ketika pada Jumat lalu kepolisian di seantero negeri menyatakan bergabung dengan demonstran dan menolak mendukung sang presiden.

Sehari kemudian Organisasi Negara-negara Amerika menyatakan hasil pemeriksaan awal memperlihatkan ada pelanggaran serius pada pemilu 20 Oktober lalu.

Morales kemudian sepakat untuk melakukan pemilihan ulang tapi itu tidak membuat demo reda atau meyakinkan oposisi. Pihak oposisi mengatakan pemilu tidak akan adil selama Morales masih berkuasa.

Kelompok buruh, termasuk yang tadinya masih mendukung Morales kemudian berbalik menentangnya dan mendesak dia mundur.

Pada Minggu panglima militer Bolivia Jenderal William Kaliman mengeluarkan pernyataan untuk merespons situasi. Para pejabat militer menyarankan Morales untuk mundur.

Tak lama dari pernyataan militer itu Morales mengumumkan dirinya mundur dengan menyebut dia digulingkan oleh oposisi yang mengancam dirinya dan para pendukungnya.

2 dari 3 halaman

Apakah Itu Kudeta?

Peristiwa kudeta biasanya didefinisikan sebuah pergantian pemerintahan secara paksa lewat sebuah ancaman kekerasan oleh salah satu unsur negara, biasanya militer.

Persoalan apakah di Bolivia telah terjadi kudeta atau bukan masih menjadi sumber perdebatan di dalam negeri maupun di luar negeri.

Di satu sisi, jelas ada keterlibatan militer dalam urusan rakyat sipil di Bolivia, ujar John Polga-Hecimovich, ahli Ilmu Politik di Akademi Angkatan Laut Amerika Serikat.

Namun, tidak seperti kudeta di era Perang Dingin yang biasanya militer menduduki jalanan ibu kota dan menguasai sejumlah gedung pemerintah, militer Bolivia hanya mengeluarkan pernyataan yang "menyarankan" Morales mundur.

Dengan begitu, "kudeta" Bolivia sebetulnya hanyalah persoalan semantik kata.

"Militer tidak menggunakan kekerasan," kata Polga-Hecimovich. "Mereka hanya mengeluarkan pernyataan verbal dan tidak memberi presiden ultimatum. Bagi saya di situlah masalahnya. Kalau Anda menganggap pernyataan itu sebuah ancaman maka itu adalah kudeta. Tapi kalau tidak maka bukan kudeta."

Michael Shifter, presiden Dialog Antar-Amerika, menyoroti soal tidak adanya indikasi militer ingin berkuasa.

"Rasanya kita tidak melihat peran militer yang menyebabkan Morales mundur."

3 dari 3 halaman

Pihak Mana Saja yang Menyebut Itu Kudeta dan Siapa yang Bilang Bukan?

Sekutu Morales yang mempunyai ideologi sosialis yang sama mendukung klaim dirinya yang menyatakan dia dikudeta.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyebut peristiwa itu adalah "kudeta yang dipersiapkan dengan kekerasan."

Bekas Presiden Brasil Muiz Inaciao Lula da Silva mendukung Morales dengan mengatakan presiden Bolivia itu "dipaksa tunduk" untuk mundur.

Sementara Presiden Brasil Jair Bolsonaro yang berhaluan kanan mempertanyakan soal kudeta itu.

"Kata kudeta itu sering dipakai jika kaum kiri kalah," kata dia kepada koran Brasil O Globo. "Ketika mereka menang maka itu sah. Kalau mereka kalah maka itu kudeta." (mdk/pan)

Baca juga:
Evo Morales Terbang ke Meksiko, Tinggalkan Bolivia Usai Dapat Suaka
Kekosongan Politik di Bolivia Pasca Evo Morales Mengundurkan Diri
Presiden Bolivia Evo Morales Mundur
Pascapilpres, Wali Kota Perempuan di Bolivia Diseret dan Disiram Cat
Pasar-pasar Tradisional yang Bikin Merinding hingga Membahayakan Nyawa di Dunia