Bentuk Perlawanan, Wanita Saudi Menolak Pakai Abaya Hitam

DUNIA | 15 September 2019 16:04 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Sekelompok wanita Arab Saudi menolak penggunaan abaya serba hitam sebagai bentuk melawan aturan berpakaian yang diberlakukan negara. Upaya ini menjadi aksi lanjutan dari gerakan protes di media sosial, tahun lalu.

Mulai tahun lalu, wanita Saudi melakukan protes di media sosial untuk menuntut kebebasan berpakaian. Aksi yang dikenal dengan tagar #Abaya_InsideOut itu didukung oleh aktivis hak perempuan.

Lewat tagar #Abaya_InsideOut, sejumlah wanita mengunggah foto mereka di ruang publik tanpa mengenakan hijab ataupun abaya. Sebagian lainnya tetap mengenakan abaya, namun dengan warna-warna cerah.

Salah seorang wanita Saudi yang berani melawan aturan berpakaian itu adalah Mashael al-Jaloud. Di sebuah mal di pusat Kota Riyadh, Jaloud berjalan dalam balutan busana bernuansa oranye dan putih.

Wanita 33 tahun itu membiarkan rambut panjangnya terurai. Tanpa jilbab ataupun niqab menutupi rambut dan wajahnya, Al Araby mengabarkan.

Di antara kerumunan orang, seorang wanita berhijab menatap tajam ke arah Jaloud. Beberapa orang bahkan mengiranya sebagai selebriti.

"Apakah Anda terkenal?" tanya seorang wanita yang menghampiri Jaloud. "Apakah kamu seorang model?"

Jaloud menjawab pertanyaan itu dengan tawa, sembari mengatakan bahwa ia hanya wanita Saudi biasa.

Jaloud adalah satu dari segelintir wanita Saudi yang mulai meninggalkan abaya dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini dilakukan untuk mendorong kebebasan sosial, khususnya bagi wanita.

Selain Jaloud, Manahel al-Otaibi (24) juga memberanikan diri untuk melepas jubah hitamnya. Empat bulan sudah, wanita yang berdomisili di Riyadh, Saudi, itu melepas abayanya.

"Saya hanya ingin hidup seperti yang saya inginkan. Bebas dan tanpa batasan. Tidak ada yang harus memaksa saya mengenakan sesuatu yang tidak saya inginkan," jelasnya.

Penggunaan abaya tidak berkaitan dengan agama

Di Arab Saudi, kewajiban memakai abaya bukan hanya ditujukan bagi wanita Muslim, tetapi juga non-Muslim. Dulu, aturan tersebut dipaksakan secara fanatik oleh polisi agama.

"Tidak ada undang-undang yang jelas, tidak ada perlindungan," kata Jaloud, seperti yang dikutip oleh Al Araby pada Sabtu (14/9).

Hingga saat ini, wanita yang tidak mengenakan abaya masih mendapatkan pelecehan. Sebab, pakaian seorang wanita akan diidentikan dengan kesuciannya.

Jaloud mengatakan, keputusannya untuk melepas hijab dan abaya mungkin dapat berisiko. "Mungkin saya menjadi sasaran penyerangan dari para fanatik agama karena saya tanpa abaya," ujarnya.

Bulan Juli lalu, di mal yang berbeda di Riyadh, Jaloud ditolak masuk karena tidak memakai abaya. Saat itu, ia berusaha meyakinkan petugas keamanan dengan mengutip pernyataan Putra Mahkota Mohammed bin Salman bahwa wanita hanya diharapkan menggunakan pakaian yang layak dan sopan. Bukan berarti wajib mengenakan abaya.

Keputusan Jaloud dipandang sebagai aksi mencari popularitas publik. Seorang kerajaan Saudi bahkan mengatakan bahwa ia akan dihukum karena tindakan provokatif.

Jaloud bahkan terancam kehilangan pekerjaannya. Pasalnya, dalam aturan yang ditetapkan oleh Kementerian Tenaga Kerja Saudi, wanita yang bekerja diharapkan berpakaian sederhana dan tertutup. Hal ini mengarah pada kewajiban memakai abaya hitam.

Lepas dari sentimen tentang pakaian seorang wanita, Jaloud berpendapat bahwa abaya tidak terkait dengan agama. "Jika itu benar (terkait agama), wanita Saudi tidak akan melepaskan abaya mereka ketika berpergian ke luar wilayah Saudi," ucapnya.

Pangeran Mohammed telah mengizinkan bioskop dan konser tanpa pemisahan gender. Beberapa waktu belakangan ini pemerintah Saudi juga sudah mengizinkan wanita mengemudi. Hal ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan hak perempuan.

Meski pemerintah sudah berusah memberi kelonggaran terhadap hak-hak wanita, tetapi bukan berarti para aktivis hak wanita bisa bernapas lega. Pemerintah Saudi masih terus memenjarakan aktivis hak wanita yang mengkampanyekan kebebasan berpakaian.

Puluhan tokoh agama, jurnalis, hingga anggota keluarga kerajaan ditahan karena dipandang sebagai ancaman pemerintah.

Sebagai bagian dari liberalisasi, kerajaan telah mengundang sejumlah musisi internasional, seperti Nicky Minaj, rapper yang terkenal dengan pakaian terbuka.

"(Minaj) akan menggoyangkan punggungnya dan menyanyikan lagu tentang seks... dan kemudian semua orang mengatakan kepada saya untuk mengenakan abaya," keluh seorang wanita Saudi dalam sebuah video. "Apa-apaan!"

Minaj pada akhirnya membatalkan konsernya dengan alasan catatan HAM Saudi yang buruk.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita

Baca juga:
Harga BBM di RI Bakal Naik Imbas Penyerangan 2 Kilang Terbesar Dunia Milik Saudi
2 Kilang Terbesar Diserang Drone, Siap-siap Harga Minyak Dunia Naik
Diserang Drone, Kilang Minyak Terbesar Dunia di Arab Saudi Terbakar
2 Kilang Minyak Terbesar Dunia Ditembak Drone, AS Tuding Iran Dalang Penyerangan
Putri Raja Salman Divonis 10 Bulan Penjara Atas Kasus Kekerasan
Saudi Akan Bangun Industri Militer Sendiri

(mdk/did)