Hot Issue

Bermula dari Isu Pengeras Suara di Al-Aqsa, Israel Kembali Bombardir Gaza

Bermula dari Isu Pengeras Suara di Al-Aqsa, Israel Kembali Bombardir Gaza
Salat Idulfitri di Kompleks Masjid Al-Aqsa. ©REUTERS/Ammar Awad
DUNIA | 17 Mei 2021 07:26 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Dua puluh tujuh hari sebelum roket pertama ditembakkan dari Gaza pekan ini, sekelompok pasukan polisi Israel memasuki Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, menyuruh petugas yang merupakan warga Palestina minggir dan berjalan melintasi halaman batu kapurnya yang luas. Lalu mereka mencabut kabel pengeras suara yang menyiarkan azan dari empat menara masjid.

Itu terjadi pada 13 April malam, hari pertama bulan suci Ramadan. Itu juga merupakan Hari Peringatan di Israel, untuk menghormati mereka yang berjuang membela negaranya. Presiden Israel sedang berpidato di Tembok Ratapan, situs suci Yahudi yang terletak di bawah masjid, dan pejabat Israel khawatir azan akan menenggelamkan suara pidato Presiden Reuven Rivlin.

Insiden itu dibenarkan enam pengurus masjid, tiga saksi mata. Polisi Israel tak mau berkomentar. Insiden itu hampir tidak diketahui oleh dunia luar.

Tapi melongok ke belakang, penggerebekan polisi Israel di Al-Aqsa, salah satu situs tersuci Islam, satu dari beberapa tindakan yang menyebabkan, kurang dari satu bulan kemudian, berlanjutnya perang antara Israel dan Hamas, organisasi yang menguasai Jalur Gaza, dan kekerasan sipil antara Arab dan Yahudi di seluruh Israel.

“Ini adalah titik baliknya,” kata imam besar Yerusalem, Sheikh Ekrima Sabri, dikutip dari The New York Times, Minggu (16/5).

“Tindakan mereka menyebabkan situasi memburuk.”

Situasi semakin memburuk, meluas dan berlangsung cepat daripada yang dibayangkan siapa pun. Ini menyebabkan kekerasan terburuk antara Israel dan Palestina dalam beberapa tahun terakhir - tidak hanya dalam konflik dengan Hamas, yang telah menewaskan sedikitnya 145 orang di Gaza dan 12 di Israel, tetapi dalam gelombang serangan massa di kota-kota campuran Arab-Yahudi di Israel.

Ini juga menjadi pemicu kerusuhan di kota-kota di seluruh Tepi Barat yang diduduki, tempat pasukan Israel membunuh 11 warga Palestina pada Jumat. Roket ditembakkan ke Israel dari sebuah kamp pengungsi Palestina di Lebanon, mendorong orang-orang Yordania untuk berbaris menuju Israel sebagai bentuk protes, dan memimpin pengunjuk rasa Lebanon melintasi perbatasan selatan mereka dengan Israel.

Dan itu adalah hasil dari bertahun-tahun blokade dan pembatasan di Gaza, beberapa dekade pendudukan di Tepi Barat, dan puluhan tahun diskriminasi terhadap orang Arab di Israel. Hal ini disampaikan Avraham Burg, mantan ketua Parlemen Israel dan mantan ketua Organisasi Zionis Dunia.

“Semua uranium yang diperkaya sudah ada,” katanya.

“Tapi Anda membutuhkan pemicu. Dan pemicunya adalah Masjid Aqsa.”

Baca Selanjutnya: Sudah tujuh tahun sejak konflik...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami