Bersitegang dengan Iran di Teluk Oman, AS Kirim 1.000 Tentara ke Timur Tengah

DUNIA | 18 Juni 2019 11:59 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pelaksana tugas menteri pertahanan Amerika Serikat (AS), Patrick Shanahan, mengumumkan pengerahan sekitar 1.000 tentara ke Timur Tengah sebagai "tujuan pertahanan". Ini untuk merespons ancaman dari Iran.

"Saya telah memberi otorisasi kepada sekitar 1.000 tentara tambahan untuk tujuan defensif dalam mengatasi ancaman udara, laut, dan darat di Timur Tengah," kata kepala Pentagon Patrick Shanahan dalam sebuah pernyataan.

"Serangan Iran baru-baru ini, berdasarkan laporan intelijen yang andal dan kredibel, merupakan perilaku bermusuhan oleh Iran dan kelompok-kelompok proksi merek, yang mengancam personel dan kepentingan AS di seluruh kawasan," lanjutnya, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Selasa (18/6).

"AS tidak mencari konflik dengan Iran," kata pernyataan terkait.

Ditambahkan bahwa penempatan tersebut bertujuan "untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan personel militer yang bekerja di seluruh kawasan, dan untuk melindungi kepentingan nasional AS".

Pengumuman itu datang hanya beberapa jam setelah militer AS merilis foto-foto baru, yang diklaimnya menunjukkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) berada di belakang serangan terhadap salah satu dari dua kapal tanker di dekat Selat Hormuz.

"Iran bertanggung jawab atas serangan yang didasarkan pada bukti video dan sumber daya serta kecakapan yang dibutuhkan untuk dengan cepat menarik tambang limpet yang tidak meledak," kata Pentagon dalam sebuah pernyataan yang menyertai gambar tersebut.

Video hitam putih itu dirilis pada pekan lalu, yang disebut menunjukkan orang-orang Iran menghapus tambang limpet terkait, tetapi belum memberikan penjelasan mengapa mereka diduga melakukannya ketika militer AS berada tidak jauh darinya.

Kekhawatiran konfrontasi antara Iran dan AS telah meningkat sejak Kamis lalu, ketika dua kapal tanker minyak diserang.

Insiden itu menuai kecaman dari AS dan sekutu regionalnya, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Teheran menyangkal tuduhan itu sebagai "tidak berdasar".

Iran mengatakan pada hari Senin bahwa pihaknya akan segera melanggar batasan pada seberapa banyak uranium yang diperkaya yang dapat ditimbunnya berdasarkan kesepakatan nuklir.

Hal itu, menurut juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, sama dengan "pemerasan nuklir."

Ketegangan antara Teheran dan Washington telah meningkat sejak AS keluar dari kesepakatan nuklir Mei lalu, dengan Washington memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.

Di bawah perjanjian itu, Iran berjanji untuk mengurangi kapasitas nuklirnya selama beberapa tahun, dan memungkinkan para pengawas internasional memantau kegiatannya dengan imbalan penghapusan sanksi internasional.

Kesepakatan itu menetapkan batas pada jumlah sentrifugal yang memperkaya uranium, dan membatasi haknya untuk memperkaya uranium hingga tidak lebih tinggi dari 3,67 persen, jauh di bawah tingkat kadar senjata sekitar 90 persen.

Selain itu, ketegangan juga meningkat setelah AS memasukkan Korps Garda Revolusi Iran ke daftar hitam, termasuk menyebutnya sebagai organisasi teroris.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak Iran untuk terus mematuhi kesepakatan 2015, dan bagi semua pihak untuk menahan diri dari langkah-langkah yang dapat meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Reporter: Happy Ferdian Syah Utomo

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Putra Mahkota Saudi Tuduh Iran Bersalah atas Serangan Kapal Tanker di Teluk Oman
Kapal Tanker Minyak di Teluk Oman Diduga Ditembak Torpedo
Tak Sesuai Prinsip Islam, Polisi Tutup 547 Kafe dan Restoran di Iran
Api Lahap Fasilitas Penyimpanan Produk Minyak di Iran
Gema Takbir Idul Fitri 1440 H di Berbagai Negara
Raja Salman Ajak Negara Teluk Kerja Sama Hadapi Iran

(mdk/did)