Biksu Thailand Sebut Toleransi Umat Beragama Kerap Dicederai Ujaran Kebencian

DUNIA | 16 November 2019 22:11 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Sejumlah tokoh agama dan aktivis perdamaian dari sejumlah organisasi dari berbagai negara menghadiri peringatan Hari Toleransi Internasional yang diselenggarakan Keduataan Besar Oman di Jakarta, Sabtu (16/11). Salah satu pembicara yang hadir yaitu seorang biksu Buddha asal Thailand, Ven. Napan Santibhaddo.

Thailand adalah negara mayoritas Buddha. Tapi di wilayah selatan negara itu, mayoritas penduduknya beragama Islam. Gesekan atau konflik antar umat beragama menurut Napan Santibhaddo kerap dipicu ujaran kebencian yang kerap menyebar dengan cepat.

Kehidupan beragama masyarakat di Thailand khususnya wilayah selatan menurutnya cukup harmonis. Kendati memiliki identitas berbeda, masyarakat saling bahu membahu menebar pesan damai.

"Apa yang sesungguhnya kami lakukan adalah saling membantu, mengkomunikasikan pesan damai karena para juru damai berusaha melakukan yang terbaik untuk menghentikan orang-orang yang suka menyebarkan ujaran kebencian, mereka melakukannya setiap detik. Toleransi sudah terbangun, tapi rasa itu dicederai dan dirusak hari demi hari oleh ribuan ujaran kebencian. Jadi orang-orang yang cinta damai harus berusaha lebih keras lagi daripada orang-orang yang menyukai perang," jelasnya kepada merdeka.com di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Sabtu (18/11).

Kendala utama dalam menciptakan perdamaian menurutnya karena lebih banyak waktu dihabiskan dengan pendekatan militer. Menurutnya harus ada ruang yang lebih luas untuk perundingan damai. Hal itu bisa dimulai dari tingkat yang paling bawah di tengah masyarakat.

"Menurut saya kita harus mulai dari bawah dan secara paralel harus dimulai dari tingkat lokal, mulai dari desa, di pedalaman selatan dan masyarakat dan di seluruh negeri bagaimana membangun pengertian satu sama lain," jelasnya.

Direktur Institut Manajemen Buddha untuk Kebahagiaan dan Perdamaian (IBHAP) ini mengatakan, ada juga oknum tertentu yang sengaja ingin memecah belah masyarakat. Agar masyarakat baik Muslim dan Buddha tak mudah terpengaruh dengan upaya oknum ini, maka komunikasi dan saling pengertian masyarakat harus diperkuat.

"Kita harus menciptakan lebih banyak ruang untuk komunikasi untuk memperkuat hubungan kita dan kita harus melakukannya melalui komunitas dan di tataran nasional karena orang-orang yang berasal dari tempat jauh mungkin tidak tahu bagaimana situasi sebenarnya," jelasnya.

Menurutnya orang-orang yang suka memecah belah masyarakat adalah orang yang tak memiliki iman dan agama. Biasanya gambar provokasi sengaja disebar dan memunculkan perasaan saling curiga dan menciptakan kebencian baru.

"Orang-orang yang melakukan hal buruk itu bukan berarti agama memerintahkan mereka melakukan itu. Jadi ini soal manusia secara personal," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Solusi Jangka Panjang untuk Rohingya

Napan Santibhaddo juga mengungkapkan keprihatinannya atas apa yang menimpa etnis Muslim Rohingya di Myanmar.

"Sangat tragis dan sangat memprihatinkan. Saya tidak bisa mendeskripsikan betapa sedihnya," ungkapnya.

Menurutnya perlu dipikirkan solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis kemanusiaan Rohingnya. Salah satunya dengan memahami apa sebenarnya terjadi.

"Apa alasan di balik itu semua. Atas nama kemanusiaan kita harus mencoba menolong sesama, dan kemudian harus memahami apa alasan hal buruk ini terjadi sehingga kita bisa menolong mereka secara berkelanjutan," kata dia.

"Tidak hanya soal membuka kamp pengungsi dan itu bukan solusi jangka panjang. Jadi menurut pendapat saya, orang-orang di negara itu harus mengerti dan masyarakat internasional harus mencoba memahami apa alasan di balik itu," pungkasnya. (mdk/pan)

Baca juga:
Turis Prancis Tewas Saat Selfie di Air Terjun di Thailand
Melihat Festival Loy Krathong, Ritual Menghanyutkan Kesialan di Thailand
Penembakan di Ruang Sidang, Tiga Orang Tewas di Thailand
7 Wisata Bangkok Paling Hits, Cocok untuk Liburan Keluarga
Pesawat Seberat 7 Ton Buatan Indonesia Kembali Mengudara di Thailand
KTT ASEAN ke-35 di Bangkok, Jokowi Mendapat Jersey Nomor 21 dari FIFA