Cara Aman Bersosialisasi Menjalani Keadaan Normal Baru di Tengah Pandemi Covid-19

Cara Aman Bersosialisasi Menjalani Keadaan Normal Baru di Tengah Pandemi Covid-19
DUNIA | 21 Mei 2020 03:06 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam kehidupan kita, termasuk memunculkan kebiasan-kebiasaan baru bagaimana menjaga kebersihan dan higienitas. Tak hanya itu, pola sosialisasi dan interaksi sosial juga berubah seiring munculnya pedoman jaga jarak fisik dan sosial untuk menghindari penyebaran virus corona.

Sebagai makhluk sosial, berinteraksi adalah salah satu kebutuhan manusia. Tapi adakah cara yang aman untuk berinteraksi dengan keluarga dan teman sembari tetap berpedoman pada aturan jaga jarak sosial?

"Tak ada jawaban yang ajaib untuk pertanyaan itu," kata seorang profesor dan perawat epidemiologis Fakultas Kedokteran dan Keperawatan John Hopkins, Jason Farley, dikutip dari TIME, Rabu (20/5).

Selalu Ada Risiko

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat secara resmi merekomendasikan orang untuk menghindari berkumpul di luar rumah seperti berkumpul di taman, restoran, toko, dan tempat lainnya.

Rekomendasi itu sangat penting bagi orang yang sakit atau bagi mereka yang dicurigai terpapar Covid-19 dan juga bagi golongan berisiko tinggi seperti lansia, dan juga orang yang tinggal dengan orang yang masuk kategori tersebut. Namun demikian orang di luar kategori tersebut juga bisa terpapar dan menyebarkan virus corona.

Farley mengatakan, orang yang terinfeksi Covid-19 merasakan gejala ringan dan bahkan sama sekali tak merasakan gejala apapun. Itu artinya, kita bisa menyebarkan virus walaupun kita merasa sehat.

"Benar-benar tidak ada cara untuk memprediksi, jika Anda telah terpapar dan dites negatif hari ini, bahwa Anda tidak akan positif besoknya," kata Farley.

1 dari 4 halaman

Wilayah Abu-Abu

abu

Pejabat kesehatan memperingatkan, tes positif untuk antibodi juga tidak selalu berarti kita kebal terhadap infeksi di masa yang akan datang.

Mengenakan masker, mencuci tangan secara teratur dan membatasi perjalanan di luar rumah dapat mengurangi risiko kita terpapar dan menyebarkan virus, tetapi "kami tidak bisa mengukur (seberapa jauh) risiko yang lebih rendah itu," kata Farley.

Juga tidak ada demografis yang benar-benar aman dari Covid-19 — orang-orang dari segala usia menderita sakit parah dan meninggal karena virus ini.

Melihat pada tingkat risiko itulah, maka pakar epidemiologi dan profesor di Pusat Kesehatan Masyarakat Universitas California, Brandon Brown menyarankan opsi yang paling baik dan bertanggung jawab untuk tetap bersilaturahmi dengan sanak famili melalui kunjungan virtual. Hal ini bisa dilakukan sampai vaksin ditemukan.

Dalam model sempurna penanggulangan penyakit menular, semua orang akan tinggal di rumah dan bersosialisasi hanya dengan orang yang serumah. Tetapi realitas eksistensi manusia menjadi berantakan.

Pelanggaran-pelanggaran sosial yang mencolok, seperti menggelar pesta, jelas merupakan ide yang buruk. Tapi ada banyak wilayah abu-abu.

Ada juga konsekuensi kesehatan mental yang perlu dipertimbangkan. Isolasi dapat berdampak serius pada kesehatan mental, terutama bagi mereka pernah mengalami depresi dan kecemasan.

Pengangguran, isolasi dan kesulitan berkaitan dengan pandemi Covid-19 dapat menyebabkan sekitar 75.000 kematian akibat keputusasaan di AS — dikaitkan dengan kasus bunuh diri atau penyalahgunaan obat — menurut laporan baru-baru ini.

Bagaimana kita mempertimbangkan hal itu terhadap risiko penyebaran penyakit menular yang mematikan?

Untuk membantu, beberapa ahli menganjurkan pendekatan pengurangan dampak buruk jarak sosial, sebuah gagasan yang bergantung pada meminimalisir konsekuensi negatif dari perilaku yang berpotensi berisiko. Artinya mengajar orang bagaimana melihat orang yang mereka cintai seaman mungkin, daripada mengatakan pada mereka untuk tidak bersosialisasi sama sekali dan berharap mereka mendengarkan.

"Kami telah memikirkan jarak sosial dengan cara seperti ini atau tidak sama sekali," kata Julia Marcus, asisten profesor kedokteran masyarakat Fakultas Kedokteran Harvard.

Hal itu bertepatan dengan pertama kali lockdown diumumkan, kata Marcus, tetapi karena tindakan penahanan berlarut-larut, tidak praktis untuk tidak mengatasi wilayah abu-abu ini.

"Orang-orang sudah membuat pilihan setiap hari tentang cara menavigasi risiko," kata Marcus. "Pendekatan pengurangan dampak buruk akan memberi mereka alat yang mereka butuhkan untuk mengurangi risiko sebanyak mungkin."

Meskipun ada beragam pendapat di kalangan profesional kesehatan tentang seberapa besar risiko dapat diterima, sebagian besar setuju bahwa beberapa bentuk bersosialisasi lebih aman daripada yang lain.

2 dari 4 halaman

Di Luar Lebih Aman?

lebih aman

Direktur Pusat Bioetik dan Kedokteran Kemanusiaan Fakultas Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern, Dr Kelly Michelson, mengatakan banyak penelitian mengatakan risiko terpapar lebih kecil jika berada di luar rumah dengan menggunakan masker dan jaga jarak dari orang lain.

Farley mengatakan, beberapa tipe interaksi tertentu di luar rumah juga ada yang lebih baik dari jenis interaksi lainnya. Misalnya, saat memasak di mana orang menyentuh peralatan yang sama atau makan dari wadah yang sama berisiko lebih tinggi daripada jaga jarak sosial.

Sosiolog kedokteran Universitas Boston, Patricia Rieker menambahkan, pertemuan empat mata lebih aman daripada pertemuan kelompok. Dia mengundang seorang teman ke area luar gedung kondominiumnya selama akhir pekan, tetapi hanya setelah menyeka kursi mereka dan menempatkan mereka 10 kaki terpisah dan menemukan cara bagi temannya untuk masuk ke area umum tanpa memasuki rumahnya.

Mereka juga memakai masker.

"Butuh waktu 45 menit untuk mempersiapkan hal itu agar aman,” kata Rieker.

"Anda tidak dapat melakukan apa pun dengan cara yang saya sebut spontan."

3 dari 4 halaman

Pentingnya Kepercayaan

Rieker mengatakan dia merasa nyaman bertemu temannya karena dia tahu kedua temannya menerapkan jaga jarak sosial dengan serius. Kepercayaan itu sangat penting, kata Rieker.

Menurut Rieker, jika kita benar-benar memercayai seseorang, tak perlu menanyakan apakah aman berkumpul dengan mereka selama mengikuti protokol kesehatan. Meskipun pengujiannya tidak 100 persen akurat, Rieker mengatakan kedua belah pihak harus diuji sebelum pindah ke tempat lain.

Tidur bersama atau melakukan kontak fisik secara dekat membutuhkan kepercayaan yang lebih besar, dan lebih berisiko.

Dalam tulisan Annals of Internal Medicine pada tanggal 8 Mei, sekelompok dokter yang berbasis di Boston mencatat, hubungan seksual kemungkinan disertai dengan risiko penyebaran Covid-19. Namun, mereka mengakui pantangan total tidak melakukan aktivitas tersebut tidak selalu merupakan pilihan yang tepat, dan mencatat bahwa aktivitas seksual virtual, atau kontak fisik dengan pasangan selama karantina, adalah yang paling aman.

4 dari 4 halaman

Utamakan Kebaikan Bersama

bersama

Rieker menyarankan, jika kita ingin bersosialisasi, kita bertanggung jawab untuk memahami pedoman kesehatan masyarakat tertentu dan situasi di daerah kita.

Jika kita tinggal di daerah padat penduduk di mana virus corona menyebar dengan cepat, mungkin sulit atau bahkan tidak mungkin menemukan cara untuk bersosialisasi dengan aman. Penting untuk tetap mengingat hal itu — terutama karena jarak sosial benar-benar tentang kebaikan bersama, dan memastikan bahwa sesedikit mungkin orang jatuh sakit.

“Tetap aman adalah hal berlapis-lapis yang harus Anda lakukan untuk diri sendiri, apa yang akan Anda harapkan agar orang lain lakukan untuk diri mereka sendiri, dan secara kolektif, semua orang lakukan di masyarakat,” kata Rieker.

"Anda harus memikirkan hal yang lebih besar."

Rieker mengingatkan agar setiap orang harus mempertimbangkan setiap langkahnya apakah itu akan memengaruhi kesehatan masyarakat dan semakin membebani sistem perawatan kesehatan.

Pemikiran seperti itu harus menjadi motivasi ekstra untuk mengambil risiko sekecil mungkin, dan meminimalkan risiko yang kita ambil. Melakukan hal itu akan membantu mengakhiri pandemi virus corona.

"Dalam jangka pendek, semua orang akan kecewa," kata Brown. "Tapi dalam jangka panjang, pandemi akan membaik." (mdk/pan)

Baca juga:
Dua Pelajar Terinfeksi Covid-19, Korea Selatan Batal Buka Sekolah
Pejabat AS Mengaku Dipecat karena Tolak Menutupi Data Korban Covid-19
Inggris Teliti Apakah Anjing Bisa Deteksi Covid-19 Dengan Endus Bau Tubuh Manusia
Wapres AS Mengaku Tidak Minum Obat Anti-Malaria Setelah Trump Mengaku Meminumnya
Masjid Al Aqsa Akan Dibuka Kembali Setelah Idul Fitri
Ilmuwan di China Percaya Obat Baru Bisa Hentikan Pandemi Tanpa Vaksin
Video Percobaan di Jepang Buktikan Betapa Cepatnya Virus Bisa Menyebar di Restoran

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami