Hot Issue

Cerita Perlawanan Perempuan Afghan,"Pendidikan Bisa Selamatkan Kami dari Kegelapan"

Cerita Perlawanan Perempuan Afghan,"Pendidikan Bisa Selamatkan Kami dari Kegelapan"
Taliban perintahkan seluruh perempuan Afghanistan pakai burka. ©AFP
DUNIA | 19 Mei 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Diam-diam, anak-anak perempuan Afghanistan berkumpul di sebuah ruang kelas. Ruang kelas itu tersembunyi di sebuah permukiman, di sebuah sekolah 'rahasia'.

Bangunan sekolah itu memang kecil, tapi bisa dianggap sebagai aksi perlawanan terhadap Taliban. Ada belasan anak yang sedang belajar matematika.

Telah hampir setahun anak-anak perempuan Afghanistan tak bersekolah. Mereka dilarang masuk sekolah sejak Taliban berkuasa pada Agustus 2021.

"Kami tahu ancamannya dan kami khawatir soal itu," kata salah seorang guru, dikutip dari BBC, Rabu (18/5).

Namun, sambungnya, pendidikan anak perempuan sepadan "dengan risiko apapun".

SMP dan SMA khusus perempuan di Afghanistan diperintahkan tetap tutup oleh Taliban. Tapi di sekolah 'rahasia' yang dikunjungi tim BBC, sebuah ruangan diubah layaknya seperti ruang kelas dengan meja serta kursi berwarna putih dan biru.

"Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa diam-diam," kata guru perempuan tersebut.

"Bahkan jika mereka menangkapku, mereka memukulku, itu sepadan."

Sekolah untuk anak perempuan rencananya dibuka pada Maret lalu. Tapi sejam setelah para pelajar tiba di sekolah, pemimpin Taliban mengumumkan perubahan kebijakan.

Murid di sekolah rahasia itu masih merasakan kesedihan karena gagal kembali ke sekolah.

"Sudah dua bulan sekarang, dan sekolah-sekolah masih belum buka lagi," kata seorang pelajar berusia 19 tahun.

"Itu membuatku sangat sedih," lanjutnya, seraya menutup wajah dengan tangannya menahan air mata.

Kecewa dengan kebijakan Taliban, muncul juga rasa ingin melawan.

Siswa yang lainnya yang berusia 15 tahun ingin menyampaikan pesan kepada anak perempuan lainnya di Afghanistan: "Beranilah, kalau kamu berani, tidak ada yang bisa menghentikanmu."

2 dari 3 halaman

Ulama dukung pendidikan perempuan

Pejabat Taliban berulang kali menyatakan sekolah untuk anak perempuan akan dibuka kembali, tapi juga mengakui pendidikan perempuan adalah isu "sensitif" bagi mereka. Selama berkuasa pada 1990-an, Taliban juga melarang anak perempuan sekolah.

Menurut sumber-sumber BBC, masih ada pemimpin Taliban yang ingin menerapkan larangan tersebut. Namun secara pribadi, beberapa anggota Taliban lainnya kecewa dengan keputusan tidak kunjung dibukanya sekolah untuk anak perempuan. Bahkan beberapa pejabat senior Taliban mengirim anak-anak perempuan mereka sekolah ke Qatar atau Pakistan.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah ulama yang memiliki keterkaitan dengan Taliban mengeluarkan fatwa mendukung hak perempuan untuk belajar. Salah satunya Sheikh Rahimullah Haqqani. Rahimullah Haqqani adalah orang Afghanistan tapi tinggal di Peshawar, Pakistan. Dia sangat dihormati Taliban dan bulan lalu berkunjung ke Kabul bertemu pejabat pemerintahan Taliban.

Dia mengatakan tidak ada hukum syariah yang melarang perempuan sekolah.

"Tidak ada dasar kebenaran dalam (hukum) syariah yang menyebut pendidikan perempuan tidak diizinkan. Tidak ada dasarnya sama sekali," jelasnya kepada BBC.

"Semua teks-teks agama telah menyatakan pendidikan perempuan diperbolehkan dan wajib, karena, contohnya, jika seorang perempuan sakit, dalam lingkungan Islami seperti Afghanistan atau Pakistan, dan butuh perawatan, jauh lebih baik kalau dia dirawat dokter perempuan."

Fatwa yang sama dikeluarkan ulama di Provinsi Herat dan Paktia, Afghanistan. Tak hanya kalangan ulama, seorang anggota Taliban dengan pengikut banyak di media sosial mengkritik penutupan sekolah untuk anak perempuan, juga aturan terbaru Taliban yang meminta PNS laki-laki menumbuhkan jenggot. Namun menurut salah seorang sumber, anggota Taliban ini dipanggil departemen intelijen Taliban untuk diperiksa. Dia lalu menghapus cuitannya di Twitter dan meminta maaf.

3 dari 3 halaman

'Pendidikan bisa selamatkan kami'

Sementara itu, para aktivis hak-hak perempuan Afghanistan berupaya memastikan generasi muda perempuan tidak ditinggalkan di belakang.

Di sekolah rahasia tersebut, para siswa belajar satu atau dua jam per hari, fokus mempelajari matematika, kimia, fisika, dan biologi.

Guru yang mengajar di sana mengatakan banyak anak perempuan yang ingin ikut belajar, tapi mereka masih kekurangan tempat dan sumber daya. Dia juga mengatakan sekolah rahasia itu perlu dijaga agar tidak terpantau.

Dia tidak terlalu berharap sekolah reguler segera dibuka kembali, tapi dia bertekad melakukan apapun yang dia bisa.

"Sebagai perempuan berpendidikan, itu tugas saya. Pendidikan bisa menyelamatkan kami dari kegelapan ini," pungkasnya.

(mdk/pan)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami