China Kalang Kabut Karena Wabah Virus Corona Meningkat Jelang Tahun Baru Imlek

DUNIA | 22 Januari 2020 07:36 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pemerintah di seluruh dunia selalu berjuang untuk menghentikan penyebaran penyakit, dari flu babi mematikan yang melanda dunia pada 2009, hingga upaya berkelanjutan untuk mengendalikan Ebola di Afrika Barat.

Tidak ada otoritas kesehatan yang pernah menangani tantangan yang saat ini dihadapi China. Negara ini tengah bergulat dengan wabah virus corona baru ketika ratusan juta orang siap-siap liburan Tahun Baru Imlek.

Selama liburan Imlek, orang-orang dari seluruh negeri akan menjejalkan diri mereka ke kereta, bus, dan pesawat terbang untuk mudik dan berkumpul dengan keluarga mereka. Sementara warga lain akan memanfaatkan hari liburnya dengan liburan ke luar negeri.

Tahun lalu, hampir 7 juta turis China berlibur ke luar negeri saat Tahun Baru Imlek, menurut media pemerintah. Tahun ini, liburan Imlek bertepatan dengan masa terburuk yang tengah dihadapi otoritas kesehatan, berlomba mencegah meluasnya wabah ini dimana seluruh negara Asia waspada.

Virus itu, yang pertama kali diidentifikasi di kota Wuhan di China tengah, diketahui telah menginfeksi hampir 300 orang dan telah menyebar ke setidaknya tiga negara lain. Pada Senin, Komisi Kesehatan Nasional China mengkonfirmasi virus corona dapat ditularkan dari manusia ke manusia dan staf medis juga telah terinfeksi.

Korea Selatan telah mengkonfirmasi kasus pertama, menjadikannya negara ketiga di luar China yang mendeteksi virus tersebut. Tiga kasus yang sebelumnya dikonfirmasi di luar negeri, dua di Thailand dan satu di Jepang, semua melibatkan orang yang telah mengunjungi Wuhan.

"Salah satu konsekuensi dari dunia yang lebih terhubung adalah bahwa wabah memiliki potensi untuk menyebar secara internasional lebih cepat daripada yang terjadi 50 tahun yang lalu," kata Mike Turner, Direktur Ilmu Pengetahuan di Wellcome Trust, sebuah badan amal kesehatan global yang berbasis di Inggris.

Lebih banyak kasus juga telah dilaporkan di China, membuktikan wabah telah menyebar ke luar Wuhan.

Pada Selasa pagi, lima kasus telah dikonfirmasi di Beijing, dua di Shanghai, dan 14 di Guangdong. Kasus dugaan tambahan telah dilaporkan di seluruh negeri, dari provinsi Shandong timur ke provinsi Sichuan di barat daya.

Ilmuwan China pada 8 Januari mengidentifikasi patogen sebagai jenis baru virus corona, yang mirip dengan penyebab SARS. Pada 2002 dan 2003, SARS menginfeksi lebih dari 8.000 orang dan menewaskan 774 dalam pandemi yang melanda Asia, menyebar hingga ke Kanada.

1 dari 4 halaman

Selama konferensi pers pada Senin, Zhong Nanshan, seorang pakar yang ditunjuk pemerintah China yang membantu menemukan virus SARS, mengatakan bahwa infeksi virus corona Wuhan yang baru tidak sekuat SARS, dan menurutnya " tingkat kematian saat ini tidak begitu representatif."

Sejak Desember, empat orang yang terinfeksi virus ini meninggal dunia.

Ketidakpastian tentang virus baru ini, termasuk sumbernya yang tidak dikenal - telah memicu kekhawatiran akan lebih banyak orang yang terinfeksi daripada yang dilaporkan saat ini.

Jeremy Farrar, seorang ahli penyakit menular yang mengepalai Wellcome Trust, mengatakan wabah itu "sangat memprihatinkan."

"Ada kemungkinan gejalanya ringan, dan kemungkinan orang terkena dan menular tanpa mengalami gejala," ujarnya, dikutip dari CNN, Selasa (21/1).

Gejala awal bagi yang terjangkit virus ini termasuk demam dan batuk - yang juga merupakan gejala flu biasa, infeksi virus yang lazim di musim dingin.

2 dari 4 halaman

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengatakan pada Senin, sejak wabah ini muncul, pihaknya telah mengambil langkah-langkah aktif untuk menangani epidemi dan merumuskan rencana pencegahan dan pengendalian.

Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan pada Minggu bahwa situasi wabah "masih dapat dicegah dan dikendalikan."

Lebih dari 200 kasus yang secara resmi dikonfirmasi di China jauh dari 1.700 yang diperkirakan oleh para peneliti Inggris telah terinfeksi pada 12 Januari. Tim Inggris mendasarkan perhitungan mereka pada jumlah kasus yang dilaporkan sudah ada di Thailand dan Jepang, dan jumlah yang diperkirakan orang yang meninggalkan bandara internasional Wuhan.

Lebih dari 60 rute menghubungkan Wuhan dengan negara-negara lain, termasuk penerbangan langsung ke New York, San Francisco, Sydney, Paris dan London, serta lebih dari seratus penerbangan internal ke kota-kota besar China lainnya. Kota berpenduduk 11 juta jiwa ini juga merupakan pusat jaringan kereta api berkecepatan tinggi di negara itu.


3 dari 4 halaman

Tanggapan Sejumlah Negara

Pemerintah di seluruh dunia telah mulai menanggapi ancaman wabah ini. Pada Selasa, Australia mengatakan pihaknya melakukan sejumlah langkah pembatasan penerbangan dari Wuhan ke Sydney.

AS juga mengumumkan langkah-langkah penyaringan bagi penumpang yang tiba dari Wuhan di bandara di New York, San Francisco dan Los Angeles pekan lalu, menyusul langkah-langkah serupa yang diambil oleh pemerintah di Asia.

Di Wuhan sendiri, termometer inframerah telah dipasang di bandara, stasiun kereta, terminal pelatih dan dermaga penumpang untuk mengukur suhu penumpang yang meninggalkan kota sejak 14 Januari, menurut media pemerintah.

Langkah-langkah itu hanya diberlakukan lima pekan setelah wabah awal muncul, yang berarti banyak penumpang telah meninggalkan kota itu tanpa menjalani pemeriksaan.


4 dari 4 halaman

Komisi kesehatan Wuhan juga rutin mengunggah pembaruan jumlah infeksi terbaru di situs webnya, tetapi gagal menghilangkan kekhawatiran warga China tentang penyebaran penyakit. Komisi ini juga mengumumkan pada Senin bahwa 136 kasus baru telah didiagnosis pada Sabtu dan Minggu, termasuk satu kematian.

Jumlah itu meningkat signifikan dari 62 yang dilaporkan selama akhir pekan, tetapi jauh dari perkiraan oleh para peneliti Imperial College London.

WHO mengatakan lonjakan dalam kasus yang dilaporkan adalah hasil dari "peningkatan pencarian dan pengujian" virus terhadap orang-orang dengan penyakit pernapasan.

Pada Senin, Presiden China Xi Jinping menginstruksikan pihak berwenang untuk mengambil "upaya tegas" untuk menahan penyebaran virus corona Wuhan, pertama kali pemimpin negara itu berbicara di depan umum tentang wabah tersebut.

Menurut pernyataan yang dilansir kantor berita pemerintah Xinhua, Xi "menekankan menempatkan keselamatan dan kesehatan masyarakat sebagai prioritas utama" dan mendesak departemen terkait untuk segera merilis informasi dan memperdalam kerja sama internasional. (mdk/pan)

Baca juga:
Virus Corona China Sudah Sampai Amerika, Bisa Bermutasi dan Menyebar Luas
Pemerintah Teliti Dampak Penyebaran Virus Corona ke Ekonomi Indonesia
Corona Virus Penyebab Pneumonia bisa Menyebar dari Manusia ke Manusia
Waspadai Virus dari China, Sejumlah Negara Asia Perketat Pemeriksaan di Bandara
Apa dan Bagaimana Virus Mematikan di China yang Sudah Menyebar ke Thailand
Wabah Virus Mirip SARS Hantui China

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.