CIA dan FBI Diminta Selidiki Google Soal Dugaan Disusupi Intelijen China

DUNIA | 16 Juli 2019 17:57 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Salah satu petinggi di Silicon Valley, Peter Thiel meyakini Google membantu militer China dan kemungkinan dapat diserang agen-agen Beijing. Menurut Thiel, FBI dan CIA sekarang harus mengawasi perusahaan mesin pencari informasi raksasa itu.

Thiel melancarkan serangannya terhadap perusahaan teknologi itu saat berbicara di Konferensi Konservatisme Nasional, acara tertutup yang fokus soal nasionalisme era Trump, tulis Axios, dilansir dari laman Russia Today, Selasa (16/7).

Investor miliarder itu mengatakan telah memberi tahu audiensi tentang tiga pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Google. Pertama, Thiel ingin tahu berapa banyak agen intelijen asing telah menyusup ke Proyek Manhattan untuk proyek kecerdasan buatan.

Dia juga mempertanyakan apakah manajemen senior Google menyadari telah disusupi sepenuhnya oleh agen China.

Thiel adalah salah satu pendukung vokal Donald Trump di Silicon Valley, menginginkan agar Google dapat menjelaskan kenapa memilih untuk mengeluarkan keputusan yang dinilainya berkhianat untuk membantu militer China, bukan AS.

Sekarang, FBI dan CIA harus menyelidiki Google dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tegas.

Thiel yang merupakan salah satu pendiri PayPal dan membantu keuangan Facebook pada masa awal, bukan satu-satunya tokoh yang menyuarakan kecurigaan terhadap dugaan keterlibatan Google dalam teknologi tinggi militer China. Pada Maret lalu, Jenderal Joseph Dunford, Kepala Staf Gabungan, menuduh militer Beijing mendapat manfaat tidak langsung dari Google.

Presiden Trump juga merespons dengan nada marah melalui Twitter. "Google membantu China dan militer mereka, tetapi bukan AS. Sangat buruk!"

Saat itu Google dengan tegas membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa pihaknya tidak menjalin kerjasama dengan militer China. Dalam bantahannya, Google menyatakan bekerja sama dengan pemerintah AS, termasuk Departemen Pertahanan, di berbagai bidang termasuk keamanan dunia maya, perekrutan dan perawatan kesehatan.

Google juga menyampaikan pihaknya memilih untuk tidak melanjutkan kerjasama kontrak proyek kecerdasan buatan (AI) yang disebut Project Maven karena banyaknya karyawan menentang jika teknologi yang mereka ciptakan berpotensi digunakan dalam peperangan. Secara terpisah, Google memutuskan untuk tidak bersaing dengan proyek komputasi awan JEDI Pentagon, dengan alasan etis.

Komentar Thiel muncul saat Donald Trump melanjutkan perang dagangnya dengan China. Pada Mei, dilaporkan bahwa Google memutuskan hubungan dengan raksasa teknologi China, Huawei, setelah Huawei masuk daftar hitam AS atas tuduhan menjadi alat mata-mata untuk Beijing. China dan Huawei berulang kali membantah klaim tersebut.

Baca juga:
Google Akui Karyawan Mereka Dengar Rekaman Audio Milik Pengguna
Studi: Ribuan Aplikasi 'Panen' Data Pribadi Pengguna Meski Tak Diizinkan
Google Pecahkan Masalah Lingkungan dan Sosial Berbasis Kecerdasan Buatan
8 CEO Perusahaan Teknologi yang Tidak Mau Ambil Gaji
Google Dituduh Curi Konten Web Lirik Lagu Genius.com

(mdk/pan)