Dampak Wabah Corona, "Tanpa Turis, Bali akan Mati"

Dampak Wabah Corona,
DUNIA | 9 April 2020 15:05 Reporter : Iqbal Fadil

Merdeka.com - Dengan jutaan turis asing yang berkunjung tiap tahun, sebagian besar warga Bali mengandalkan pemasukan dari sektor pariwisata. Wabah Corona disebut akan membuat wisata Bali di ambang kehancuran.

Setelah Menteri Luar Negeri Indonesia mengumumkan larangan bepergian pada bulan Maret yang berarti bahwa hanya warga negara Indonesia, diplomat dan anggota keluarga yang dapat memasuki negara tersebut, beberapa daerah paling populer di Pulau Bali menjadi kosong.

Mengingat seberapa besar Indonesia bergantung pada industri pariwisata, keputusan untuk menutup kedatangan orang asing bukan sebuah langkah yang mudah. Beberapa pihak menilai, keputusan itu bisa menjadi bencana besar bagi pulau itu - dan bahkan mungkin membuat Bali runtuh.

Dilansir news.com.au, Kamis (9/4), statistik kedatangan wisatawan terbaru menunjukkan, angka di Februari 2020 turun hampir 30 persen dibanding tahun lalu, dan merupakan angka bulanan terendah dalam empat tahun terakhir.

"Virus corona telah meruntuhkan ekonomi Bali. itu merupakan penurunan tajam sejak (pertengahan Maret) ketika dilakukan aturan social distancing," kata Mangku Nyoman Kandia, seorang pemandu wisata yang telah bekerja sejak 1984, mengatakan kepada ABC.

"Tidak ada turis, tidak ada uang," keluhnya.

Rekan sesama operator agen wisata I Gusti Ngurah Adi Mahendra mengatakan dia telah kehilangan 80 persen dari pemasukan hingga pertengahan Maret.

"Dampak saat ini cukup terasa di sini dan memprihatinkan bagi semua orang. Pariwisata Bali dapat dikatakan hampir lumpuh total. Ini sangat mengkhawatirkan," katanya kepada South China Morning Post.

1 dari 2 halaman

Ketergantungan Tinggi

Ross Taylor, presiden Institut Indonesia di Universitas Monash Melbourne mengatakan, ketergantungan Bali yang tinggi pada pariwisata selama bertahun-tahun bisa menjadi kehancuran mereka saat seluruh warga dunia diminta untuk tetap berada di rumah mencegah penyebaran corona.

"Dari penelitian kami, kami tahu sekitar 80 persen dari PDB Bali didasarkan pada pariwisata," katanya kepada Al Jazeera.

"Ada transisi besar ini di mana hampir semua orang telah meletakkan semua 'telur' mereka di keranjang pariwisata. Hasilnya akan menjadi bencana besar," tukas Taylor.

"Di kebanyakan negara Barat, rumah tangga memiliki beberapa sumber keuangan. Tetapi di Bali, kebanyakan orang hanya berpenghasilan beberapa ratus dolar sebulan. Mereka hidup dari hari ke hari atau bulan ke bulan. Jika mereka kehilangan pekerjaan, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa lagi," jelasnya.

Ketika sebagian besar kios, toko, restoran, dan penyedia pariwisata tutup, toko memberhentikan staf atau membiarkan mereka cuti tidak dibayar, beberapa pekerja mengatakan bahwa "tanpa turis, Bali akan mati".

2 dari 2 halaman

Dampak Jangka Panjang

Awalnya, Bali tampaknya tidak akan terpengaruh dampak coronavirus terhadap ekonomi dan jumlah kedatangan wisatawan. Tetapi setelah seorang wanita Inggris berusia 50-an meninggal saat berlibur di Bali, kekhawatiran apakah akan mengunjungi atau tetap tinggal di pulau itu muncul.

Indonesia melaporkan dua kasus virus corona pertamanya pada 2 Maret dan telah menghitung 1986 kasus yang dikonfirmasi dan 181 kematian pada 3 April, menjadikannya negara dengan kematian virus corona terbanyak dan tingkat kematian tertinggi di Asia Tenggara.

Ketika ribuan orang meninggalkan Bali berbondong-bondong, dampak pada pariwisata dan industri perhotelan mungkin terasa lama setelah Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan pandemi berakhir.

"Banyak orang akan kehilangan pekerjaan karena tidak ada turis. Tetapi itu akan berdampak paling besar pada orang-orang termiskin," kata Taylor.

"Yang kami dengar adalah bahwa pemerintah pusat di Jakarta mungkin tidak dapat membantu mereka. Mereka berkonsentrasi pada insentif untuk investor dan komunitas bisnis."

Walaupun Bali telah menghadapi kehancuran sebelumnya, termasuk pemboman Bali pada tahun 2002 dan 2005 dan letusan gunung berapi Gunung Agung pada tahun 2017, pandemi ini tidak seperti bencana ekonomi normal.

Para ahli mengatakan banyak yang tidak diketahui tentang penyakit virus ini dapat mengganggu destinasi wisata selama bertahun-tahun yang akan datang.

"Saya berada di Bali empat hari setelah pemboman. Masih ada banyak kecemasan - orang-orang khawatir hal itu terjadi lagi - tetapi kemudian hidup kembali normal dan keputusan dapat dibuat untuk menemukan jalan ke depan," kata Taylor.

"Tapi ini (wabah corona) bukan masalah biasa. Tidak ada yang tahu seberapa buruk hal-hal yang akan terjadi di Bali atau berapa lama hal itu akan berlangsung atau bagaimana hal itu akan mempengaruhi negara-negara asal wisatawan. Jika Anda bahkan tidak bisa melihat masalah dengan jelas, bagaimana Anda bisa menemukan jalan keluar?" pungkas Taylor. (mdk/bal)

Baca juga:
Imbas Covid-19, Kunjungan Turis di Bali Hanya 500 Orang Perhari
Saat Badai Virus Corona Hantam Pariwisata Bali
Wajah Sunyi Bali di Tengah Pandemi Covid-19
Corona Ancam Industri Pariwisata, Negara Diminta Siapkan Bail Out Cegah PHK Massal
Jumlah Turis Asing ke Bali Turun Akibat Virus Corona
Imbas Covid-19, Kunjungan Wisata di Bali Turun 70 Persen

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami