Dari Eric Garner Hingga George Floyd, Kelakuan Polisi AS Tak Ada Perubahan

Dari Eric Garner Hingga George Floyd, Kelakuan Polisi AS Tak Ada Perubahan
DUNIA | 3 Juni 2020 08:18 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Juli 2014, seorang lelaki kulit hitam yang diduga berbuat kesalahan kecil diringkus polisi New York hingga telungkup di trotoar. Seorang pejalan kaki yang melihat kejadian itu merekam peristiwa tersebut dan terdengar si lelaki kulit hitam berkata, "Saya tak bisa bernapas."

Kematian Eric Garner memicu gelombang protes di kota besar AS itu dan sejumlah kota lain. Insiden itu memicu kemunculan gerakan Black Lives Matter. Dan beberapa pekan kemudian, polisi menembak mati Michael Brown, remaja kulit hitam, di Ferguson, Negara Bagian Missouri. Dua kejadian itu dan sejumlah kematian pria dan perempuan kulit hitam dalam penahanan polisi, memicu kesadaran baru tentang penggunaan kekerasan oleh polisi dan aparat penegak hukum lain yang dipandang seperti menargetkan kelompok minoritas dan miskin.

Tapi dari semua perubahan yang terjadi akibat peristiwa itu, semua itu masih belum cukup untuk menghentikan kematian dan tindakan diskriminasi serta represi yang dialami dan dirasakan jutaan warga AS dari tindakan polisi dan negara.

Akumulasi kemarahan itu kembali meledak dan kali ini dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, dipicu oleh peristiwa yang sudah tidak asing lagi: seorang pria kulit hitam bernama George Floyd tewas setelah lehernya ditindih lutut polisi kulit putih di Minneapolis. Dalam video yang direkam pejalan kaki dia terdengar berkata, "Saya tak bisa bernapas."

1 dari 2 halaman

Tingkat kemarahan yang berbeda

yang berbeda

Kerusuhan ini mengingatkan orang akan peristiwa serupa yang terjadi di seantero negeri seusai pembunuhan Dr Martin Luther King Jr pada 1968 dan insiden 1192 ketika polisi Los Angeles terekam kamera memukuli Rodney King.

"Anda menyaksikan tingkat kemarahan yang berbeda dari sebelumnya," kata Cedric Alexander, mantan direktur keselamatan publik di Dekalb County, Georgia, dan bekas kepala polisi di Rochester, New York, yang kini menjadi penasihat aparat penegak hukum untuk meningkatkan hubungan dengan masyarakat. "Dan ini belum usai. Kerusuhan akan berhenti tapi pemicunya akan tetap ada."

Alexander bersama para demonstran dan aktivis hak asasi mengatakan gelombang protes kali ini bukan hanya respons atas kematian George Floyd, tapi reaksi atas sejumlah insiden rasisme dari polisi dan masyarakat Amerika.

Pertama pada 23 Februari lalu seorang pria kulit hitam, Ahmaud Arbery, ditembak mati di Brunswick, Georgia, setelah dikejar oleh bekas polisi dan putranya. Video peristiwa itu terekam dan dirilis pada 5 Mei. Insiden kedua pada 13 Maret, seorang pekerja EMT, Breonna Taylor dibunuh polisi di rumahnya di Louisville, Kentucky. Yang ketiga adalah video yang direkam pada 25 Mei memperlihatkan cekcok antara seorang perempuan kulit putih dengan petugas pemantau burung di Taman New York. Si perempuan kulit putih melepaskan anjingnya dan melapor polisi bahwa dia diancam "seorang Afro-Amerika".

2 dari 2 halaman

Virus supremasi

Massa demonstran di ratusan kota AS yang sudah berbulan-bulan harus tetap di rumah karena pandemi covid-19, kini turun ke jalan mengecam tindakan polisi yang menewaskan George Floyd. Pertokoan dijarah dan dibakar. Polisi membalas dengan melepaskan tembakan dan gas air mata. Sejumlah demonstran dan aparat keamanan terluka. Belasan negara bagian mengaktifkan pasukan Garda Nasional.

"Sejatinya peristiwa ini juga serupa dengan yang terjadi pada 2014, bahwa ini adalah gejala virus supremasi berusia ratusan tahun di Amerika," kata Brittany Packnett Cunningham, rekan pendiri gerakan Campaign Zero yang menentang kekerasan polisi, seperti dilansir laman the Guardian, pekan lalu.

"Harapan yang dinanti-nanti oleh aktivis kulit hitam, para pemimpin, penulis, bahwa masalah ini akan selesai dalam enam tahun ternyata tidak realistis."

Petugas polisi yang membunuh warga kulit hitam tampaknya seperti tidak tersentuh oleh hukum dan jarang didakwa. Tak seorang pun dari polisi yang menewaskan Garner, Brown, Taylor, didakwa bersalah.

Gelombang unjuk rasa di AS saat ini menjadi tanda betapa perubahan yang diharapkan tidak cukup.

"Jika seseorang menanyakan pada saya,'bagaimana kita akan mulai membangun ikatan persaudaraan dari peristiwa ini,' saya akan bilang itu pertanyaan yang salah untuk diajukan saat ini," kata Alexander.

"Karena setelah Anda mengejar saya di jalanan dan menembak saya, setelah Anda menembak saya saat tengah malam tanpa surat izin penggeledahan, setelah Anda memaksa saya tertelungkup di taman dan setelah Anda mencekik leher saya di jalan meski saya sudah memohon-mohon dengan nama ibu saya, bagaimana Anda akan mulai menjalin komunikasi untuk membangun ikatan persaudaraan?" (mdk/pan)

Baca juga:
Kematian George Floyd, Anggota Kongres AS Usulkan RUU Polisi Bisa Dituntut Ganti Rugi
Militer Dikerahkan Amankan Aksi Protes Kematian George Floyd
Uskup AS Marah sebab Trump Tak Berdoa Saat ke Gereja di Tengah Demo George Floyd
Pemilik Toko yang Melaporkan George Floyd: Andai Polisi Tak Pernah Ditelepon
Trump Ancam Kerahkan Militer Setelah Bentrokan Pecah Dekat Gedung Putih
Trump Dilarikan ke Bunker Ketika Demonstran George Floyd Rusuh di Depan Gedung Putih
Hasil Autopsi: Floyd Tewas di Tempat karena Tercekik Tak Bisa Bernapas
Kisah Hidup George Floyd, Korban Kebrutalan Polisi Pemicu Demo Besar-Besaran di AS
Banyak Polisi di AS Turun ke Jalan Ikut Demo Kematian George Floyd

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Gerak Cepat Jawa Barat Tangani Corona - MERDEKA BICARA with Ridwan Kamil

5