Diancam AS Karena Tudingan Rudal Kilang Minyak, Iran Tak Gentar

DUNIA | 22 September 2019 13:35 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Iran siap menghancurkan pihak manapun yang berusaha menyerang. Hal ini disampaikan Komandan Pengawal Revolusi Mayjen Hossein Salami, Sabtu (21/9). Pernyataan ini menanggapi tuduhan AS soal keterlibatan Iran di balik serangan kilang minyak Saudi.

"Kami akan kejar setiap agresor," tegasnya, seperti dikutip Reuters, Minggu (22/9).

"Kami akan berikan hukuman dan kami akan terus lakukan (serangan) sampai penyerang itu benar-benar hancur."

Kepala cabang Dirgantara Pengawal Revolusi Amirali Hajizadeh mengatakan hal senada. Menurut Hajizadeh, setiap serangan yang diarahkan ke Iran bakal dibalas setimpal, berupa kehancuran.

Pada Sabtu 14 Agustus dini hari, dua failitas kilang minyak milik Saudi Aramco terbakar setelah diserang menggunakan drone. Sesaat setelah kejadian, kelompok bersenjata Huthi Yaman mengklaim serangan itu sebagai aksinya.

Kelompok Huthi adalah salah satu sekutu Iran. Hingga saat ini, Huthi berperan dalam perang saudara di Yaman dan memerangi aliansi yang dipimpin oleh Saudi.

Atas serangan kilang minyak itu, AS dan Saudi kompak menuduh Iran sebagai dalang penyerangan yang terjadi pada 14 September lalu itu. Akan tetapi, berkali-kali Iran membantah.

Jumat lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyetujui pengiriman pasukan Amerika untuk memperkuat pertahanan udara dan rudal di Arab Saudi. Namun, keputusan Trump justru menuai perdebatan. Ketua Parlemen AS Nancy Pelosi pada Sabtu (21/9) kemarin menyebut keputusan Trump sebagai aksi yang keterlaluan.

"Tindakan yang tidak dapat diterima ini menimbulkan kekhawatiran," kata Pelosi.

Trump dinilai 'menutup mata' atas kekerasan yang dilakukan Saudi di Yaman. Pelosi menambahkan, Saudi juga dikenal sebagai negara yang cukup banyak melakukan pelanggaran HAM, termasuk dalam kasus pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi.

"Amerika Serikat tidak bisa membiarkan lebih banyak kebrutalan dan pertumpahan darah," katanya. "Kongres akan melakukan tugas kita untuk menegakkan konstitusi, membela keamanan nasional kita dan melindungi rakyat Amerika."

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengecam sanksi yang dilakukan AS terhadap bank sentral negaranya. Sanksi tersebut sebagai upaya membatasi akses obat-obatan dan makanan ke Iran. Jumat kemarin, AS kembali memberatkan sanksi terhadap bank sentral Iran. Zarif menyebut, sikap ini sebagai bentuk keputusasaan AS.

"Ketika mereka (AS) berulang kali memberikan sanksi kepada lembaga yang sama, ini berarti upaya mereka untuk membuat Iran bertekuk lutut di bawah tekanan, telah gagal," kata Zarif dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.

Zarif akan bertemu dengan para menteri luar negeri yang masih tergabung dalam perjanjian nuklir 2015. Seperti diketahui, tahun lalu Amerika telah menarik diri dari perjanjian tersebut dan memberlakukan sanksi sepihak terhadap Iran.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita

Baca juga:
AS Akhirnya Keluarkan Visa untuk Presiden Iran Hadiri Sidang Tahunan PBB
Bersiap Perang dengan Iran, Sirene Menggema di Berbagai Kota Saudi
Miliuner ini Makin Kaya Rp28 T per Hari Karena Kilang Terbesar Dunia Diserang
Deretan Drone yang Serang Kilang Minyak Arab Saudi
Tuding Iran di Balik Serangan, AS Beberkan Bukti Foto Satelit di Kilang Minyak Saudi
Iran Sanggah Tuduhan AS Tentang Serangan Kilang Minyak Saudi

(mdk/noe)