Diduga Hina Air Zamzam, Pegawai Konsulat AS Diperiksa Polisi Turki

DUNIA | 21 November 2019 12:02 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Polisi Turki memeriksa dua pegawai Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS) di Turki pada Rabu terkait video pesta Halloween diduga berkonten merendahkan ajaran agama. Demikian dilaporkan kantor berita DHA.

Dua pegawai tersebut, yang bekerja di konsulat di kota bagian selatan Adana, dijemput untuk diperiksa dan kemudian dibebaskan, kata jaksa kepada DHA, dilansir dari laman Alaraby, Kamis (21/11).

Video yang viral di dunia maya itu menggambarkan seorang perempuan mengejek air Zamzam, air suci bagi umat Islam yang bersumber dari sebuah sumur di Mekkah, Arab Saudi. Seorang pria, yang berpakaian layaknya seorang penganut Muslim taat, meminta perempuan tersebut minum koktail.

Jaksa mengatakan keduanya merupakan pegawai di konsulat berusia 30 dan 38 tahun.

1 dari 1 halaman

Hubungan Tegang Ankara-Washington

Sejumlah isu telah membuat hubungan Ankara dan Washington menegang, termasuk serangan pasukan Turki bulan lalu melawan militan Kurdi di Suriah, yang merupakan sekutu dekat AS dalam melawan ISIS.

Termasuk juga sejumlah penangkapan warga Turki yang bekerja di pos diplomatik AS berkaitan dengan kudeta 2016. Salah satu pegawai, Metin Topuz dari konsulat Istanbul, masih berada dalam penjara sambil menunggu persidangan atas tuduhan spionase.

Pada Januari, seorang pegawai di konsulat Adana, Hamza Ulucay, dibebaskan setelah hampir dua tahun dalam dalam penahanan pra-persidangan. Ulucay ditangkap atas dugaan berhubungan dengan gerakan Gulen yang disalahkan Turki atas percobaan kudeta. (mdk/pan)

Baca juga:
Bom Mobil di Wilayah Pemberontak Suriah Tewaskan 15 orang
Turki Deportasi Pejuang ISIS ke Amerika Setelah Tertahan di Perbatasan Yunani
Bertemu di Gedung Putih, Trump Sebut Dirinya Penggemar Berat Erdogan
Erdogan Berkeras Deportasi Tahanan ISIS ke Eropa dan AS
Aksi Warga Kurdi Lempari Konvoi Militer Turki dengan Batu
Ditangkap Otoritas Turki, Istri Al-Baghdadi Banyak Bocorkan Soal ISIS