Dituduh Korupsi, Presiden Abdul Fattah al-Sisi Didesak Mundur

DUNIA | 22 September 2019 17:05 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Ribuan demonstran memadati Lapangan Tahrir Kairo, Mesir, Jumat (20/9) lalu. Mereka mendesak Presiden Abdul Fattah al-Sisi mundur dari jabatannya. Dikabarkan terjadi beberapa penangkapan dan penggunaan gas air mata oleh kepolisian untuk membubarkan massa.

Al Jazeera melaporkan pada Sabtu (21/9), media dilarang meliput kejadian itu.

Pengusaha dan aktor Mesir Mohamed Ali melayangkan tuduhan bahwa al-Sisi telah melakukan korupsi. Melalui video yang diunggah di Twitter pada 2 September lalu, Ali meminta masyarakat untuk turun ke jalan dan menuntut Presiden al-Sisi berhenti menjabat.

"Jika el-Sisi tidak mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis, maka rakyat akan turun ke jalan," kata Ali.

Unggahan video Ali seketika menyebar luas. Bertepatan dengan aksi demo Jumat (20/9) kemarin, Ali kembali mengunggah video baru yang mendorong massa agar tetap kuat dan terus memperjuangkan hak-hak mereka.

"Saya ingin Mesir kembali. Saya merindukan Mesir dan bangsa saya. Semoga Tuhan menguatkan tekad kalian," ujarnya.

Di media sosial Twitter, video aksi demonstran banyak tersebar. Terlihat dalam video tersebut massa menyerukan, "Bangkit, jangan takut, Sisi harus hengkang!"

Menurut Analis Timur Tengah Yehia Ghanem, aksi demo yang terjadi di Mesir adalah momen yang lama dinantikan. Ghanem berpendapat, protes diperlukan untuk menghapus tirani, atau gaya kepemimpinan yang sewenang-wenang.

"Apa yang terjadi di Mesir sekarang adalah gerakan yang sudah lama ditunggu ...untuk membersihkan negara dari tirani," katanya.

Lima tahun sudah al-Sisi memimpin Mesir. Sejak awal berkuasa, langkah-langkah penghematan ekonomi telah diperkenalkan. Hal ini dilakukan untuk membangkitkan kembali perekonomian negara yang jatuh oleh Musim Semi Arab 2011. Penghematan juga diperlukan untuk mengatasi lonjakan angka kemiskinan di Negeri Piramida itu.

Dalam data statistik yang dirilis pada Juli lalu, satu dari tiga masyarakat Mesir hidup dalam kemiskinan.

Sementara itu, laporan Human Rights Watch menunjukkan bahwa sepanjang kepemimpinan al-Sisi periode dua, pasukan keamanan Mesir terus meningkatkan kampanye intimidasi dan kekerasan. Militer Mesir juga kerap melakukan penangkapan sepihak terhadap mereka yang dianggap sebagai lawan politik, hingga para aktivis.

Aksi demo terbilang jarang terjadi di Mesir. Sebab, negara melarang unjuk rasa karena dianggap sebagai bentuk penyampaian aspirasi tidak sah. Aturan ini berlaku sejak 2013, setelah al-Sisi memimpin gerakan militer untuk menggulingkan Mohamed Morsi.

Februari 2011, di Lapangan Tahrir Kairo, tempat massa menggelar aksi demo pada Jumat Lalu, pernah dilakukan aksi serupa. Kala itu, massa turun ke jalan untuk menurunkan Hosni Mubarak dari kedudukannya sebagai presiden.

Reporter magang: Anindya Wahyu Paramita
Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Mengupas Data 5 Negara Terkaya di Benua Afrika
Bom Mobil Meledak di Kairo, 20 Orang Tewas
Erdogan Sebut Mursi Mati Dibunuh
Keanehan Media Massa Mesir Saat Beritakan Meninggalnya Mursi
Erdogan dan Ribuan Warga Turki Salat Gaib untuk Mursi

(mdk/noe)

TOPIK TERKAIT