Dokter, Perawat di Eropa dan Amerika Pakai Plastik Sampah Hadapi Pandemi Corona

Dokter, Perawat di Eropa dan Amerika Pakai Plastik Sampah Hadapi Pandemi Corona
DUNIA | 26 Maret 2020 10:02 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Di sejumlah rumah sakit di Spanyol, dokter dan perawat akhirnya terpaksa memakai plastik untuk buang sampah sebagai pakaian perlindungan dalam menangani gelombang pasien kasus corona. Para petugas medis itu kekurangan alat perlindungan diri (APD).

Dilansir dari laman Bloomberg, awal pekan ini, pakaian plastik dan kaca mata plastik yang mereka kenakan itu berkualitas rendah dan tipis. Perawat berusia 52 tahun bernama Samantha Gonzales yang bekerja di ruang gawat darurat di Rumah Sakit Txagorritxu di Kota Basque, Negara Bagian Victoria, mengatakan, mereka harus menyentuh bagian tubuh pasien untuk mencari nadi dan pembuluh darah karena pakain perlindungan mereka sangat buruk.

"Ini sudah bukan lagi Perang Dunia Pertama, ini sudah kondisi perang," kata Gonzales.

Kondisi serupa juga terjadi di salah satu rumah sakit di Manhattan, Amerika Serikat. Sejumlah perawat terpaksa memakai kantong sampah plastik sebagai pakaian perlindungan diri karena mereka kekurangan pasokan APD.

1 dari 2 halaman

Dikutip dari laman New York Post, Rabu (25/3), sebuah foto memperlihatkan tiga perawat di Rumah Sakit Mount Sinai West memakai pakaian kantong sampah plastik warna hitam tengah berpose di koridor rumah sakit beredar di media sosial. Salah seorang di antara mereka memegang kotak kardus berisi stok kantong plastik sampah tersebut.

"Tak ada lagi gaun di semua rumah sakit," tulis keterangan foto itu.

"Tak ada lagi masker dan memakai yang sudah bekas. Perawat mencari cara di tengah krisis Covid-19."

Keterangan di foto itu juga menyertakan tagar #mempertaruhkannyawakamidemikalian #tolongberdonasiAPD.

Sementara itu para petugas medis di rumah sakit dekat Columbus Circle kemarin menyalahkan kondisi kurangnya pasokan APD atas kematian seorang manajer perawat yang dites positif corona dua pekan lalu.

2 dari 2 halaman

Kious Kelly, nama perawat itu, dirawat di Rumah Sakit Mount Sinai pada 17 Maret dan meninggal Selasa malam lalu.

"Dia tidak seharusnya meninggal karena ini. Pihak rumah sakit harus bertanggung jawab. Rumah sakit membunuhnya," kata seorang perawat.

Para perawat mengatakan mereka memakai APD yang sama ketika menangani pasien positif corona dan yang bukan karena tidak ada lagi stok APD di rumah sakit itu. Mereka terpaksa memakai pakaian dari kantong sampah plastik untuk mencegah penularan corona.

"Kami harus memakai masker, pakaian, dan pelindung wajah berkali-kali. Kami dibilang 'kalian hanya dapat satu masing-masing sampai krisis ini berakhir,'" kata seorang perawat.

Mereka juga mengatakan sejumlah perlengkapan seperti masker, pembersih tangan, kain lap mulai "hilang jika malam hari".

Juru bicara pihak rumah sakit membantah keras kabar yang mengatakan mereka tidak punya perlengkapan yang memadai ketika dihubungi kemarin. (mdk/pan)

Baca juga:
Pangeran Charles Positif Terinfeksi Virus Corona
Deretan Truk Militer Italia Angkut Ratusan Jenazah Pasien Corona
Jokowi akan Ikut KTT Luar Biasa Secara Online, Bahas Penanganan Covid-19
Cara Polisi India Tertibkan Warga di Tengah Penyebaran Corona
Pakai Hazmat, Presiden Putin Jenguk Warga yang Terpapar Covid-19
Myanmar Laporkan Dua Kasus Pertama Virus Corona
Unik, Seniman Palestina Hiasi Masker N95 dengan Lukisan Menarik

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami