Dokter Sebut Tokoh Oposisi Rusia Kemungkinan Diracun

DUNIA | 29 Juli 2019 18:39 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny kemarin pagi dilarikan ke rumah sakit setelah dia mengalami gejala seperti diracun. Salah satu dokter yang menangani pria 43 tahun itu, Anastasia Vasilieva, menulis di laman Facebook Minggu malam, dia dan rekannya sudah memeriksa Navalny di rumah sakit meski awalnya mereka dilarang.

Navalny dibawa ke rumah sakit dari penjara tempat dia menjalani penahan selama 30 hari setelah pekan lalu ditangkap karena menyerukan para pendukungnya menggelar aksi demonstrasi anti-pemerintah.

Laman the Guardian melaporkan, Senin (29/7), unjuk rasa itu akhirnya berlangsung Sabtu lalu dan memaksa aparat keamanan menahan lebih dari 1.300 orang, yang terbesar selama beberapa tahun terakhir.

Warga memprotes larangan calon independen mendaftar untuk menjadi dewan kota Moskow dalam pemilu September nanti.

Menurut Vasilieva, Navalny mengalami gejala keracunan seperti wajah bengkak, bintik-bintik, dan ruam.

Vasilieva juga adalah dokter yang merawat Navalny ketika dia disiram cairan berwarna hijau oleh aktivis pro-Kremlin pada 2017 yang membuat matanya kemudian buta sebelah untuk sementara. Menurut Vasilieva, jelas terlihat Navalny tidak mengalami alergi tapi dia 'terkena dampak bahan kimia berbahaya yang tidak diketahui jenisnya."

"Kita tidak bisa mengabaikan ada kerusakan kulit akibat bahan kimia yang disebabkan 'pihak ketiga'," tulis Vasilieva. Dia juga menyerukan pihak rumah sakit memberikan perawatan medis yang memadai bagi Navalny.

Pada Minggu malam, seorang doklter rumah sakit, Eldar Kazakhmedov, mengatakan kepada kantor berita Interfax, dia meyakini Navalny mengalami reaksi alergi, meski dia tidak mengatakan alergi apa.

"Pada saat ini kondisi Navalny membaik, dan indikator-indikator organ pentingnya dalam keadaan stabil. Dia sudah jauh lebih baik ketika baru masuk rumah sakit," kata Kazakhmedov.

Ribuan demonstran turun ke jalanan Moskow, Rusia, Sabtu kemarin. Mereka menuntut agar anggota oposisi diizinkan mencalonkan diri dalam pemilu lokal. Namun, aksi itu berakhir dengan penangkapan para demonstran oleh polisi.

Seperti dikutip dari BBC, Minggu (28/7), sejumlah demonstran diseret menjauh dari balai kota ketika pasukan keamanan menggunakan tongkat membubarkan kerumunan aksi.

Menurut polisi setempat, ada 1.074 orang ditangkap dalam aksi yang tak mengantongi izin itu.

Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin menyebut demonstrasi itu sebagai "ancaman keamanan". Ia pun berjanji untuk menjaga ketertiban umum di Moskow.

Menurut polisi, sekitar 3.500 orang berkumpul untuk demonstrasi, termasuk sekitar 700 jurnalis.

Polisi Rusia dengan pakaian antihuru-hara mendorong kerumunan dari penghalang di sekitar kantor wali kota di pusat Moskow. Para demonstran kemudian dibawa ke kantor polisi.

Sejumlah pengunjuk rasa terlihat berdarah sementara dua anggota pasukan keamanan dilaporkan menerima cedera mata akibat semprotan merica.

Aksi ini digelar untuk memprotes pengucilan terhadap kandidat oposisi dalam pemilu lokal. Pihak oposisi mengatakan mereka dilarang karena alasan politik.

Beberapa kandidat yang dilarang mencalonkan pada pemilihan 8 September telah ditahan sebelumnya.

Dalam pemilu ini, calon yang didiskualifikasi sekitar 30 orang. Mereka dinyatakan gagal mengumpulkan cukup tanda tangan yang valid untuk mencalonkan diri.

Pemimpin oposisi Alexei Navalny yang juga kritikus sengit Presiden Vladimir Putin, dipenjara selama 30 hari pada Rabu setelah menyerukan demonstrasi yang tidak disetujui.

Reporter: Raden Trimutia Hatta

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Gaya Putin Menaiki Kapal Selam di Laut Baltik
Ketika Empat Jet Tempur dari Empat Negara Berhadapan di Atas Pulau Sengketa
Korea Utara Tangkap Belasan Kru Kapal Rusia
FaceApp Raih USD 1 Juta dalam 10 Hari, Politisi AS Ketar-ketir
Mantan Raja Malaysia Dikabarkan Bercerai dengan Ratu Kecantikan Rusia

(mdk/pan)

TOPIK TERKAIT