Facebook dan Twitter Hapus Jutaan Konten Berita Palsu Terkait Covid-19

Facebook dan Twitter Hapus Jutaan Konten Berita Palsu Terkait Covid-19
Ilustrasi Media Sosial. ©2014 Merdeka.com
DUNIA | 23 Maret 2021 19:08 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Dua raksasa media sosial, Facebook dan Twitter, telah menghapus jutaan konten berita palsu dari platform mereka dalam rangka membasmi misinformasi terkait Covid-19.

Dua perusahaan ini juga telah memperluas langkah-langkah untuk menyoroti informasi yang kredibel terkait penyakit tersebut dan mendorong vaksinasi.

Juru bicara Twitter menyampaikan kepada The Straits Times pada Kamis lalu, pihaknya menghapus lebih dari 22.400 tweet atau kicauan dan memberi peringatan kepada 11,7 juta akun di seluruh dunia yang berisi konten bermasalah, yang dilakukan sejak tahun lalu. Sebelumnya Twitter juga menyampaikan pihaknya telah menghapus 8.493 tweet dan memperingatkan 11,5 juta akun.

Dilansir The Straits Times pada Selasa (23/3), pemilik akun yang diberi peringatan harus melakukan verifikasi, seperti nomor telepon atau alamat surel, untuk mencegah penyalahgunaan.

Sementara itu, sejak Februari, Facebook telah menghapus 2 juta konten dari Facebook dan Instagram, setelah memperluas daftar klaim palsu yang akan dihapus selama pandemi.

Daftar Facebook, yang dikembangkan bersama otoritas kesehatan seperti WHO, awalnya menemukan informasi palsu terkait keberadaan dan keparahan Covid-19, cara penyakit ini menyebar, juga terkait rekomendasi meminum cairan pemutih untuk mengobati penyakit ini.

Saat ini klaim palsu yang banyak beredar di media sosial terkait vaksin, seperti vaksin tidak efektif mencegah virus corona, vaksin beracun, vaksin berbahaya dan bisa menyebabkan autisme, dan informasi palsu lainnya.

Twitter juga memperluas kebijakannya seputar berita palsu terkait vaksinasi.

“Tweet yang sangat merugikan, narasi palsu atau menyesatkan terkait vaksinasi Covid-19 akan dihapus,” kata juru bicara Twitter kepada The Straits Times.

Mulai bulan ini, Twitter telah menerapkan label peringatan ke tweet yang mungkin berisi informasi menyesatkan tentang vaksin Covid-19.
Twitter juga telah menerapkan sistem yang dapat membuat pengguna dilarang secara permanen karena melakukan pelanggaran berulang kali terhadap kebijakannya.

Facebook juga berencana menambahkan label pada unggahan yang membahas vaksin.

2 dari 2 halaman

Pekan lalu, pendiri Facebook Mark Zuckerberg mengatakan dalam sebuah unggahan Facebook, perusahaannya akan meluncurkan kampanye global untuk membantu membawa 50 juta orang "selangkah lebih dekat" untuk mendapatkan vaksin Covid-19.

Perusahaan tersebut meluncurkan alat yang akan memberi tahu pengguna kapan dan di mana mereka bisa divaksinasi, dan sertai memberikan tautan informasi di mana mereka bisa mendapatkan suntikan

Facebook akan bekerja dengan otoritas kesehatan dan pemerintah di seluruh dunia untuk membantu orang mendaftar vaksin dengan membuat penyesuaian pada chatbots di WhatsApp, yang dimiliki Facebook.

Zuckerberg mengatakan lebih dari 3 miliar pesan yang terkait dengan Covid-19 telah dikirim oleh pemerintah, nirlaba, dan organisasi internasional kepada warga negara melalui chatbots WhatsApp resmi, dan pembaruan ini juga akan membantu upaya vaksinasi. (mdk/pan)

Baca juga:
Israel Produksi Semprotan Hidung Diklaim 99,9 Persen Bisa Bunuh Virus dalam Dua Menit
Sinovac Klaim Vaksinnya Aman Bagi Bayi dan Remaja
Hasil Uji Coba Klinis: Vaksin AstraZeneca 79 Persen Efektif Cegah Covid-19 Bergejala
Kasus Pertama Covid-19 di China Kemungkinan Sudah Ada Sejak Oktober 2019
27,6 Juta Warga Inggris Sudah Divaksinasi, Separuh Penduduk Usia Dewasa
Tiga Warga Hawaii Terinfeksi Covid-19 Walaupun Telah Divaksinasi Penuh

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami