Hot Issue

Gara-Gara Kriket, Kebencian Itu Menular Sampai ke Seberang Benua

Gara-Gara Kriket, Kebencian Itu Menular Sampai ke Seberang Benua
Muslim India salat jumat di tengah situasi mencekam di New Delhi. ©2020 AFP PHOTO/Xavier GALIANA
DUNIA | 23 September 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Jay Patel mengelola sebuah restoran vegetaria, Shiv Sagar di kawasan terkenal Golden Mile, Leicester, Inggris. Pada Sabtu malam lalu, restorannya dipenuhi 80 pelanggan dan tiba-tiba kerumunan pemuda lewat.

Diperkirakan ada ratusan pria malam itu. Sebagian besar dari mereka memakai masker dan berpakaian serba hitam dari ujung kepala sampai ujung kaki dan beberapa tampak membawa senjata. Jay Patel mengatakan situasi saat itu menakutkan.

"Orang-orang berlarian ke pojok sini, ke pojok sana, menggedor pintu. Kami mematikan semua lampu dan menutup semua kelambu," ujarnya dikutip dari BBC, Kamis (22/9).

"Sangat mengerikan," lanjutnya.

Sejak malam itu, para pelanggan di restorannya membatalkan reservasi. Patel mengatakan ini tidak biasa karena selama empat tahun membuka usaha, restorannya tidak pernah sepi.

Kerusuhan akhir pekan lalu di Leicester merupakan kulminasi dari meningkatnya ketegangan selama beberapa pekan antara kelompok Muslim dan Hindu di kota itu. Konflik dipicu pertandingan kriket antara India dan Pakistan pada akhir Agustus lalu. Namun salah satu warga di Leicester mengatakan kerusuhan ini tidak ada kaitannya dengan kriket.

Sebanyak 47 orang ditangkap karena kerusuhan tersebut dan sebagian dari mereka ditangkap karena memiliki senjata.

Kerusuhan itu juga memanas di media sosial. Muncul informasi viral yang mengklaim serangan terjadi karena persoalan agama. Pada Rabu, polisi meminta masyarakat tidak membagikan klaim yang belum terverifikasi di media sosial.

Kelompok Hindu dan Muslim membagikan video di media sosial yang diduga video selama kerusuhan, menunjukkan kelompok dari kedua belah pihak yaitu sekelompok pria yang memakai penutup wajah menggedor jendela warga di daerah mayoritas Hindu dan mencabut lambang agama di tempat tersebut, sementara itu kelompok lain berjalan menuju jalan-jalan yang dihuni mayoritas Muslim dan meneriakkan "Jai Shri Ram" yang biasanya diucapkan kelompok Hindu sayap kanan di India.

Salah satu video juga menunjukkan seorang pria memanjat ke atap sebuah kuil Hindu di Belgrave Road dan mencabut bendera bergambar lambang agama.

"Sangat menakutkan. Ini pertama kalinya kami mengalami kerusuhan rasial semacam ini," tutur Kishor Chauhan, seorang pemilik toko di seberang kuil.

Chauhan mengatakan selama 45 tahun mengelola tokonya, dia baru pertama kali melihat hal semacam ini di Leicester. Dia juga khawatir kerusuhan ini bisa menghentikan warga yang datang ke wilayah tersebut untuk menghadiri festival-festival Hindu di kota itu. Jika ini tidak tertangani, maka usaha warga di kawasan itu akan sangat terpengaruh.

Konflik antara kelompok Hindu dan Muslim di India kerap pecah dan ketegangan muncul sejak lama. Beberapa tahun terakhir, ujaran kebencian terhadap minoritas di India semakin marak dan semakin buruk di bawah pemerintahan partai sayap kanan, Bharatiya Janata (BJP).

Pada Februari 2020, 53 orang tewas dalam kekerasan komunal di Delhi, 40 di antaranya adalah Muslim. Kerusuhan terjadi setelah unjuk rasa damai menentang undang-undang kewarganegaraan baru yang disebut menargetkan kelompok Muslim.

Kemudian muncul pertanyaan apakah kerusuhan di Leicester melibatkan orang luar. Menurut Kepolisian Leicestershire, sebagian besar orang yang ditangkap dalam kerusuhan itu berasal dari luar kota. Mereka diduga sengaja datang ke Leicester untuk menciptakan kekacauan. Sejumlah aktivis berspekulasi, kelompok nasionalis Hindu dari India terlibat.

2 dari 2 halaman

Kebersamaan Hindu-Muslim

Konflik Hindu-Muslim di Inggris sangat jarang terjadi, khususnya di Leicester.

Dalam pernyataan bersama yang disampaikan di tangga Masjid Jami' Leicester pada Selasa, para pemimpin komunitas Hindu dan Muslim menekankan bahwa mereka hidup harmonis di kota itu selama lebih dari setengah abad.

"Kami datang ke kota ini bersama-sama. Kami menghadapi cobaan yang sama bersama-sama. Kami melawan pembenci rasis bersama-sama, dan kami bersama-sama membuat kota ini sebagai mercusuar keragaman dan kohesi masyarakat," jelas pernyataan bersama tersebut.

Kebersamaan masyarakat Leicester ini juga bisa terlihat di restoran Shiv Sagar. Patel mengatakan, ketika sekelompok pria bertopeng mengepung restorannya, seorang pemimpin Muslim datang untuk mengawal orang-orang Hindu yang datang ke restoran itu agar bisa keluar dengan aman.

"Salah satu pria dari komunitas Muslim, saya tidak tahu namanya, dia datang dan satu per satu mengawal orang untuk keluar," kata Patel.

"Kata dia, 'Kalau Anda ingin keluar, itu prioritas saya.' Dan para pelanggan keluar bersamanya satu per satu." (mdk/pan)

Baca juga:
Perusahaan di Inggris Mulai Terapkan 4 Hari Kerja, 3 Hari Libur
Sekelompok Pemuda Hindu dan Muslim Baku Hantam di Inggris Gara-Gara Kriket
Dua Gadis India Diduga Korban Pemerkosaan Ditemukan Tewas di Pohon
"Sapi adalah Ibu Saya. Jika Seseorang Membunuhnya, Saya Tidak akan Tinggal Diam"
Pengadilan India Putuskan Umat Hindu Boleh Beribadah di Masjid dari Abad ke-17
Tak Mau Belajar Agama, Remaja India Bunuh Temannya Agar Madrasah Ditutup
Cerita Mereka yang Terpaksa Ganti Nama Demi Hindari Diskriminasi Berbasis Agama

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini