Hamas-Israel Gencatan Senjata, Siapa Pantas Klaim Kemenangan?

Hamas-Israel Gencatan Senjata, Siapa Pantas Klaim Kemenangan?
Ribuan orang hadiri pemakaman warga Palestina korban serangan Israel. ©REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa
DUNIA | 24 Mei 2021 07:49 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Gencatan senjata antara Hamas di Gaza dan Israel akhirnya tercapai pada Jumat lalu. Rakyat Palestina di gaza, Yerusalem Timur dan wilayah pendudukan Tepi Barat merayakan apa yang menurut mereka adalah kemenangan dalam melawan penjajah Israel.

Di Tel Aviv, para jenderal militer Israel mengklaim pertempuran sebelas hari kemarin dimenangkan oleh mereka.

Dilansir dari laman the New York Times, Jumat (21/5), Di dua pusat komando militer Israel yang melakukan operasi penyerangan ke Gaza, para jenderal militer menilai kemenangan telah mereka raih: sejumlah militan Hamas tewas, 340 peluncur roket dihancurkan, 60 mil terowongan bawah tanah berhasil dilumpuhkan.

Namun setelah gencatan senjata diumumkan, setelah 230 warga Palestina dan 12 warga Israel tewas, setelah rumah sakit, masjid, dan sejumlah infrastruktur di Gaza hancur, dua pangkalan militer Israel, satu di Kota Beersheba, selatan Israel, dan satu lagi di Tel Aviv punya penilaian yang berbeda.

Sejak Hamas mengambil alih kekuasaan di Gaza pada 2007, Israel sudah melancarkan sejumlah operasi militer dengan tujuan mengurangi kemampuan militer Hamas. Namun yang mereka lihat adalah Hamas masih mampu menyusun kekuatan dan keberhasilan Israel tidak banyak mengubah situasi. Sebelumnya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji pertempuran kemairn akan berbeda hasilnya.

Dengan jet-jet tempur supercanggih yang melumpuhkan sejumlah target, Israel berupaya menghancurkan kemampuan Hamas semaksimal mungkin. Namun para pejabat militer Israel mengakui upaya mereka tidak berhasil mencegah kemungkinan terjadinya pertempuran berikutnya, bahkan dalam waktu dekat.

Tetap saja, banyak kalangan cukup puas dengan apa yang telah diraih Israel dalam menggempur Hamas. Seorang pejabat militer Israel mengatakan, Hamas tidak tahu seberapa banyak intelijen Israel mengetahui soal mereka dan seberapa efektif Israel akan menggagalkan rencana serangan mereka.

Meski jika militer Israel menilai mereka sudah mencapai target yang mereka inginkan, namun seorang pejabat senior di Beersheba mengatakan mereka masih belum mengetahui apakah pertempuran kemarin mampu mencegah peperangan berikutnya.

Hamas dan para pendukungnya masih memiliki sekitar 8.000 roket, kata seorang tokoh senior Israel dan ratusan peluncur roket. Itu artinya Hamas masih mampu berperang selama dua tahun ke depan.

"Saya tidak tahu," kata si pejabat yang enggan diketahui identitasnya itu tentang pertempuran sebelas hari kemarin. "Kami masih perlu waktu untuk menganalisis apakah itu suatu keberhasilan."

Serangan Israel ke Jalur Gaza selama ini selalu dikecam karena dianggap tidak proporsional dan melanggar hukum internasional.

"Israel kerap menyebut tindakan semacam ini sebagai "memotong rumput", karena rutin mengebom wilayah yang termasuk paling padat penduduknya di dunia dan berada dalam keadaan diblokade. Perang semacam ini melanggar moral karena ruitn dilakukan berulang-ulang," kata pengamat dan pembela hak asasi di Washington, Yousef Munayyer.

Baca Selanjutnya: Ketenangan semu...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami