Hari-hari Kelam di Kampus Pakistan Usai Seorang Profesor Dituduh Menghina Islam

DUNIA | 19 September 2019 19:25 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Profesor Khalid Hameed, mengabdikan dirinya sebagai dosen sastra Inggris di Government Sadiq Egerton College, Kota Bahawalpur, Pakistan. Baginya, bukan masalah untuk datang lebih awal setiap harinya. Termasuk, di hari kala ia dibunuh.

Pagi itu, Hameed tiba tepat pukul delapan. Segera langkahnya menuju ruang staf untuk tanda tangan, membuka kunci ruangannya, dan masuk. Tanpa sadar, seorang mengikutinya dari belakang.

Tepat saat membuka pintu ruangannya, Hameed diserang. Kepalanya dipukul dengan gembok berat. Hameed ditikam berkali-kali hingga meregang nyawa.

Peristiwa nahas itu terjadi pada 20 Maret lalu. Hameed meninggal di usia 59 tahun, enam bulan menuju masa pensiun.

Atas kejadian tersebut, polisi menahan Khateed Hussain, salah satu mahasiswa Hameed.

Di mata keluarga, Hameed dikenal sebagai seorang muslim yang taat. Ironisnya pada video interogasi, tersangka mengatakan alasannya membunuh Hameed adalah karena dosen senior itu telah menghina Islam.

Menurut kepolisian, Hussain telah dipengaruhi oleh Pendakwah Pakistan Tehreek-e-Labbaik Zafar Gillani dan kelompok Islam garis keras.

Namun, enam bulan setelah diinterogasi Hussain tak jua menerima tuntutan. Pun demikian dengan Zafar dan kelompok Islam garis keras yang disebut-sebut mempengaruhi Hussain.

Kasus pembunuhan Hameed bukan hanya meninggalkan luka mendalam di hati keluarga dan rekan sejawatnya, tetapi juga kekhawatiran bagi para pengajar. Kematian Hameed dikaitkan dengan kampanye menentang kebebasan pendidikan, gerakan yang ditolak oleh kelompok berpengaruh di Pakistan.

Bagi Tabasum dan rekan dosen lainnya, Hameed bukanlah seorang penghasut paham liberal. Hameed hanyalah dosen yang berdedikasi dan begitu disukai banyak orang.

"Sebenarnya, dosen adalah simbol dari semua pendidikan liberal," kata Irshad Ahmad Tabasum, profesor di departemen yang sama dengan Hameed.

Tabasum dan rekan pengajar lainnya berpendapat, kampus mereka tidak pernah memiliki masalah dengan kelompok garis keras. Tidak ada dari mereka yang dapat menjelaskan motif pelaku membunuh Hameed.

Sebelum kematian Hameed, sempat beredar pamflet berisi seruan larangan terhadap pertemuan yang melibatkan Hameed. Pamflet itu juga memuat fitnah tentang Hameed. Dikatakan, laki-laki dan perempuan yang hadir akan diperbolehkan untuk menari bersama.

Meski nama Hussain disebut sebagai pelaku pembunuhan, tetapi penyelidik mengatakan ia tidak terlibat dalam pembuatan pamflet tersebut. Pernyataan ini diragukan oleh para dosen.

Baca juga:
Remaja Pakistan Meninggal Dunia, Diduga Dianiaya Guru Karena Tak Bisa Hafalan
Ritual Berdarah Muslim Syiah Warnai Perayaan Asyura
Sebelum Indonesia, Ini 5 Negara yang Pernah Pindah Ibu Kota
Satu Tentara India Tewas dalam Peristiwa Baku Tembak di Jammu dan Kashmir
Pasca Berunding dengan PBB, Pakistan dan India Masih Bersitegang
Saudara Kandung Pemimpin Taliban Tewas dalam Bom Masjid Pakistan

1 dari 3 halaman

Dosen tidak lagi berani berbicara

Dikutip dari The New York Times, Rabu (18/9), di hadapan penyidik Hussain menyebut bahwa Hameed "biasa menyerukan perlawanan terhadap Islam dan menghina setiap hari."

Penyataan Hussain membuat heran para pengajar di universitas itu. Seperti kelas sastra Inggris pada umumnya, Hameed biasa menjelaskan berbagai hal seputar filsafat, sejarah, agama dan politik yang berkaitan dengan mata kuliahnya. Tidak ada pengajar yang mengetahui pasti apa yang membuat Hussain begitu marah, hingga tega membunuh.

Pembunuhan Hameed seolah membungkam kebebasan berpendapat di institusi pendidikan. Kini, para dosen sangat berhati-hati dalam menyampaikan materi perkuliahan. Mereka khawatir, akan ada mahasiswa yang sakit hati dan mengulang kisah Hameed.

"Selama 25 tahun terakhir, saya tidak pernah merasakan tekanan seperti yang sekarang saya rasakan," ungkap Tabasum.

Sebelum peristiwa pembunuhan yang merenggut nyawa Hameed terjadi, Tabasum kerap membagikan sejarah tentang tragedi Yunani, "Oedipus Rex" di kelasnya. Namun saat ini, ia tidak lagi memiliki keberanian untuk membicarakan hal itu di depan kelas.

"Karena setiap kata dapat menciptakan masalah bagi Anda," jelasnya. "Inilah yang tertanam dalam diri saya setelah kejadian itu."

Asisten Profesor di Sadiq Egerton Mahmood Ahmed Shaheen mengatakan, para dosen kini enggan membahas materi yang terlalu filosofis. Menurutnya, insiden pembunuhan Hameed telah memengaruhi perasaan dan cara pandang para pengajar.

"Kami merasa sedikit tidak aman ketika belajar dan mendiskusikan sesuatu di kelas, terutama jika itu terkait dengan agama," jelasnya.

Bukan hanya di kampus tempat Hameed mengajar, ketakutan itu juga menyebar hingga ke luar Kota Bahawalpur. Rasa takut juga dirasakan para pengajar di Inu Kota Islamabad yang berjarak sekitar 600 km lebih.

Shaista Sonnu Sirajuddin, Mantan Profesor Sastra Inggir di Universitas Punjab, Lahore, Pakistan berpendapat kejadian serupa bisa saja terjadi di tempat lain. "Saya takut dan khawatir, kita juga bisa menjadi korban."

2 dari 3 halaman

Selain dosen, mahasiswa juga pernah jadi korban

Dua tahun lalu, seorang mahasiswa berusia 25 tahun di Universitas Abdul Wali Khan Mardan diseret dari kamar asramanya dan dibunuh oleh sejumlah orang. Pembunuhan itu terjadi setelah beredar rumor bahwa ia telah mengunggah ujaran kebencian di media sosial.

Mahasiswa malang itu bernama Marshal khan. Ia digambarkan sebagai pribadi yang humanis. Bahkan, kamar asramanya dipenuhi poster para pahlawan politik dan slogan tentang kebebasan berpendapat.

Sorotan para pembela agama garis keras telah menjadi masalah di sejumlah kampus di Pakistan, sejak kekuasaan militer jenderal Mohammad Zia ul-Haq, tahun 1980-an. Sejak saat itu Pakistan mulai berani menerapkan islamisasi dalam hukum di negara mereka.

"Jika Anda mengundang pembicara yang berpikiran maju, pembicara itu akan diteriaki untuk turun, dan pergi keluar kampus," katanya.

3 dari 3 halaman

Profesor Hameed adalah sosok religius

Istri dan keempat anak Hameed mengatakan, dosen senior itu sangat religius. Selama lima tahun bekerja di Makkah, Hameed sudah berulang kali melakukan ibadah umroh.

Menurut kesaksian para dosen dan alumni Sadiq Egerton yang dikutip dari The New York Times, Hameed juga memiliki jiwa sosial tinggi. Ia sering menaruh perhatian pada mahasiswa tidak mampu. Hameed berkeyakinan, gelar pendidikan dapat mengubah hidup mereka dan keluarganya.

Hingga saat ini, Hussain dilaporkan masih mendekam di penjara. Mahasiswa berusia 21 tahun itu belum mendapat dakwaan resmi.

Sementara, Zafar Gillani, penceramah yang dituduh menghasut Hussain, juga sempat ditahan. Namun, saat ini ia sudah diberikan kebebasan bersyarat.

Shafiq Qureshi yang bertindak sebagai jaksa penuntut umum dalam kasus ini mengatakan, laporan investigasi telah lengkap. Menurutnya, tuntutan resmi sudah dapat diajukan bulan ini. Shafiq berharap, sidang pengadilan dapat segera digelar.

Kasus ini mendapat pengawalan ketat dari para mahasiswa, dosen, dan warga Pakistan lainnya. Asisten Profesor Sastra Inggris di Sadiq Egerton Diwan Asif Shahzad sempat meyakini, hukuman pada pelaku akan memperkuat dukungan terhadap pendidikan liberal. Namun, keyakinan itu mulai goyah. Pasalnya, proses hukum atas kasus ini belum juga berjalan.

"Kami semua khawatir apa yang akan menjadi keputusan akhir," kata Shahzad.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita

(mdk/pan)