Hasrat terpendam sang putra mahkota Iran

Hasrat terpendam sang putra mahkota Iran
Demo antipemerintah di Iran. ©AFP PHOTO/STR
DUNIA | 11 Januari 2018 05:03 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo

Merdeka.com - Usia lelaki itu saat ini menginjak 57 tahun. Ketika ditemui, sorot matanya terpaku ke layar ponselnya. Dia melihat-lihat sejumlah rekaman memperlihatkan unjuk rasa besar-besaran baru-baru ini terjadi di tanah kelahirannya, Iran.

Reza Pahlevi merupakan anak dari raja Iran terakhir, mendiang Syah Muhammad Reza Pahlevi. Namun, hingga saat ini dia belum pernah lagi menjejakkan kaki di kampung halamannya. Penyebabnya adalah Revolusi Iran pada 1979 silam menggulingkan tahta dan kerajaan dipimpin sang ayah, digantikan oleh dewan ulama Syiah.

Pada saat itu, Reza Pahlevi tengah belajar menjadi pilot pesawat tempur di Amerika Serikat. Hubungan kedua negara masih dekat, tetapi sudah di titik nadir. Tak lama setelah ayahnya meninggalkan Iran buat berobat karena kanker, kemudian kekuasaannya seketika lenyap akibat revolusi. Pahlevi pun hidup dalam pengasingan di Negeri Abang Sam sampai detik ini.

Melihat kilasan gelora muda-mudi dalam unjuk rasa baru-baru ini, seakan membuat Reza Pahlevi memasuki lorong waktu dan kembali ke masa lalu. Saat-saat di mana rakyat mengkritik kepemimpinan sang ayah karena dianggap sebagai raja yang kejam, otoriter, serta korup. Namun, di benaknya tersirat sebuah harapan.

"Kita semua tahu yang paling ampuh adalah pergantian rezim. Itu kehendak penduduk Iran. Bukan menurut apa kata Amerika Serikat, Israel, atau Arab Saudi," kata Pahlevi di Washington, seperti dilansir dari laman Associated Press, Rabu (10/1).

Di mata Pahlevi, penyebab utama mengapa aksi unjuk rasa bermula di Kota Mashdad dan dengan cepat menyebar ke 80 kota lainnya bukan dipicu masalah ekonomi atau tingkat pengangguran. Bagi dia, penduduk Iran bergolak lantaran merasa dikungkung oleh rezim dikuasai ulama garis keras yang dianggap kolot serta sulit beradaptasi dengan zaman.

Selama ini Pahlevi rajin bertatap muka dengan pegiat hak asasi manusia, pemimpin serikat, pewarta, dan mahasiswa Iran yang tidak sepakat kebijakan pemerintah mereka. Buat dia, momen pergolakan di dalam Iran tidak boleh dilewatkan begitu saja. Sebab, selain ingin pulang ke kampung halamannya, dia menjanjikan bakal mengubah sistem pemerintahan menjadi lebih demokratis.

Pahlevi merasa dia mendapat dukungan dari muda-mudi di Iran supaya segera pulang dan memimpin perlawanan terhadap pemerintah. Padahal, generasi mereka terpaut jauh.

"Kita harus merebut negara kita kembali. Sekarang saatnya. Dan ini bukan kebetulan," ujar Pahlevi.

Walau demikian, bukan perkara mudah bagi Pahlevi merebut perhatian masyarakat dengan seolah-olah menjadi juru selamat bagi Iran. Selama ini dia hidup di luar negeri dan juga dituduh menjadi dalang gejolak terjadi belakangan. Apalagi masa kepemimpinan mendiang ayahnya meninggalkan catatan kelam bagi warga negara itu. Dia memberangus para penentangnya dengan cara penculikan dan pembunuhan. Bahkan buat mempertahankan kekuasaannya, badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) sampai turun tangan.

Bahkan Pahlevi pun terlihat ragu ketika ditanya buat merinci visinya buat Iran, jika memang mendapat peluang dan kembali ke negaranya. Yang ada di kepalanya adalah penduduk harus terus menekan hingga pemerintah menyerah, melakukan pemindahan kekuasaan, menggelar pemilu buat membentuk legislatif, menumbuhkan sekulerisme dan demokrasi. Ide dia lainnya, yakni mengampuni dan membubarkan anggota Garda Revolusi bentukan mendiang Ayatullah Khumaini, seperti tidak masuk di akal. Sebab, mereka adalah buah pemikiran sang ulama dan menjadi musuh sebagian kalangan di Iran.

"Jujur saya belum tahu. Satu-satunya tujuan saya hanya ingin menggelar pemilihan umum yang adil dan jujur. Tentu saya siap memimpin negara, atau bisa saja saya nantinya cuma menjadi warga biasa," kata Pahlevi. (mdk/ary)


Aktivis Iran terlibat demo besar diduga dihabisi di penjara
Dituduh hasut pendemo lawan pemerintah, eks presiden Iran ditangkap
Kepala CIA bantah terlibat demonstrasi antipemerintah di Iran
Garda Revolusi Iran sebut AS, Inggris dan Israel dalang kerusuhan
Amnesty Internasional duga pendemo Iran tewas dianiaya di penjara

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami