Ikuti Filipina, Sri Lanka Cari Tukang Jagal buat Eksekusi Penyelundup Narkob
DUNIA | 12 Februari 2019 17:31 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Sri Lanka pekan ini mulai mengumumkan lowongan kerja untuk eksekutor hukuman gantung. Langkah Sri Lanka ini mengikuti kebijakan pemerintah Filipina yang memerangi penyelundupan narkoba dengan hukuman mati.

Eksekusi mati di Sri Lanka yang terakhir terjadi 43 tahun lalu. Presiden Maithripala Sirisena pekan lalu mengatakan dia ingin melanjutkan hukuman mati bagi para pelaku penyelundup narkoba dalam dua bulan ke depan.

Dilansir dari laman Channel News Asia, Selasa (12/2), dalam kunjungan kenegaraan ke Filipina bulan lalu, Sirisena memuji langkah Presiden Rodrigo Duterte dalam memerangi narkoba dengan menjalankan hukuman mati meski mendapat kecaman dunia internasional.

Penyelundupan narkoba diganjar hukuman mati di Sri Lanka meski selama ini tidak ada yang dieksekusi sejak 1976. Semua hukuman mati hanya berakhir pada hukuman penjara seumur hidup.

Eksekutor hukuman gantung di Sri Lanka yang terakhir mengundurkan diri pada 2014. Selama bekerja dia tidak pernah mengeksekusi terpidana dan dia mengaku stres ketika pertama kali melihat tiang gantungan. Satu orang eksekutor yang dipekerjakan tahun lalu tidak pernah kembali.

Demi mengantisipasi hukuman mati yang akan diberlakukan lagi, lembaga pemasyarakatan kini mempercepat proses untuk merekrut dua eksekutor.

"Kami tidak pernah tahu pemerintah akan melanjutkan hukuman mati, tapi kami akan mempekerjakan dua eksekutor untuk mengisi lowongan itu supaya dia siap ketika pemerintah akan mengeksekusi penyelundup narkoba," kata Thushara Upuldeniya, juru bicara lapas kepada kantor berita Reuters.

Sebuah iklan lowongan kerja bagi eksekutor hukuman gantung di harian nasional kemarin memajang upah sebesar USD 203,99 atau setara Rp 2,8 juta atau di atas rata-rata gaji pegawai negeri.

Eksekutor yang dicari adalah orang Sri Landa, pria, berusia 18 hingga 45 tahun, dan punya 'karakter moral yang baik', dan 'kuat mental'.

Upuldeniya mengatakan wawancara kerja akan dimulai bulan depan.

Saat ini ada sedikitnya 25 terpidana narkoba, termasuk dua penyelundup bisa deksekusi, kata Upldeniya.

Selain itu ada 436 orang lagi, termasuk enam perempuan, yang sudah divonis hukuman mati karena berbagai tindak kejahatan, termasuk pembunuhan.

Pejabat pemerintah mengatakan kepada Reuters, Sirisena meminta nasihat dari Filipina soal memerangi penyelundupan narkoba karena khawatir Sri Lanka menjadi pusat peredaran narkoba di Asia.

Baca juga:
Penemuan Kuburan Massal Terbesar di Sri Lanka
China Sebar Utang, Ke Negara Mana Sajakah?
Kejadian Memalukan Sidang Parlemen, Ada Yang Adu Jotos
Perdana menteri Sri Lanka dipecat atas dugaan rencana pembunuhan presiden
Presiden Sri Lanka marah gara-gara kacang mete di pesawat
Pipa kapal bocor, 25 ton minyak cemari pantai di Sri Lanka

(mdk/pan)