Ilmuwan Ungkap Dari Mana Asal Virus Cacar Monyet

Ilmuwan Ungkap Dari Mana Asal Virus Cacar Monyet
AS Deklarasi Darurat Cacar Monyet. ©Spencer Platt/Getty Images/AFP
DUNIA | 9 Agustus 2022 11:54 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Virus cacar monyet terus menyebar ke seluruh dunia, dengan berbagai kasus dari Amerika Serikat (AS), Kanada, Australia, Meksiko, Argentina, Moroko, Spanyol, Portugal, Prancis, Jerman, Italia dan Swedia.

Di Inggris, jumlah total infeksi yang dikonfirmasi meningkat menjadi 2.768 kasus pada 4 Agustus 2022. Dari jumlah tersebut, 2,730 kasus berada di Inggris.

"Wabah cacar monyet yang menyebar di Inggris terus berkembang, kini dengan lebih dari 1000 kasus yang telah dikonfirmasi secara nasional," sebut Dr Sophia Makki direktur insiden di Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA).

“Kami memperkirakan kasus akan terus meningkat lebih lanjut dalam beberapa hari dan minggu mendatang.

“Jika Anda menghadiri acara besar selama musim panas atau berhubungan seks dengan pasangan baru, waspadalah terhadap gejala cacar monyet supaya Anda dapat diperiksa dengan cepat dan membantu menghindari penularan infeksi.”

UKHSA saat ini sedang menyelidiki kemungkinan hubungan antara pasien Inggris yang terinfeksi dan telah mencatat empat orang yang didiagnosis bersama pada Senin 16 Mei semuanya adalah laki-laki gay atau biseksual, mengindikasikan mungkin virus sedang ditularkan secara seksual di antara komunitas tersebut.

Petugas kesehatan Inggris ditawari vaksin cacar sebagai sarana perlindungan. Tidak ada vaksin cacar monyet yang spesifik saat ini tetapi vaksin cacar air diperkirakan 85 persen efektif melawannya.

Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memiliki tim ahli yang bertemu secara teratur untuk memantau krisis yang berkembang.

2 dari 2 halaman

Dari mana cacar monyet berasal?

WHO telah melacak penyakit tersebut ke hutan hujan tropis Afrika Tengah dan Barat serta mendefinisikannya sebagai penyakit zoonosis virus – yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia – dengan kasus pertama yang tercatat di Republik Demokratik Kongo pada 1970.

Meskipun awalnya ditularkan ke manusia melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh primata yang terkontaminasi, atau melalui perantara hewan pengerat seperti tupai pohon dan tikus Gambia, virus ini jauh lebih mungkin untuk ditularkan dari sesama manusia.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memperingatkan ada "risiko teoretis" penyakit itu dapat menular melalui udara.

Pada wabah 2017 yang terjadi di Nigeria, yang terbanyak kala itu, 172 kasus dugaan cacar monyet diidentifikasi dan 61 kasus yang dikonfirmasi dilaporkan di seluruh negeri.

Apa saja gejalanya?

Infeksi virus dimulai relatif ringan, penyakit yang memiliki masa inkubasi enam hingga 16 hari dan membuat pasien pertama menderita demam, sakit kepala, bengkak, nyeri punggung, nyeri otot, dan kelesuan umum pada tahap awal.

Setelah itu berlalu dan demam mereda, penderita akan mengalami "erupsi" kulit, di mana ruam menyebar ke seluruh wajah, diikuti oleh seluruh tubuh, paling sering telapak tangan dan telapak kaki.

Ruam berkembang dari lesi menjadi lepuh berkerak, yang kemudian dapat memakan waktu tiga minggu untuk sembuh dan menghilang.

Menurut CDC: “Perbedaan utama antara gejala cacar dan cacar monyet adalah cacar monyet menyebabkan kelenjar getah bening membengkak (limfadenopati) sedangkan cacar tidak.”

Virus ini sulit didiagnosis tanpa bantuan analisis laboratorium karena kemiripannya yang serupa dengan penyakit lain yang menyebabkan ruam, seperti cacar air, campak, kudis, dan sifilis.

Seberapa berbahaya penyakit ini?

Dr Colin Brown, direktur klinis dan infeksi di UKHSA, mengatakan cacar monyet "tidak menyebar dengan mudah di antara orang-orang dan risiko keseluruhan untuk masyarakat umum sangat rendah".

Profesor Jimmy Whitworth dari London School of Hygiene and Tropical Medicine setuju dengan penilaian itu tetapi menekankan cacar monyet “biasanya ringan… dan ditindaklanjuti”.

Kematian juga terjadi terutama di kalangan anak muda, meskipun WHO menempatkan angka kematian untuk penyakit ini hanya satu dari 10.

Dr Michael Head, seorang peneliti senior kesehatan global di University of Southampton, mengakui "saat ini ada banyak yang tidak kita ketahui" tetapi "akan sangat tidak biasa untuk melihat lebih dari segelintir kasus dalam wabah apa pun" dan menekankan “kita tidak akan melihat tingkat penularan seperti Covid".


Reporter Magang: Gracia Irene (mdk/pan)

Baca juga:
AS Deklarasikan Darurat Cacar Monyet
Kasus Cacar Monyet Melonjak, AS Nyatakan Kondisi Darurat Kesehatan
CEK FAKTA: Tidak Benar Cacar Monyet Bisa Menginfeksi Orang dari Jarak 8 KM
WHO: Kasus Cacar Monyet Tidak Terbatas Pada Kaum Gay Saja
India Laporkan Kematian Pertama Akibat Cacar Monyet
Kota New York Umumkan Kondisi Darurat Cacar Monyet
WHO: Kasus Cacar Monyet Global Tembus 18.000 Lebih

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini