Indonesia minta Myanmar buka akses bantuan kemanusiaan bagi Rohingya

Indonesia minta Myanmar buka akses bantuan kemanusiaan bagi Rohingya
DUNIA | 19 Desember 2016 18:47 Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro

Merdeka.com - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam pertemuannya dengan para menlu ASEAN di Yangoon, Myanmar, hari ini menyerukan perlindungan dan penghormatan hak asasi manusia terhadap semua masyarakat muslim di Negara Bagian Rakhine harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan inklusif.

Pertemuan ini merupakan tindaklanjut dari pertemuan Menlu Retno dengan Penasihat negara Aung San Suu Kyi, di Naypidaw pada 6 Desember lalu. Para Menlu ASEAN membahas langkah maju yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik di Rakhine.

Dalam pertemuan tersebut, Menlu Retno kembali menegaskan keprihatinan Indonesia dan pentingnya untuk segera mengembalikan keamanan dan stabilitas bagi upaya untuk meneruskan pembangunan yang inklusif di Rakhine.

Lebih lanjut Menlu RI meminta agar akses bantuan kemanusiaan ke Rakhine State dibuka secara luas bagi anggota ASEAN guna mendukung upaya pemulihan stabilitas di Rakhine.

Dalam kaitan ini Menlu Retno menyampaikan kesiapan Indonesia untuk tidak saja memberikan bantuan kemanusiaan namun juga bantuan peningkatan kapasitas.

"Seperti yang disampaikan Aung San Suu Kyi, Myanmar membutuhkan bantuan peningkatan kapasitas di berbagai bidang. Indonesia siap memberikan bantuan peningkatan kapasitas termasuk bagi peningkatan kapasitas polisi dan aparat keamanan, serta memfasilitasi kegiatan dialog antarumat beragama untuk mendukung upaya rekonsiliasi di Rakhine," tegas Menlu Retno., seperti dikutip siaran pers yang diterima merdeka.com, Senin (19/12).

Para menlu ASEAN menyambut baik usulan Menlu Retno agar dilakukannya pengarahan secara rutin terkait perkembangan di Rakhine. Langkah ini dipandang akan dapat membantu memberikan gambaran situasi sebenarnya, sehingga ASEAN dapat memberikan bantuan yang tepat untuk mendukung langkah afirmatif di Rakhine. Selain itu, para menlu juga sepakat agar bantuan kemanusiaan dan pembangunan negara-negara ASEAN juga dapat disalurkan bersama secara inklusif, termasuk melalui mekanisme ASEAN seperti AHA Center.

"Kita kumpul di Yangoon sebagai satu keluarga ASEAN untuk saling membantu, saya mendorong semua anggota ASEAN untuk terus secara konstruktif mendukung dan membantu Myanmar dalam mengatasi situasi di Rakhine State yang sangat kompleks," tegas Menlu Retno.

Dalam pengarahannya kepada menlu ASEAN, Aung San Suu Kyi menyampaikan mengenai kompleksitas permasalahan dan perkembangan terakhir yang terjadi di Rakhine. Situasi di Rakhine merupakan masalah kompleks yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Suu Kyi juga menyampaikan langkah yang diambil Pemerintahnya setelah peristiwa serangan 9 Oktober 2016 yang menewaskan aparat Myanmar. Pemerintah Myanmar telah membentuk Komisi yang dipimpin oleh Kofi Annan (mantan Sekjen PBB) untuk membantu menyelesaikan masalah di Rakhine State dan Tim Investigasi Nasional.

Atas saran Menlu Retno saat pertemuan 6 Desember lalu, Aung Sang Suu Kyi menyampaikan, akses bagi media termasuk media asing mulai dibuka, dan akses bantuan kemanusiaan juga telah diberikan lebih besar, termasuk untuk bantuan kemanusiaan dari PBB mulai 19 Desember 2016.

Dari Yangoon Menlu Retno akan berangkat menuju Dhaka, Bangladesh, untuk melakukan pertemuan bilateral yang juga akan membahas masalah pengungsi di perbatasan Bangladesh dan Myanmar. (mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami