Ini Penyebab Nelayan WNI Masih Sering Jadi Korban Penculikan Abu Sayyaf

DUNIA | 23 Januari 2020 19:42 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Lima nelayan warga negara Indonesia kembali diculik oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf di perairan Malaysia pekan lalu. Padahal sebelumnya tiga nelayan WNI baru saja diculik Abu Sayyaf pada September dan mereka sudah berhasil dibebaskan Desember lalu.

Hingga saat ini, sejak tahun 2016, 44 WNI telah menjadi korban sanderaan.

Lalu mengapa masih saja ada nelayan WNI yang diculik Abu Sayyaf?

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan ketegasannya kepada pihak Malaysia untuk terus melakukan penjagaan dan pengawasan ketat di wilayah perairannya, terutama Sabah. Terlebih hal itu seharusnya dilakukan sejak perjanjian trilateral antara Indonesia, Malaysia dan Filipina telah disepakati.

1 dari 3 halaman

Menlu Harapkan Kerja Sama dari Pemilik Kapal dan Malaysia

Namun selain itu, dia juga secara tegas menyampaikan kepada para pemilik kapal untuk juga bertanggung jawab apabila anak buah kapalnya mengalami hal apapun, termasuk penyanderaan.

"Saya juga mintakan kepada para pemilik kapal untuk ikut menjaga keselamatan para nelayan Indonesia yang bekerja pada kapal-kapal tersebut," tegas Menlu Retno.

"Jadi para pemilik kapal juga harus mengindahkan aturan-aturan yang diberikan oleh otoritas Malaysia. Maka kalau tidak, korban akan terus terjadi, dan ini tidak bisa kita biarkan terus menerus," tambahnya.

Walaupun sudah menjadi tugas dari Kementerian Luar Negeri untuk terus menjaga keselamatan warga negara ketika berada di luar negeri, namun Menlu Retno tetap mengharapkan adanya kerja sama dari para pemilik kapal dan juga negara tetangga yaitu Malaysia.

Segala upaya ini dilakukan semata-mata agar kejadian serupa tidak lagi terjadi.

2 dari 3 halaman

Aturan Jam Malam

Sejatinya, pihak pemerintah Malaysia telah menetapkan adanya curfew atau aturan jam malam di wilayah Perairan Sabah. Namun, dalam pelaksanaannya banyak yang melanggar aturan tersebut. Walaupun aturannya sudah ada, masih banyak pemilik kapal yang melaut di daerah tersebut.

"Makanya, seperti disampaikan ibu tadi, pemilik kapal juga bertanggung jawab untuk menjaga keamanan karena awak kapalnya yang mayoritas merupakan WNI," ujar Yudha Nugraha selaku Direktur PWNI BHI Kemlu.

Ia menambahkan bahwa ada harapan dari Indonesia agar pemerintah Malaysia dapat mengintensifkan patroli. Tak hanya itu, ia menyampaikan pemerintah Malaysia dapat bertindak tegas, misalnya jika ada kapal yang melanggar aturan, bisa dikenakan enforcement atau tindakan hukum yang lebih tegas lagi.

Bentuk intensif patroli yang diharapkan adalah penjagaan pada malam hari karena aksi penyanderaan selama ini sering terjadi pada malam hari.

3 dari 3 halaman

Nelayan WNI juga Butuh Penghidupan

Yudha memperkirakan ada 1.000 hingga 1.500 warga Indonesia yang berprofesi sebagai ABK. Oleh karenanya, ia juga masih mempertimbangkan solusi yang juga harus mempertimbangkan sisi ekonomi dari para nelayan tersebut.

"Tentunya harus ada alternatif ekonomi bagi mereka. Masih kita pikirkan. Tentunya kita juga paham dari sisi keamanan, tidak aman bagi mereka untuk melaut saat ini karena situasinya. Tapi di sisi lain tentunya mereka perlu juga penghidupan," tambahnya lagi.

Menanggapi banyaknya kasus WNI yang menjadi korban sanderaan di wilayah perairan tersebut, Yudha Nugraha mengatakan bahwa para awak kapal yang bekerja di kapal Malaysia dan beroperasi di wilayah perairan Sabah memang mayoritas merupakan WNI.

Reporter: Benedikta Miranti Tri Verdiana

Sumber: Liputan6.com (mdk/pan)

Baca juga:
Lawan Abu Sayyaf, RI, Filipina dan Malaysia Harus Jalankan Kesepakatan Trilateral
WNI Kembali Disandera Abu Sayyaf, Wamenlu Salahkan Malaysia
Abu Sayyaf Kembali Culik Lima Nelayan Indonesia di Perairan Sabah
Anggota Abu Sayyaf Penculik Nelayan Indonesia Tewas Dalam Serangan Militer Filipina

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.