Iran Eksekusi Mati Seorang Pegulat Setelah Ikut Demo Antipemerintah Pada 2018

Iran Eksekusi Mati Seorang Pegulat Setelah Ikut Demo Antipemerintah Pada 2018
DUNIA | 14 September 2020 18:47 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Pada Sabtu, pemerintah Iran menyampaikan telah mengeksekusi seorang pegulat berusia 27 tahun atas dakwaan pembunuhan setelah dia ikut demo anti pemerintah dua tahun lalu, kasus memicu kampanye oleh kelompok olahraga internasional untuk menuntut grasi bagi atlet tersebut.

Pegulat tersebut, Navid Afkari, diekseksui pada Sabtu pagi di penjara kota Shiraz, seperti dikonfirmasi para pengacaranya. Afkari dituduh menikam seorang pekerja utilitas air di tengah kerusuhan di kota asalnya, Shiraz, pusat unjuk rasa antipemerintah yang melanda negara itu pada 2018.

Tuduhan terhadapnya telah ditanggapi dengan skeptisisme luas di Iran dan luar negeri, dengan banyak kritikus pemerintah mengatakan kasus ini untuk membungkam perbedaan pendapat. Dalam rekaman audio yang diselundupkan dari penjara, Afkari mengaku disiksa sampai mengaku melakukan kejahatan tersebut.

Pengacara Afkari pada Sabtu mengatakan, pejabat Iran telah melakukan eksekusi tanpa memberikan izin adanya kunjungan terakhir keluarga bagi klien mereka, yang menurut mereka diatur oleh hukum. Keluarga Afkari diinformasikan pada Sabtu pagi, setelah eksekusi.

Tim hukum Afkari telah mempersiapkan mosi terakhir untuk peninjauan kembali kasus tersebut.

Komite Olimpiade Internasional mengatakan terkejut dan sedih dengan eksekusi tersebut.

“Sangat mengecewakan bahwa permohonan para atlet dari seluruh dunia dan semua pekerjaan di balik layar dari IOC bersama dengan NOC Iran, United World Wrestling dan National Iranian Wrestling Federation tidak mencapai tujuan kami," kata komite tersebut dalam sebuah pernyataan, mengacu pada kelompok olahraga Iran dan global, dikutip dari The New York Times, Senin (14/9).

Meskipun Afkari belum pernah berkompetisi di Olimpiade, banyak yang mendesak IOC untuk mengambil tindakan, mengatakan organisasi tersebut memiliki kewajiban untuk melindungi atlet di semua tingkatan. IOC menyampaikan, presidennya, Thomas Bach, telah mengajukan banding secara langsung kepada pemimpin tertinggi dan presiden negara itu, meminta pengampunan bagi Afkari.

Kepala pengadilan setempat, Seyed Kazem Mousavi, mengatakan kepada media berita resmi Iran bahwa eksekusi itu "dilakukan setelah proses peradilan dan atas desakan keluarga korban yang dibunuh." Di bawah hukum Iran, kerabat sedarah korban dapat memaafkan terdakwa, seringkali setelah kompensasi dibayarkan.

Pendukung Afkari sedang dalam penerbangan ke Shiraz untuk memohon kepada keluarga penjaga keamanan yang terbunuh ketika eksekusi berlangsung, kata pengacaranya.

“Mengapa terburu-buru untuk mengeksekusi?” kata Mohammad Ali Abtahi di Twitter, mantan wakil presiden yang terkadang kritis terhadap pemerintah. Dia menyarankan pengadilan mungkin mempercepat eksekusi sebagai tanggapan atas protes internasional.

Baca Selanjutnya: Minta Bantuan Internasional...

Halaman

(mdk/pan)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami