ISIS Masih Punya Kekayaan Rp4,3 Triliun, Serangan Teror Masih Mengancam

DUNIA | 6 Agustus 2019 18:40 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Antonio Guterres melaporkan, meskipun telah kehilangan wilayah kekuasaan di Suriah dan Irak, namun kekuatan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masih ada.

Berdasarkan laporan rilis dari Guterres yang dilansir Al Araby, Senin (4/8), ISIS masih memiliki kekayaan senilai USD 300 juta atau setara dengan Rp4,3 Triliun.

Dengan jumlah uang yang terbilang masih cukup besar, PBB memperingatkan adanya kemungkinan teror kembali terjadi. PBB menilai, jeda serangan oleh kelompok ISIS saat ini mungkin hanya bersifat sementara.

"Kemungkinan tidak sampai akhir tahun 2019," ujar Guterres.

Kehilangan wilayah kekuasaan di Suriah dan Irak, berarti memutus sumber pendanaan ISIS yang selama ini didapat dari penambangan minyak dan pajak di wilayah tersebut.

Meski demikian, ISIS diyakini masih mampu memperoleh dana untuk mendukung aksi terorismenya di Irak, Suriah, dan luar negeri. Dalam hal ini, PBB menyebut aliran dana dilakukan secara informal, atau yang dikenal dengan istilah "hawaladar".

Lebih lanjut PBB menganalisis, penjualan barang-barang antik dari Irak mungkin menjadi sumber pendanaan lain bagi ISIS. PBB menjelaskan, dengan hilangnya wilayah kekuasaan di Suriah dan Irak, ISIS membentuk unit khusus untuk menjual barang-barang antik.

"Detail barang antik yang diperdagangkan dan lokasi penjualannya hanya diketahui oleh pemimpin ISIS," jelas Guterres dalam rilisnya.

Selain itu, kelompok ISIS diketahui telah mendorong para pendukungnya di Timur Tengah, Afrika, dan Asia, untuk memiliki kemandirian finansial.

Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, Michelle Bachelet pada akhir Juni lalu mengatakan, lebih dari 55.000 tersangka militan ISIS dan keluarganya ditahan di Irak dan Suriah. Sebagian besar berada dalam, tahanan pemerintah Irak dan Pasukan Demokratik Suriah yang didukung AS dan lebih dari 50 negara lainnya. Sementara, sebanyak 11.000 keluarga lainnya ditahan di kamp Al Hol di Suriah bagian timur laut.

Atas data tahanan tersebut, dalam laporannya PBB memperingatkan adanya ancaman jangka pendek hingga panjang dari para tahanan pendukung ISIS. Baik itu ancaman kekerasan, hingga serangan terorisme di masa mendatang.

Reporter Magang: Anidnya Wahyu Paramita

Baca juga:
Deretan WNI Gabung ISIS yang Tewas di Irak dan Suriah
Ini Alasan Kemlu Sulit Verifikasi Kabar WNI Hamil Dibunuh di Kamp Pengungsian ISIS
Cerita Mengejutkan WNI dan Tawanan Lain Bisa Kabur dari Cengkeraman ISIS
Anggota ISIS Asal Indonesia Ditemukan Tewas di Suriah
Kepala BNPT Sempat ke Suriah untuk Pulangkan Eks ISIS ke Indonesia
Pemerintah akan Buat Tim untuk Pemulangan WNI Simpatisan ISIS

(mdk/pan)