Israel Dukung Jenderal Pemberontak Libya, Diam-diam Latih Milisi Khalifa Haftar

DUNIA | 9 Desember 2019 07:22 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Panglima perang Libya, Khalifa Haftar diam-diam bertemu dengan para pejabat intelijen Israel, menghasilkan pelatihan militer Israel terhadap milisi yang setia kepada Haftar dalam "perang jalanan". Demikian diungkapkan sumber-sumber Libya dan Mesir kepada kantor berita New Arab atau Al Araby.

Perjanjian kerja sama keamanan antara kedua pihak memunculkan Mesir yang mengoordinasikan pemindahan perwira khusus Israel ke wilayah yang dikuasai Haftar di Libya untuk melaksanakan pelatihan pada Agustus dan September 2019.

Tentara Nasional Libya (LNA) Haftar dan sekutu, milisi dan tentara bayarannya saat ini terjebak dalam pertempuran untuk merebut ibu kota Tripoli dan mengalahkan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB yang dipimpin oleh Fayez Sarraj.

Sementara LNA (Tentara Nasional Libya) dan pemerintahan timur Libya didukung Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Prancis, dan Rusia. GNA yang berbasis di Tripoli didukung Itali, Turki, dan Qatar.

1 dari 2 halaman

Sumber menambahkan, pertemuan antara Haftar dan pejabat Israel adalah pertama kali dilakukan di wilayah Libya, sebagaimana dilansir dari laman Al Araby, Minggu (8/12).

Haftar diketahui telah diam-diam bertemu dengan pemerintah Israel dan agen intelijen Mossad dalam pertemuan yang difasilitasi Uni Emirat Arab. Dalam pertemuan musim panas 2018 itu, Israel setuju untuk memasok senjata, termasuk senapan sniper dan peralatan pengintai malam hari ke LNA milik Haftar.

Libya saat ini berada di bawah embargo senjata PBB, yang tampaknya tidak dipatuhi karena Haftar dan pemerintah yang diakui secara internasional terus menerima senjata. Haftar dan pasukan sekutunya berbasis terutama di Libya timur dan telah melakukan gerakan mengambil alih ibu kota Tripoli dari GNA sejak April tahun ini.

2 dari 2 halaman

Kejahatan Perang

Konflik telah menewaskan lebih dari 1.000 orang, melukai hampir 6.000 dan memaksa 120.000 orang melarikan diri, menurut angka PBB.

Bukti keterlibatan Haftar dalam kejahatan perang semakin meningkat. Amnesty telah melaporkan pasukan Haftar terlibat dalam serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, seperti daerah permukiman dan fasilitas medis.

Laporan-laporan pertemuan terakhir datang setelah sumber-sumber diplomatik Mesir mengungkapkan bahwa Abdullah al-Thani, kepala pemerintah yang berafiliasi dengan Haftar timur Libya mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Mesir di Kairo pada Selasa.

Al-Thani dilaporkan bertemu dengan kepala Badan Intelijen Umum Mesir Abbas Kamel, dan Menteri Luar Negeri Sameh Shukri, membahas bagaimana melawan perjanjian keamanan dan ekonomi terbaru pemerintah Sarraj dengan Turki, yang telah ditentang keras oleh Mesir.

Langkah ini dilakukan di tengah laporan bahwa Mesir, UEA dan Arab Saudi meluncurkan upaya untuk menghidupkan kembali momentum LNA dengan menarik pengakuan Dunia Arab, Afrika, dan Dunia Islam atas Dewan Presiden yang didukung PBB dan yang dipimpin GNA di Libya, alih-alih mengakui Haftar dan parlemen berbasis di Tobruk sebagai pemerintah yang sah. (mdk/pan)

Baca juga:
TKW Asal Karawang Terdampar di Libya Diduga Jadi Korban Trafficking
Daftar Terbaru Negara-negara Paling Berbahaya di Dunia Bagi Wisatawan
Pemandangan Jalanan Perkotaan di Libya yang Penuh Sampah
Lima Muslimah Masuk Daftar Perempuan Berpengaruh Dunia
Libya Setujui Usul PBB Lakukan Gencatan Senjata Selama Idul Adha
Memahami Mengapa Upaya Kudeta di Venezuela Gagal

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.