Joshua Wong, Aktivis yang Rela Dipenjara Demi Cintanya terhadap Hong Kong

DUNIA | 18 Juni 2019 07:24 Reporter : Pandasurya Wijaya

Merdeka.com - Sehari setelah panitia demo mengatakan dua juta warga Hong Kong turun ke jalan untuk berunjuk rasa menentang undang-undang ekstradisi ke China, salah satu ikon pro-demokrasi dibebaskan dari penjara.

Joshua Wong, 22 tahun, kemarin keluar dari penjara setelah menjalani hukuman selama satu bulan karena demonstrasi pada 2014.

"Ini waktu yang tepat untuk bergabung dalam perjuangan demi kebebasan dan demokrasi," kata dia kepada CNN setelah dibebaskan. "Lima tahun lalu setelah Gerakan Payung, kami mengatakan kami akan kembali. Kemarin dua juta orang turun ke jalan. Ini menunjukkan warga Hong Kong sudah menyadari ini adalah perjuangan yang panjang."

Wong juga menyerukan tuntutan demonstran yang menginginkan pemimpin Hong Kong Carrie Lam mundur.

"Mengapa Carrie Lam harus menunggu penundaan undang-undang itu sampai satu juta orang turun ke jalan, itu karena dia tidak dipilih oleh rakyat Hong Kong. Ini saatnya dia turun," kata Wong, seperti dilansir laman CNN, Senin (17/6).

©AFP PHOTO/AARON TAM

Joshua Wong adalah sosok yang memimpin ratusan ribu warga Hong Kong untuk turun ke jalan selama dua bulan menyerukan pemilu yang bebas pada 2014. Usianya kala itu baru 17 tahun.

Wong memimpin demo Gerakan Payung, reaksi terhadap keputusan Beijing yang ingin mengatur pemilihan pemimpin Hong Kong.

Bersama teman kuliahnya, Nathan Law dan Alex Chow, Wong berorasi dan menyerukan pemogokan massal namun perjuangan mereka lima tahun lalu itu gagal.

Wong menarik perhatian dunia bak seorang Daud melawan Goliat dari Partai Komunis China. Dia bahkan dipuji dan dianggap sebagai sosok berpengaruh oleh majalah terkemuka Time, Fortune, dan Foreign Policy.

Wong juga menjadi tokoh dalam dokumenter di Netflix "Remaja vs Kekuasaan" yang dirilis pada 2017.

Wong adalah putra dari pasangan Grace dan Roger Wong, kelas menengah Hong Kong penganut Nasrani. Dia memulai kegiatan aktivisnya di usia 13 tahun dengan memprotes rencana pembangunan rel kereta cepat yang menghubungkan Hong Kong dengan China daratan.

Pada usia 15 tahun Wong berkampanye dan sukses membatalkan rencana program pendidikan nasional yang pro-China. Dia memimpin unjuk rasa sekitar 120 ribu orang yang memblokir gedung parlemen selama 10 hari.

Dengan kata lain, dia menjadi perintis metode berunjuk rasa dengan melakukan aksi damai di jalan tanpa kekerasan setelah sekian lama demonstrasi mengalami kegagalan.

Tapi aksinya itu diganjar hukuman. Jaksa menjebloskannya ke penjara dan juga para pemimpin demo lainnya.

Mei lalu dia dijatuhi hukuman dua bulan setelah mengakui bersalah karena menghalangi aparat dalam membubarkan tenda demonstrasi pada 2014.

Dia juga didakwa melakukan pelemparan batu terhadap halaman depan gedung pemerintahan dalam unjuk rasa 2014.

©AFP PHOTO

Bersama Nathan Law dan Alex Chow, Wong mendirikan partai politik Demosisto yang mengkampanyekan 'nasib Hong Kong harus ditentukan oleh orang Hong Kong' tapi bukan menuntut kemerdekaan. Misi itu jelas bertentangan dengan Beijing.

Wong berkukuh, orang Hong Kong harus menentukan masa depan kota mereka sendiri, bukan oleh para pejabat Partai Komunis China di Beijing.

Sejak demonstrasi Gerakan Payung, dia dilarang masuk ke Malaysia, Thailand, dan diserang di jalanan oleh orang-orang pro-China di Taiwan. Tapi Wong mengatakan dia pantang mundur.

Dalam sebuah artikel yang dia tulis untuk majalah Time pekan lalu dari penjara--di saat demonstran kembali turun ke jalan menentang undang-undang ekstradisi--Wong menulis: "Penjara adalah harga yang saya tahu harus saya bayar demi kota yang saya cintai."

Baca juga:
China Janji Tetap Dukung Pemimpin Hong Kong Meski Jutaan Demonstran Paksa Dia Mundur
Permintaan Maaf Pemimpin Hong Kong Ditolak Demonstran
Lelah Berunjuk Rasa, Warga Hong Kong Tidur di Jalanan
Didesak Turun 2 Juta Demonstran, Pemimpin Hong Kong Minta Maaf
Aksi Protes Jutaan Warga Tuntut Pemimpin Hong Kong Mundur
Aksi Warga Hong Kong Bersihkan Sisa Demo RUU Ekstradisi

(mdk/pan)